Gunung-gunung dalam kategori ini tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Sumatra yang mempunyai 12 gunung tipe A, 19 gunung berada di Jawa, 22 di Bali-Nusa Tenggara, 11 di Sulawesi, dan 13 gunung di Maluku.
Jenis-Jenis Gunung Api di Indonesia, Anak Krakatau Masuk Tipe A

- Badan Geologi mencatat 127 gunung api Indonesia yang diklasifikasikan berdasarkan riwayat erupsi dan tanda aktivitas vulkanik menjadi Tipe A, B, dan C.
- Sebanyak 76 gunung Tipe A memiliki catatan erupsi magmatik sejak 1600 dan dipantau intensif, termasuk Merapi, Semeru, Anak Krakatau, Kerinci, serta Sinabung.
- Terdapat 30 gunung Tipe B dengan gejala vulkanik tanpa erupsi magmatik setelah 1600, serta 21 Tipe C tanpa catatan erupsi sejarah namun bertanda aktivitas masa lampau.
Jakarta, IDN Times - Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak gunung api. Berdasarkan data Badan Geologi, terdapat 127 gunung yang masuk klasifikasi gunung api di Indonesia.
Meski termasuk dalam daftar gunung api, kondisi dan riwayat aktivitas setiap gunung tidak sepenuhnya sama. Badan Geologi membaginya ke dalam tiga kategori, yakni tipe A, tipe B, dan tipe C.
Pembagian tersebut didasarkan pada riwayat erupsi serta tanda-tanda aktivitas vulkanik yang masih ditemukan di tiap gunung.
Kategori tipe A pernah erupsi sekurang-kurangnya sejak 1600 dan masih erupsi relatif baru. Tipe B tidak punya catatan sejarah letusan magmatik sejak 1600, tetapi masih memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik.
Kemudian, tipe C tidak memiliki catatan sejarah letusan, tapi masih memperlihatkan jejak atau tanda-tanda aktivitas vulkanik pada tingkat lemah. Lalu, tipe D belum pernah tercatat meletus sejak 1600, tapi menunjukkan kegiatan solfatara berupa gas atau uap belerang.
1. Gunung Tipe A yang masih mempunyai catatan erupsi

Visual erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, NTT, Minggu (16/6/2024) dengan ketinggian 1.000 meter di atas puncak. (ANTARA/HO-PVMBG) Dari total 127 gunung api, sebanyak 76 di antaranya masuk tipe A. Gunung api dalam kategori ini memiliki catatan erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sejak 1600.
Tipe A mencakup sejumlah gunung api yang cukup dikenal masyarakat, seperti Gunung Merapi, Semeru, Anak Krakatau, Marapi, Kerinci, Sinabung, Gede, Tangkuban Parahu, hingga Gunung Lewotobi Laki-laki.
Riwayat erupsi tersebut membuat gunung api tipe A menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan pemantauan aktivitas secara intensif oleh pemerintah melalui jaringan pemantauan gunung api.
2. Gunung tipe B yang tidak menunjukkan erupsi setelah 1600

Kawasan lereng Gunung Merbabu. (IDN Times/Dhana Kencana) Berdasarkan data Badan Geologi, sebanyak 30 dari 127 gunung api masuk kategori tipe B. Gunung api tipe ini merupakan gunung yang sesudah 1600 belum lagi mengalami erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara.
Gunung tipe B tersebar di berbagai wilayah antara lain 12 gunung di Sumatra, 10 di Jawa, 2 di Bali-Nusa Tenggara, 2 di Sulawesi, dan 3 di Maluku.
Beberapa contoh gunung api tipe B antara lain Gunung Sibayak, Argopura, Patuha, Merbabu, Lawu, Rajabasa, Ungaran, Sumbing, dan Klabat.
Karena masih memiliki manifestasi aktivitas vulkanik, gunung-gunung tersebut tetap termasuk dalam klasifikasi gunung api Indonesia, dan terus menjadi bagian dari pemantauan pemerintah.
3. Gunung Tipe C tidak memiliki catatan erupsi dalam sejarah

ilustrasi erupsi Gunung Ili Lewotolok (pexels.com/Pavel) Sementara, sebanyak 21 gunung api dikategorikan tipe C. Gunung api tipe ini merupakan gunung yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkat lemah.
Sebaran wilayah gunung api tipe C antara lain, 6 gunung berada di Sumatra, 5 di Jawa, 5 di Bali-Nusa Tenggara, dan 5 di Sulawesi. Sementara di Maluku, tidak ada catatan mengenai gunung tipe C.
Beberapa contoh gunung api yang masuk kategori tipe ini antara lain Jaboi, Kawah Kamojang, Kawah Manuk, Poco Leok, dan Lahendong.
Dengan demikian, status setiap gunung api tidak dapat hanya dilihat dari apakah gunung tersebut sedang erupsi atau tidak. Karena itu, masyarakat perlu memahami istilah gunung api aktif tidak selalu berarti gunung tersebut sedang erupsi.
Aktivitas gunung api dapat berubah setiap saat, sehingga pemantauan dan informasi resmi dari Badan Geologi tetap menjadi rujukan penting bagi masyarakat.


















