Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berevolusi untuk Mengudara, Apakah Burung Menikmati Terbang?

Berevolusi untuk Mengudara, Apakah Burung Menikmati Terbang?
Kakatua galah terbang di alam liar Australia. (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)
Intinya Sih
  • Peneliti Universitas Utrecht meneliti 17 kakatua galah di Vogelpark Avifauna untuk mengetahui apakah burung menikmati terbang, dengan memberi kebebasan memilih keluar kandang tanpa paksaan.
  • Hasil observasi menunjukkan burung yang sering terbang cenderung lebih optimis dan aktif mencari makan, menandakan efek positif terbang terhadap suasana hati mereka.
  • Studi menyimpulkan terbang berpengaruh baik bagi emosi burung dan memunculkan pertanyaan apakah ruang terbang bebas perlu dianggap kebutuhan dasar bagi burung peliharaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Burung suka terbang. Ke mana pun mata memandang, burung selalu ditemukan terbang. Terbang memang jadi metode lokomosi utama burung. Itulah yang paling membedakan burung dari hewan bertulang belakang lainnya.

Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya apakah burung menikmati terbang? Apakah burung merasakan sensasi kebahagiaan saat mengepakkan sayap di udara? Baru-baru ini, tim peneliti dari Belanda berhasil menguak faktanya.

1. Studi melibatkan burung kakatua galah

Kakatua galah membentangkan sayap.
Kakatua galah membentangkan sayap. (commons.wikimedia.org/Jim Bendon)

Untuk mencari tahu apakah burung benar-benar menikmati terbang, tim peneliti dari Universitas Utrecht, Belanda, mengajak 17 ekor burung kakatua galah (Eolophus roseicapilla) untuk berpartisipasi dalam demonstrasi terbang bebas di taman burung Vogelpark Avifauna. Demonstrasi ini dilakukan secara sukarela. Itu artinya burung-burung tidak dipaksa meninggalkan kandang dan tetap dapat makanan terlepas si burung memilih terbang atau tidak.

Hasilnya? Selama 68 hari gerbang kandang dibuka, burung kakatua galah hampir selalu memilih terbang. Setidaknya 15 dari 17 burung selalu terbang, sementara dua burung lain menetap di kandang sekali.

Lalu, untuk menilai keadaan emosional burung, tim menggunakan pendekatan yang didasarkan pada penelitian terhadap manusia. "Saat manusia mengalami emosi, respons mereka berubah. Misalnya, orang itu mungkin jadi lebih optimis, atau sebaliknya, lebih pesimis. Manusia juga menunjukkan perilaku berbeda dan bereaksi secara fisiologis terhadap emosi, misalnya dengan memproduksi hormon tertentu," terang Jorg Massen, ahli biologi perilaku sekaligus penulis utama studi, pada laman Phys.org.

2. Analisis menunjukkan perilaku optimis setelah terbang

Kawanan kakatua galah terbang di alam liar Australia.
Kawanan kakatua galah terbang di alam liar Australia. (commons.wikimedia.org/Jim Bendon)

Dari pengamatan, tim peneliti menemukan beberapa fakta. Satu kali terbang memang tidak menghasilkan perubahan langsung. Namun, burung-burung makin cenderung membuat pilihan optimis seiring dibiarkan terbang bebas selama beberapa hari berturut-turut.

Sebaliknya, burung-burung lebih cenderung membuat pilihan pesimis seiring menghabiskan beberapa hari berturut-turut tanpa terbang. Satu sesi terbang memang tidak menghasilkan perubahan emosional yang kuat pada burung. Namun, mengutip laman Rare Bird Alert, peneliti menyimpulkan kalau terbang mungkin memiliki efek kumulatif atau makin bertambah dan menumpuk pada suasana hati burung kakatua galah.

Selain itu, burung kakatua galah juga lebih sering menunjukkan perilaku mencari makan (foraging) setelah terbang. Menurut Jorg, ini perilaku yang sangat alami ditunjukkan hewan saat merasa nyaman. Hal ini dilakukan meski si burung telah makan dan karenanya tidak lapar.

Terdapat pula peningkatan perilaku mengangkat jambul dan menggaruk setelah terbang. Dikarenakan sedikit konflik diamati, pengangkatan jambul dianggap mencerminkan kegembiraan yang terkait dengan terbang alih-alih karena konflik. Sementara itu, menganalisis kadar hormon stres dianggap kurang ideal karena peningkatan kadar zat juga bisa naik akibat stres fisik setelah terbang.

3. Muncul pertanyaan baru yang perlu dipikir cermat

Kawanan kakatua galah terbang di alam liar Australia.
Kawanan kakatua galah terbang di alam liar Australia. (commons.wikimedia.org/Graham Winterflood)

Dengan menggabungkan hasil tersebut, tim peneliti menyimpulkan kalau terbang berdampak positif pada keadaan emosional burung kakatua galah. Keputusan hampir universal burung-burung untuk terbang menunjukkan motivasi kuat untuk melakukan perilaku tersebut. Hasil temuan dimuat dalam jurnal Behavior pada Juni 2026 lalu.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan lebih luas. Apakah terbang bebas harus dianggap sebagai kebutuhan perilaku mendasar bagi burung yang dipelihara di sangkar, bukan hanya sebagai bentuk pengkayaan diri (enrichment) bagi burung. Jorg menekankan untuk berpikir lebih cermat tentang bagaimana sangkar burung bisa menyediakan ruang yang cukup bagi burung untuk terbang.

Tim peneliti juga menekankan kalau ini baru langkah pertama dalam studi terbang dan emosi burung. Masih diperlukan studi pada jenis burung lain untuk mendapatkan wawasan lebih luas perkara hal ini. Misalnya pada burung pemangsa yang harus menghemat energi dan utamanya terbang untuk berburu, terbang mungkin tidak memberikan manfaat tambahan.

Bagaimana kalau menurut pandanganmu? Apakah burung benar-benar menikmati terbang? Apakah terbang perlu menjadi kebutuhan mendasar burung yang harus difasilitasi, utamanya bagi burung sangkar?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More