4 Burung di Taman Nasional Way Kambas, Mayoritas Terancam Populasinya

- Taman Nasional Way Kambas di Lampung, pusat perlindungan gajah sumatra sejak 1985, juga menjadi habitat beragam burung seperti kuau raja, bangau tongtong, pecuk ular asia, dan sempidan biru.
- Bangau tongtong berstatus rentan dan dilindungi di Indonesia; populasinya terdampak degradasi habitat serta konversi lahan, dengan catatan populasi nasional 2003 tidak lebih dari 2.000 ekor.
- Pecuk ular asia berstatus hampir terancam akibat alih fungsi lahan dan perburuan, sedangkan sempidan biru rentan karena kebakaran hutan, perburuan liar, serta perdagangan.
Di pulau Sumatra tepatnya di Provinsi Lampung terdapat Taman Nasional Way Kambas merupakan pusat perlindungan dan pelatihan gajah sumatra pertama di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1985.
Tempat tersebut seperti taman nasional lainnya yang menghimpun dan melestarikan para hewan. Di Way Kambas juga menampung banyak sekali hewan. Satwa utamanya adalah harimau sumatra, badak sumatra, tapir, beruang madu dan gajah sumatra.
Sementara itu satwa lain di sini yang bakal kita jadikan topik pembahasan kali ini yakni beragam spesies burung. Simak sekarang ya.
1. Kuau Raja

Kuau raja (commons.wikimedia.org/Francesco Veronesi) Di Taman Nasional Way Kambas, kuau raja tersebar di kawasan pesisir dan hutan. Kuau raja pertama kali diidentifikasikan oleh seorang ilmuwan dan peletak dasar tatanama biologi bernama Carolus Linnaeus asal Swedia.
Burung eksotis ini memiliki jambul dan bulu tengkuk berwarna hitam di atas kepalanya. Rupa menonjolnya terdapat motif bulat-bulan yang menyerupai mata dan dua helai bulu panjang pada ekornya berukuran 1 m.
Jantan dewasa memiliki bulu sekunder pada delapan sayap sangat panjang dengan motif bintik besar kuning kehitaman. Sedangkan betina dewasa mempunyai bulu sekunder di sayapnya.
Kuau raja tidak bisa terbang jauh, namun kekurangannya ini diimbangi dengan kemampuan berlarinya sangat baik. Mereka juga melompat saat berpindah tempat ke dahan-dahan pohon.
2. Bangau tongtong

Bangau tongtong (commons.wikimedia.org/Sakti Xeno) Di wilayah pesisir Taman Nasional Way Kambas, kamu bisa melihat bangau tongtong bertengger. Bangau tongtong menarik perhatian orang-orang karena bentuk kepalanya yang botak.
Dilansir laman greeners, populasi bangau tongtong di Indonesia pada 2003 tidak lebih dari 2.000 ekor. Sebab, burung ini mengalami degradasi habitat dan konversi lahan.
Warna bangau tongtong didominasi oleh hitam, putih dan metalik. Paruhnya berwarna kuning suram dan coklat muda, lehernya kuning kehitaman serta hijau pada sayap, punggung dan ekornya.
Di Indonesia, bangau tongtong tercatat sebagai spesies yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. IUCN menyatakan bahwa bangau tongtong berstatus kelangkaan rentan.
3. Pecuk ular asia

Pecuk ular asia (commons.wikimedia.org/J.M.Garg) Burung dengan leher seperti ular ini, tersebar di pesisir Taman Nasional Way Kambas bernama pecuk ular asia. Cara mengenalinya dengan melihat kepala dan lehernya yang coklat, strip berwarna putih pada dagu hingga leher serta paruh runcingnya berwarna kuning kecoklatan.
Keunggulan pecuk ular asia adalah mampu menyelam dan tinggal di bawah air dalam waktu yang lama. Kedua, mampu mereduksi daya apung sehingga hanya kepalanya yang terlihat pada saat berenang dan mencari makan.
Sayangnya, pecuk ular asia termasuk dalam kategori hampir terancam oleh IUCN. Hal ini dikarenakan berkurangnya habitat secara drastis akibat ahli fungsi lahan. Alasan lain terkait perburuan oleh manusia yang cukup tinggi.
4. Sempidan biru

Sempidan biru (commons.wikimedia.org/Лариса Артемьева) Di kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas terdapat sempidan biru. Sempidan biru adalah sejenis ayam pegar berukuran sedang termasuk dalam famili phasianidae dengan ciri utama berwarna biru.
Bulunya dominan hitam kebiruan, wajah biru polos seperti topeng, punggung coklat kemerahan, iris mata merah dengan jambul gelap seperti merak. Ekor burung ini berwarna putih di bagian tengahnya dan kakinya berwarna merah.
Pada 2020, IUCN merilis status sempidan biru sebagai rentan. Alasannya beragam mulai dari habitatnya yang mengalami kebakaran hutan, perburuan liar dan diperjualbelikan karena bentuknya yang eksotis.
Burung yang masuk list pembahasan sebenarnya bukan endemik Sumatra bahkan Taman Nasional Way Kambas, lho Sempidan biru dan kuau raja tersebar di Asia Tenggara. Pecuk ular asia dan bangau tongtong hidup di Asia Tenggara dan Selatan. Dari bentuk burung ini, mayoritas memukau mata kita.



















