Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Burung Pelatuk Tidak Gegar Otak meski Suka Mematuk Kayu?

Mengapa Burung Pelatuk Tidak Gegar Otak meski Suka Mematuk Kayu?
Burung pelatuk (unsplash.com/Daniel)
Intinya Sih
  • Burung pelatuk mampu mematuk hingga 12.000 kali sehari tanpa cedera berkat struktur tubuh unik yang meredam benturan ekstrem saat mencari serangga di batang pohon.
  • Tulang hyoid berbentuk tanduk berfungsi seperti sabuk pengaman elastis yang melingkari tengkorak, menyerap guncangan kuat setiap kali burung pelatuk mematuk kayu.
  • Desain paruh asimetris dan ukuran otak kecil membantu mengurangi risiko gegar otak, sementara perubahan sudut patukan menjaga distribusi tekanan tetap aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana ajaibnya burung pelatuk yang mematuk pohon berulang-ulang tanpa gegar otak sedikit pun? Burung pelatuk melakukan kegiatan tersebut demi mencari makan berupa serangga.

Ia juga dapat mematuk hingga 12.000 kali sehari, kepalanya bergerak dengan kecepatan 24 km/jam. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa burung pelatuk tidak mengalami gegar otak permanen setelah hanya satu kali mematuk? Nah, pada artikel ini akan dibahas lebih dalam seputar anatomi burung pelatuk dan alasan mengapa burung pelatuk tidak gegar otak meski suka mematuk kayu.

1. Tanduk tulang hyoid pada burung pelatuk

Burung pelatuk
Burung pelatuk (pexels.com/Ray)

Burung pelatuk termasuk dari keluarga Picidae. Kelompok burung ini tersebar di berbagai penjuru dunia kecuali Australia, Nugini, Selandia Baru, Madagaskar, dan daerah kutub.

Sesuai dengan namanya, burung pelatuk sangat populer karena kemampuannya mematuk batang atau dahan pohon untuk membuat lubang demi menangkap serangga dan mengekstrak getah. Mereka mampu melakukan itu semua tanpa menyakiti diri atau merasa terlukai.

Diketahui, burung pelatuk punya bulu ekor dan kuku yang kuat, sehingga mereka mampu terbang dan menyeimbangkan tubuh mereka ketika paruhnya mematuki batang pohon dengan kecepatan 7 meter per detik. Saat paruh mereka menyerang, kepalanya melambat sekitar 1.200 kali gaya gravitasi. Semua ini terjadi tanpa menyebabkan kehilangan kesadaran atau kerusakan otak.

Tubuh burung pelatuk dilengkapi dengan tulang hyoid yang membantu menopang lidah burung pelatuk. Tulang inilah yang berperan penting dalam meredam benturan pada tengkorak saat burung pelatuk sibuk memukulkan paruhnya dengan keras ke kayu.

Diketahui, burung pelatuk tidak mengalami cedera kepala pada kecepatan tinggi 6-7 m/s dengan perlambatan 1000 g saat memukul batang pohon. Sungguh kekuatan yang luar biasa, yang mana kekuatan seperti itu tidak hanya menyebabkan gegar otak dan sakit kepala hebat pada sebagian besar tulang belakang, tetapi hampir mengakibatkan cedera otak permanen. Tulang hyoid sendiri terletak di leher dan terdapat pada semua tulang belakang. Tulang ini terdiri dari tulang rawan, tulang, dan jaringan ikat yang membantu menopang otot lidah.

Pada manusia, ukurannya cukup kecil dan berbentuk seperti huruf 'U'. Namun, pada burung, strukturnya lebih kompleks. Hyoid burung memiliki dua lengan yang memanjang dan membentang di sekeliling tulang tengkorak hingga ujung lidah, atau disebut sebagai 'tanduk hyoid'.

Tanduk tulang hyoid pada burung pelatuk sangat panjang dan mendorong lidah keluar dari paruhnya saat bergerak maju. Artinya, burung pelatuk dapat menjulurkan lidahnya jauh ke dalam lubang pohon dan celah di kulit kayu dan demikian berhasil memakan serangga yang bersembunyi di habitat tersebut. Tanduk tulang hyoid juga melingkari tengkorak, menjaga struktur tulang hyoid tetap pada tempatnya, ibaratkan seperti sabuk pengaman atau pengikat.

Uniknya lagi, tanduk tulang hyoid bekerja ketika lidah tidak sibuk memangsa serangga. Ibaratnya, sama seperti peredam kejut yang membuat sepeda lebih nyaman saat dikendarai, begitupun hyoid pada burung pelatuk yang mampu melindungi tengkorak dari kekuatan benturan. Struktur tersebut sangat elastis, sehingga ketika keadaan istirahat, ia terbungkus di sekitar tengkorak, seperti sebuah bantalan elastis dan pelindung untuk otak.

Tulang hyoid juga menunjukkan bahwa tulang tersebut merupakan struktur beruas dan memiliki inti bagian dalam yang keras dengan lapisan luar yang lebih fleksibel. Ditemukan juga bahwa area posterior tulang hyoid memiliki resistensi terendah terhadap pembengkokan, yang menunjukkan bahwa area tersebut sangat fleksibel dan memang dirancang sempurna untuk meredam benturan.

2. Burung pelatuk mengubah sudutnya setiap kali mematuk

Burung pelatuk
Burung pelatuk (unsplash.com/Hans)

Burung pelatuk sedikit mengubah sudutnya setiap kali mematuk untuk mengubah arah benturan pada tubuh mereka. Burung ini berpegangan pada kulit pohon menggunakan ekor dan kakinya yang kuat, yang juga mengurangi dampak dari pemukulan tersebut. Uniknya, tidak semua jenis pohon akan dipatuk oleh mereka. Burung pelatuk memilih pohon kayu keras dengan kulit kayu yang lunak, seperti aspen, birch, atau cottonwood. Ini membantu burung mempertahankan pemukulan yang cepat dan efisien.

Mereka berkomunikasi satu sama lain dengan "menabuh" pohon. Suara mereka dapat mengindikasikan bahwa mereka sedang mencari pasangan atau menandai wilayah mereka. Selain itu, burung pelatuk dapat mengebor lubang untuk bersarang di pohon yang mati atau sekarat.

3. Burung pelatuk memiliki otak yang kecil

Burung pelatuk
Burung pelatuk (pexels.com/Tom Fisik)

Tidak hanya tulang hyoid, burung pelatuk juga lihai menggunakan paruhnya. Mereka melakukannya dengan cara yang meminimalkan dampak pada area otak tertentu yang lebih rentan. Desain paruhnya juga membantu, dengan paruh atas sedikit lebih panjang dan lebih keras daripada paruh bawah. Ini memberikan semacam perlindungan terhadap gigitan yang lebih kuat, dan paruh atas yang sangat keras membantu menyerap benturan.

Lebih dari itu, burung pelatuk dianugerahi otak yang sangat kecil, diperkirakan hanya 0,07 ons. Semakin besar otaknya, semakin tinggi massanya, artinya semakin tinggi pula risiko cedera. Faktor lain yang melindungi kepala burung pelatuk adalah waktu kontak antara pohon dan paruhnya yang sangat singkat. Kontak tersebut hanya berlangsung selama setengah hingga satu milidetik.

Keberhasilan burung pelatuk tidak gegar otak meski suka mematuk kayu didukung oleh anatomi tubuh yang luar biasa. Burung pelatuk memiliki tulang hyoid yang didesain untuk melindungi tubuhnya dari benturan, desain paruh yang diibaratkan sebagai senjata peredam, dan struktur otak yang kecil sehingga meminimalisir terjadinya benturan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Science

See More