Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Bediding Bikin Pegunungan Lebih Dingin? Ini Alasan Ilmiahnya
ilustrasi pegunungan Jawa Tengah saat bediding (pexels.com/Ridwan Afriandy)
  • Bediding membuat pegunungan seperti Dieng, Bromo, Semeru, dan Rinjani sangat dingin pada malam hingga dini hari meski musim kemarau, akibat pelepasan panas permukaan yang cepat.
  • Langit cerah, udara kering dari muson timur, serta udara tipis di ketinggian mengurangi kemampuan atmosfer menyimpan panas, sehingga selisih suhu siang dan malam menjadi ekstrem.
  • Angin gunung dan inversi suhu mengumpulkan udara dingin dekat permukaan; kondisi ini dapat membentuk embun upas yang menarik bagi wisatawan, tetapi berisiko merusak tanaman petani.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Musim kemarau sering dikaitkan dengan cuaca yang terik dan suhu udara yang tinggi. Namun, anggapan itu tidak selalu berlaku di kawasan pegunungan Indonesia. Saat sebagian besar wilayah mengalami hari-hari yang cerah dan panas, daerah seperti Dieng, Bromo, Semeru, hingga Rinjani justru bisa diselimuti udara yang sangat dingin, terutama pada malam hingga dini hari. Fenomena ini dikenal masyarakat Jawa dengan istilah bediding.

Sekilas, kondisi tersebut terdengar bertolak belakang. Bagaimana mungkin musim yang identik dengan panas justru menghadirkan hawa menusuk hingga embun membeku? Jawabannya berkaitan dengan cara Bumi melepaskan panas, karakteristik udara pegunungan, serta kondisi atmosfer selama musim kemarau. Berikut tujuh penjelasan ilmiah yang membuat bediding terasa jauh lebih ekstrem di dataran tinggi. Yuk, kita telusuri!

1. Langit cerah membuat panas bumi lebih cepat menghilang

ilustrasi bediding di pegunungan Bali (pexels.com/Tom Fisk)

Musim kemarau identik dengan langit yang lebih cerah, karena jumlah awan jauh berkurang dibandingkan musim hujan. Kondisi ini memang membuat sinar matahari lebih leluasa mencapai permukaan bumi pada siang hari, sehingga udara terasa terik. Namun, ketika matahari terbenam, situasinya justru berbalik. Tanpa lapisan awan yang menyelimuti atmosfer, panas yang tersimpan di permukaan tanah akan lebih mudah dipancarkan kembali ke angkasa dalam bentuk radiasi inframerah.

Awan sebenarnya berperan layaknya selimut alami. Selain memantulkan sebagian sinar matahari, awan juga menahan sebagian panas yang dipancarkan bumi agar tidak langsung lepas ke luar angkasa. Ketika langit cerah, “selimut” tersebut menghilang sehingga proses pendinginan berlangsung jauh lebih cepat. Fenomena ini dikenal sebagai radiative cooling atau pendinginan akibat pelepasan radiasi.

Akibatnya, suhu udara di kawasan pegunungan seperti Dieng, Bromo, Semeru, hingga Rinjani dapat turun drastis hanya dalam beberapa jam setelah senja. Itulah sebabnya siang hari terasa hangat, tetapi menjelang dini hari udara berubah sangat dingin meski sedang berada di puncak musim kemarau.

2. Udara pegunungan lebih tipis sehingga sulit menyimpan panas

ilustrasi bediding di pegunungan Jawa Barat (pexels.com/Yoan Siswaya)

Selain dipengaruhi oleh langit yang cerah, suhu dingin saat bediding juga berkaitan erat dengan ketinggian suatu wilayah. Daerah seperti Dieng berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, sedangkan Gunung Bromo, Semeru, dan Rinjani bahkan memiliki kawasan yang jauh lebih tinggi. Semakin tinggi suatu tempat, tekanan udara akan semakin rendah dan molekul udara menjadi lebih renggang.

Udara yang lebih tipis memiliki kemampuan lebih kecil untuk menyerap dan menyimpan energi panas. Karena jumlah molekul udaranya lebih sedikit, panas dari permukaan bumi tidak dapat dipertahankan dalam waktu lama. Akibatnya, suhu udara di pegunungan lebih cepat turun begitu matahari terbenam, dibandingkan dengan daerah dataran rendah yang memiliki lapisan udara lebih rapat.

Prinsip ini juga menjelaskan mengapa suhu rata-rata menurun seiring bertambahnya ketinggian. Dalam kondisi normal, temperatur udara turun sekitar 6,5 derajat celsius setiap kenaikan 1.000 meter di atmosfer. Itulah sebabnya kawasan pegunungan Indonesia dapat terasa sangat dingin pada malam hari, meskipun negara ini berada di wilayah tropis yang dikenal hangat sepanjang tahun.

3. Udara kering saat kemarau membuat panas lebih cepat hilang

ilustrasi udara kering di pegunungan saat bediding (pexels.com/TIORHISTA R)

Musim kemarau tidak hanya ditandai oleh minimnya hujan, tetapi juga oleh tingkat kelembapan udara yang lebih rendah. Pada periode ini, angin muson timur membawa massa udara yang relatif kering dari benua Australia menuju Indonesia. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer ternyata menjadi salah satu faktor penting yang membuat malam hari di pegunungan terasa jauh lebih dingin.

Uap air merupakan salah satu gas yang mampu menyerap dan memancarkan kembali radiasi panas dari permukaan bumi. Dengan kata lain, uap air membantu “menyimpan” sebagian panas di atmosfer sehingga suhu tidak turun terlalu drastis pada malam hari. Ketika udara menjadi lebih kering, kemampuan atmosfer untuk mempertahankan panas pun ikut berkurang. Akibatnya, energi panas lebih mudah lolos ke angkasa dan proses pendinginan berlangsung lebih cepat.

Kombinasi udara yang kering, langit yang cerah, dan ketinggian wilayah menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya bediding. Inilah alasan mengapa udara di Dieng, Bromo, Semeru, atau Rinjani dapat berubah dari hangat pada siang hari menjadi sangat dingin menjelang Subuh, meskipun Indonesia sedang berada di puncak musim kemarau.

4. Angin gunung membantu menyebarkan udara dingin

ilustrasi angin di gunung bantu penyebaran bediding (pexels.com/Nurul Sakinah Ridwan)

Ketika malam tiba, permukaan lereng gunung kehilangan panas lebih cepat dibandingkan udara di atasnya. Akibatnya, udara yang bersentuhan langsung dengan lereng ikut mendingin, menjadi lebih padat, lalu bergerak menuruni lereng karena pengaruh gravitasi. Fenomena ini dikenal sebagai angin gunung (mountain breeze) dan merupakan bagian dari sirkulasi udara alami di wilayah pegunungan.

Aliran udara dingin tersebut terus mengalir menuju lembah dan dataran yang lebih rendah. Semakin lama malam berlangsung, semakin banyak udara dingin yang terkumpul di kawasan tertentu sehingga suhu di sekitar permukaan tanah terus menurun. Jika kondisi atmosfer stabil dan angin tidak terlalu kencang, udara dingin dapat bertahan selama berjam-jam hingga menjelang matahari terbit.

Karena itulah, pendaki maupun wisatawan di kawasan seperti Bromo, Semeru, Rinjani, dan Dataran Tinggi Dieng sering merasakan udara yang jauh lebih menusuk pada dini hari dibandingkan saat awal malam. Angin gunung bukan sekadar embusan angin biasa, melainkan mekanisme alam yang membantu mendistribusikan udara dingin sehingga fenomena bediding terasa semakin ekstrem selama musim kemarau.

5. Inversi suhu memerangkap udara dingin di dekat permukaan

ilustrasi inversi suhu di pegunungan membuat lebih dingin (pexels.com/Nurul Sakinah Ridwan)

Dalam kondisi normal, suhu udara akan semakin rendah seiring bertambahnya ketinggian. Namun, saat bediding terjadi, pola tersebut bisa berubah untuk sementara. Permukaan tanah yang telah kehilangan banyak panas sepanjang malam membuat lapisan udara tepat di atasnya menjadi lebih dingin dibandingkan udara pada lapisan yang lebih tinggi. Fenomena ini dikenal sebagai inversi suhu (temperature inversion).

Inversi suhu menciptakan semacam “tutup” alami di atmosfer yang menghambat percampuran udara. Akibatnya, udara dingin tetap terperangkap di dekat permukaan tanah, sementara udara yang sedikit lebih hangat berada di atasnya. Kondisi ini membuat suhu di kawasan pegunungan terus menurun hingga menjelang fajar, terutama ketika langit cerah dan kecepatan angin relatif rendah.

Fenomena inversi suhu juga menjadi salah satu alasan mengapa embun mudah terbentuk saat dini hari. Jika suhu permukaan turun hingga mendekati atau bahkan di bawah titik beku, butiran embun dapat berubah menjadi kristal es tipis yang dikenal sebagai embun upas. Itulah sebabnya, pada musim bediding, hamparan tanaman di Dieng terkadang tampak seolah-olah diselimuti salju, padahal yang terlihat sebenarnya adalah embun yang membeku.

6. Bediding dapat memicu munculnya embun upas

ilustrasi embun upas saat bediding (pexels.com/Christina & Peter)

Salah satu fenomena paling ikonik yang muncul saat bediding adalah embun upas, yaitu lapisan kristal es tipis yang terbentuk di permukaan rumput, daun, atau tanaman. Embun ini bukan berasal dari salju seperti yang terjadi di negara empat musim, melainkan dari uap air di udara yang mengembun lalu membeku karena suhu permukaan turun hingga mendekati atau berada di bawah 0 derajat celsius.

Kemunculan embun upas membutuhkan kombinasi kondisi yang sangat spesifik, seperti langit cerah, udara kering, angin yang lemah, dan suhu malam yang sangat rendah. Semua syarat tersebut sering terpenuhi di dataran tinggi Indonesia selama musim kemarau. Itulah sebabnya fenomena ini paling sering dilaporkan di Dataran Tinggi Dieng, meski juga berpotensi terjadi di kawasan pegunungan lain yang memiliki karakteristik serupa.

Bagi wisatawan, embun upas menjadi daya tarik karena menciptakan pemandangan yang tampak seperti hamparan salju. Namun, bagi petani, fenomena ini justru dapat menjadi ancaman. Kristal es yang menempel pada permukaan tanaman mampu merusak jaringan daun, menghambat proses fotosintesis, bahkan menyebabkan tanaman hortikultura seperti kentang, kubis, dan wortel mengalami kerusakan hingga gagal panen jika berlangsung cukup lama.

7. Perbedaan suhu siang dan malam menjadi sangat ekstrem

ilustrasi perbedaan suhu siang dan malam yang ekstrem saat bediding (pexels.com/Anna Stepko)

Salah satu ciri khas bediding adalah besarnya selisih suhu antara siang dan malam, atau yang dalam klimatologi dikenal sebagai amplitudo suhu harian. Pada siang hari, langit yang cerah memungkinkan sinar matahari memanaskan permukaan tanah secara maksimal hingga udara terasa hangat, bahkan cukup terik. Namun, begitu malam tiba, panas tersebut dengan cepat menghilang ke atmosfer, karena minimnya awan dan rendahnya kelembapan udara.

Perubahan suhu yang drastis ini membuat seseorang bisa merasakan dua kondisi cuaca yang sangat berbeda dalam satu hari. Wisatawan yang berkunjung ke Dieng, Bromo, Semeru, atau Rinjani kerap hanya mengenakan pakaian tipis saat siang karena cuaca terasa nyaman. Akan tetapi, menjelang tengah malam hingga dini hari, suhu dapat turun hingga mendekati titik beku di beberapa lokasi sehingga jaket tebal, sarung tangan, dan penutup kepala menjadi perlengkapan yang sangat dibutuhkan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bediding bukanlah anomali cuaca, melainkan hasil dari interaksi berbagai proses alam, mulai dari radiasi panas, ketinggian wilayah, kelembapan udara, sirkulasi angin, hingga inversi suhu. Selama musim kemarau masih berlangsung dan kondisi atmosfer tetap mendukung, udara dingin di kawasan pegunungan akan terus menjadi bagian dari siklus alam yang berulang setiap tahun.

Fenomena bediding membuktikan bahwa cuaca tidak hanya ditentukan oleh musim, tetapi juga oleh interaksi berbagai faktor alam seperti ketinggian wilayah, kelembapan udara, tutupan awan, arah angin, hingga proses perpindahan panas di atmosfer. Karena itu, tidak mengherankan jika kawasan pegunungan Indonesia justru mengalami malam yang sangat dingin saat musim kemarau, meski siang harinya tetap diselimuti sinar Matahari yang terik.

Memahami penyebab bediding membuat kita semakin menyadari betapa dinamisnya sistem iklim di bumi. Di balik udara dingin yang menusuk, tersimpan proses ilmiah yang berlangsung setiap hari tanpa kita sadari. Jadi, jika suatu saat berkunjung ke Dieng, Bromo, Semeru, atau Rinjani saat musim kemarau, jangan hanya menyiapkan kamera untuk menikmati pemandangan, tetapi juga pakaian hangat agar bisa menikmati keindahan alam tanpa kedinginan.

Referensi

Berry, G. J., & Reeder, M. J. (2015). “The Dynamics of Australian Monsoon Bursts”. Journal of the Atmospheric Sciences, Vol. 73(1): 150921125523004.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (2026). “Peneliti BRIN Jelaskan Fenomena Embun Es di Dieng saat Puncak Musim Kemarau”. News Article.

Iijima, Y., & Shinoda, M. (2002). “The Influence of Seasonally Varying Atmospheric Characteristics on the Intensity of Nocturnal Cooling in a High Mountain Hollow”. Journal of Applied Meteorology, Vol. 41: 734—743.

Iis Widya Harmoko. (2021). “Mencermati Periode Terjadinya Embun Upas dan Bediding”. Article of BMKG.

John Staughton. (2026). “What Is A Temperature Inversion?”. Article of ScienceABC.

Kirsty McCabe. (2026). “Anabatic and Katabatic Flow: The MetMatters Guide to Mountain Winds”. Article of Royal Meteorological Society.

National Geographic Society. (2025). “Altitude”. Article.

Wang, Y., et al. (2026). “The Dynamic Influence of Mountain–Valley Breeze Circulation on Wildfire Spread in the Greater Khingan Mountains”. Fire, Vol. 9(16): 1—17.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article