ilustrasi perbedaan suhu siang dan malam yang ekstrem saat bediding (pexels.com/Anna Stepko)
Salah satu ciri khas bediding adalah besarnya selisih suhu antara siang dan malam, atau yang dalam klimatologi dikenal sebagai amplitudo suhu harian. Pada siang hari, langit yang cerah memungkinkan sinar matahari memanaskan permukaan tanah secara maksimal hingga udara terasa hangat, bahkan cukup terik. Namun, begitu malam tiba, panas tersebut dengan cepat menghilang ke atmosfer, karena minimnya awan dan rendahnya kelembapan udara.
Perubahan suhu yang drastis ini membuat seseorang bisa merasakan dua kondisi cuaca yang sangat berbeda dalam satu hari. Wisatawan yang berkunjung ke Dieng, Bromo, Semeru, atau Rinjani kerap hanya mengenakan pakaian tipis saat siang karena cuaca terasa nyaman. Akan tetapi, menjelang tengah malam hingga dini hari, suhu dapat turun hingga mendekati titik beku di beberapa lokasi sehingga jaket tebal, sarung tangan, dan penutup kepala menjadi perlengkapan yang sangat dibutuhkan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bediding bukanlah anomali cuaca, melainkan hasil dari interaksi berbagai proses alam, mulai dari radiasi panas, ketinggian wilayah, kelembapan udara, sirkulasi angin, hingga inversi suhu. Selama musim kemarau masih berlangsung dan kondisi atmosfer tetap mendukung, udara dingin di kawasan pegunungan akan terus menjadi bagian dari siklus alam yang berulang setiap tahun.
Fenomena bediding membuktikan bahwa cuaca tidak hanya ditentukan oleh musim, tetapi juga oleh interaksi berbagai faktor alam seperti ketinggian wilayah, kelembapan udara, tutupan awan, arah angin, hingga proses perpindahan panas di atmosfer. Karena itu, tidak mengherankan jika kawasan pegunungan Indonesia justru mengalami malam yang sangat dingin saat musim kemarau, meski siang harinya tetap diselimuti sinar Matahari yang terik.
Memahami penyebab bediding membuat kita semakin menyadari betapa dinamisnya sistem iklim di bumi. Di balik udara dingin yang menusuk, tersimpan proses ilmiah yang berlangsung setiap hari tanpa kita sadari. Jadi, jika suatu saat berkunjung ke Dieng, Bromo, Semeru, atau Rinjani saat musim kemarau, jangan hanya menyiapkan kamera untuk menikmati pemandangan, tetapi juga pakaian hangat agar bisa menikmati keindahan alam tanpa kedinginan.
Referensi
Berry, G. J., & Reeder, M. J. (2015). “The Dynamics of Australian Monsoon Bursts”. Journal of the Atmospheric Sciences, Vol. 73(1): 150921125523004.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (2026). “Peneliti BRIN Jelaskan Fenomena Embun Es di Dieng saat Puncak Musim Kemarau”. News Article.
Iijima, Y., & Shinoda, M. (2002). “The Influence of Seasonally Varying Atmospheric Characteristics on the Intensity of Nocturnal Cooling in a High Mountain Hollow”. Journal of Applied Meteorology, Vol. 41: 734—743.
Iis Widya Harmoko. (2021). “Mencermati Periode Terjadinya Embun Upas dan Bediding”. Article of BMKG.
John Staughton. (2026). “What Is A Temperature Inversion?”. Article of ScienceABC.
Kirsty McCabe. (2026). “Anabatic and Katabatic Flow: The MetMatters Guide to Mountain Winds”. Article of Royal Meteorological Society.
National Geographic Society. (2025). “Altitude”. Article.
Wang, Y., et al. (2026). “The Dynamic Influence of Mountain–Valley Breeze Circulation on Wildfire Spread in the Greater Khingan Mountains”. Fire, Vol. 9(16): 1—17.