Mengapa Asap Kebakaran Hutan Bisa Menyebar Begitu Jauh?

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan semakin menarik perhatian banyak pihak. Bukan hanya pemerintah Indonesia, tetapi kabar ini juga menjadi perhatian negara tetangga Malaysia. Terbaru, pemerintah Malaysia dan Brunei bahkan mengirimkan protes serta catatan diplomatik. Kenapa bisa begitu?
Masalahnya, saat kebakaran melanda, kebakaran tersebut bukan hanya menghanguskan hutan dan merusak ekosistem di dalamnya. Lebih dari itu, kebakaran yang terjadi juga menghasilkan asap. Gak hanya berdiam di satu wilayah, asap kebakaran hutan dapat terbawa hingga ribuan kilometer jauhnya dari zona kebakaran. Bagaimana itu bisa terjadi? Berikut penjelasannya!
1. Asap kebakaran mengandung partikel-partikel halus

ilustrasi asap hasil kebakaran hutan (unsplash.com/Marcus Kauffman) Bagi mata kita, asap hasil dari kebakaran hutan gak berbeda dengan asap lain yang muncul dari peristiwa lain. Namun, asap kebakaran hutan sebenarnya terdiri dari campuran kompleks antara gas, partikel kimia, dan uap air yang mengandung metana, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, karbon monoksida, ozon, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), serta partikel halus PM2.5. Dilansir Government of Canada, PM2.5 merupakan partikel kecil yang memiliki diameter 2,5 mikrometer.
Mengingat ukurannya yang sangat kecil, partikel ini memang gak terlihat oleh mata kita. Meski begitu, partikel PM2.5 membentuk sekitar 90 persen dari total massa partikel yang dikeluarkan oleh kebakaran hutan. Gak sampai di sana, partikel ini juga dianggap sebagai polutan paling berbahaya.
Ini karena ukurannya yang kecil memungkinkan partikel bisa lolos melewati beberapa pertahanan alami tubuh, lalu masuk ke saluran pernapasan dan aliran darah. Dalam jangka pendek, paparan partikel halus PM2.5 dapat menyebabkan serangan asma, bronkitis akut, dan iritasi mata. Bagi mereka yang memiliki penyakit paru-paru, partikel PM2.5 juga dapat memperburuk penyakit paru-paru dan pernapasan lainnya.
2. Mengapa asap kebakaran hutan bisa menyebar begitu jauh?

ilustrasi asap kebakaran hutan yang menyebar ke area sekitarnya (unsplash.com/Malachi Brooks) Ketika kebakaran hutan terjadi, masalahnya bukan hanya pada sejumlah titik api yang harus dipadamkan. Lebih dari itu, asap yang muncul juga bisa menyebar hingga lokasi yang jauh dari zona merah. Namun, mengapa asap kebakaran bisa menyebar begitu jauh? Dilansir Western Fire Chiefs Association, ini karena partikel-partikel halus asap dapat terangkat ke atmosfer oleh panas dan arus udara ke atas (updraft), lalu terbawa angin hingga jarak yang cukup jauh.
Dalam sebuah kebakaran besar, asap dapat naik hingga ketinggian 8,05 kilometer dan mencapai bagian atas troposfer yang merupakan bagian atmosfer terendah, sebelum akhirnya menyebar ke area sekitarnya. Sebenarnya, seberapa tinggi partikel dapat bergerak sangat tergantung pada banyak faktor, mulai dari seberapa besar dan kuat api yang membakar hutan, kondisi cuaca, pola angin, serta medan sekitar lokasi kebakaran. Dalam beberapa kasus, partikel halus asap bisa mencapai stratosfer yang berada di ketinggian 18 sampai 50 kilometer dari permukaan Bumi.
3. Berapa lama asap kebakaran hutan bertahan di udara

ilustrasi pesawat yang sedang memadamkan kebakaran hutan (unsplash.com/Matt Palmer) Asap hasil kebakaran hutan paling berbahaya selama pembakaran masih terjadi. Itu artinya, sejumlah besar asap akan terus dilepaskan ke atmosfer. Namun, setelah kebakaran berhasil dipadamkan, bukan berarti asapnya juga akan otomatis hilang. Umumnya, asap hasil kebakaran hutan bisa bertahan di udara selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.
Dilansir Discover Magazine, terdapat setidaknya dua faktor yang memengaruhi seberapa lama asap akan bertahan. Faktor pertama adalah cuaca. Jika hujan turun tak lama setelah kebakaran terjadi, misalnya, asap akan menghilang dalam waktu relatif cepat. Ini karena banyak partikel dan gas diserap ke dalam awan, lalu dibawa kembali ke permukaan Bumi melalui tetesan hujan.
Selain cuaca, seberapa tinggi asap naik ke lapisan atmosfer juga memengaruhi. Asap yang naik ke atmosfer yang lebih tinggi, seperti stratosfer, akan bertahan lebih lama. Ketiadaan awan hujan membuat partikel gas dan debu sulit turun kembali ke Bumi. Selain itu, embusan angin kencang juga dapat membawa partikel-partikel tersebut bergerak cepat ke daerah lain dan akhirnya bertahan selama berminggu-minggu.
Kebakaran hutan bukan hanya menghanguskan pohon-pohon dan merusak ekosistem di dalamnya. Lebih dari itu, asap yang dihasilkan juga akan menyebabkan masalah baru. Bukan hanya berdampak bagi wilayah sekitar kebakaran, wilayah lain yang berada jauh dari pusat kebakaran pun bisa ikut kena dampaknya.




















