Burung enggang (commons.wikimedia.org/Karishma8)
Perkembangbiakan enggang memiliki mekanisme yang cukup khas. Pada sejumlah jenis, setelah betina masuk ke dalam lubang, celah masuk kemudian dipersempit menggunakan campuran lumpur, kotoran, dan material lain sehingga hanya menyisakan bukaan kecil. Selama periode ini, betina berada di dalam lubang untuk mengerami telur dan merawat anak, sedangkan jantan bertugas membawa makanan dari luar.
Cara tersebut membuat posisi lubang dan bagian batang di sekitarnya harus mampu menunjang aktivitas kedua induk. Jantan membutuhkan dahan atau bonggol yang cukup kuat sebagai tempat mendarat ketika membawa makanan ke sarang. Dari tempat tersebut, makanan diberikan melalui celah kecil kepada betina dan kemudian kepada anak setelah menetas. Jadi, pohon sarang berfungsi sekaligus sebagai ruang pengeraman, tempat perlindungan anak, dan titik pemberian makanan selama periode ketika betina tidak keluar dari lubang.
Burung enggang bergantung pada pohon tua untuk bereproduksi karena ia butuh lubang alami yang digunakan buat berkembang biak. Jika lubang yang sesuai semakin sedikit, pasangan enggang harus bersaing untuk mendapatkan tempat bersarang atau menunggu lebih lama sampai tersedia lokasi yang cocok. Kondisi ini dapat memengaruhi keberhasilan reproduksi karena pasangan tidak bisa begitu saja mengganti lubang alami dengan membuat sarang baru di tempat lain.
Referensi
"Factors influencing the reproduction of Asian Hornbills." Kasetsart University. Diakses pada Agustus 2026.
"Why Do Trees Matter in Protecting Hornbills and Our Ecosystem?" Grow Trees. Diakses pada Agustus 2026.