Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Berkik Gunung Amami, Punya Paruh Panjang yang Menarik
potret berkik gunung amami dewasa (commons.wikimedia.org/Wich’yanan)

Kalau ada daftar burung kecil dengan bentuk kepala yang aneh, maka berkik gunung amami (Scolopax mira) harus masuk dalam daftar tersebut. Bagaimana tidak? Burung yang satu ini memiliki ciri khas berupa kepala berukuran kecil, lokasi mata yang agak mundur ke belakang, serta paruh yang sangat panjang. Selain itu, sepasang kaki mereka juga tergolong panjang sehingga membuat penampilan burung ini terbilang unik.

Bulu berkik gunung amami didominasi warna cokelat muda dan tua dengan sedikit warna putih pada bagian perut dan sekitar pipi. Ada pula corak garis dan bintik hitam yang menghiasi bulu burung ini. Soal ukuran, panjang tubuh burung ini sekitar 36 cm dengan rentang sayap 19—22 cm dan bobot 400—500 gram saja. Nah, pada kesempatan ini, kita akan mengenal lebih jauh soal hal-hal menarik yang dimiliki berkik gunung amami. Jadi, simak sampai tuntas, ya!

1. Peta persebaran dan habitat alami

Berkik gunung eurasia punya penampilan yang identik dengan berkik gunung amami. (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)

Berkik gunung amami ternyata merupakan hewan endemik dari Jepang. Data Zone by Birdlife melansir kalau secara spesifik, burung mungil ini hanya berada di sekitar Kepulauan Nansei Shoto yang meliputi Pulau Amami, Kakeroma, Tokunoshima, Okinawa, dan Tokashiki. Luas area yang jadi persebaran mereka terbilang sangat kecil, yakni sekitar 12.200 km persegi saja.

Sementara itu, untuk pilihan habitat, berkik gunung amami suka berada di kawasan sekitar perbukitan. Di sana, mereka tinggal di hutan sub tropis dengan daun lebar yang cenderung lembab. Kadang-kadang mereka juga berpindah ke pesisir pantai hingga padang rumput sekitar bukit dan dataran rendah demi mencari makanan. Kalau kebetulan dekat, berkik gunung amami diketahui turut menghampiri kawasan pertanian manusia.

2. Makanan favorit dan cara memperolehnya

berkik gunung amami sedang mengepakkan sayap (inaturalist.org/clurarit)

Berkik gunung amami termasuk hewan nokturnal sehingga seluruh aktivitas, termasuk mencari makan, baru dilakukan setelah Matahari terbenam. Tokunoshima World Herritage Conservation Center melansir kalau jenis makanan utama burung ini adalah cacing tanah dan serangga yang ada di tanah. Paruh panjang mereka memainkan peran penting dalam upaya memperoleh makanan.

Jadi, paruh berkik gunung amami itu terbilang sensitif terhadap gerakan yang ada di dalam tanah. Mula-mula, mereka akan mencari bagian tanah yang mudah digali dan berpotensi ada mangsa favorit. Setelah itu, paruh akan mulai menggali sambil merasakan keberadaan makanan. Kalau terasa ada gerakan, burung ini tak perlu mengangkat kepala untuk mengambil target. Sebab, ada sedikit celah terbuka pada bagian ujung paruh mereka yang memudahkan proses menangkap mangsa.

Berkat paruh yang sangat peka pada gerakan di dalam tanah, berkik gunung amami perlu mengandalkan indera penglihatan. Apalagi, mengingat waktu berburu yang berlangsung pada malam hari. Selain itu, dengan berburu pada malam hari, burung mungil ini mengurangi risiko ditangkap predator karena corak tubuh yang mampu berbaur dengan sempurna pada lingkungan hutan saat gelap.

3. Kehidupan sosial

sosok berkik gunung yang sedang terbang (commons.wikimedia.org/Birds of Gilgit-Baltistan)

Biasanya, burung berukuran kecil itu cenderung hidup secara berkelompok. Namun, hal berbeda justru muncul pada perilaku berkik gunung amami. Sebab, burung yang satu ini ternyata lebih cenderung soliter diluar musim kawin ataupun ketika sedang mengurus anak-anak yang baru menetas.

Artinya, mereka selalu kedapatan mencari makan sendiri di tengah gelapnya malam. Akan tetapi, bukan berarti berkik gunung amami tidak memiliki suara vokal yang khas. Dilansir Bird Research News, jantan biasanya menghasilkan suara serak yang terdengar seperti ‘vu-vu’, ‘chee-chee’, atau ‘geee’ untuk memanggil betina di sekitar. Selain itu, ada pula suara, ‘gwe-e’ yang dikeluarkan sebelum terbang.

4. Sistem reproduksi

berkik gunung amami yang diawetkan (commons.wikimedia.org/Momotarou2012)

Musim kawin bagi berkik gunung amami berlangsung antara bulan Maret—Juli. Spesies ini diduga sebagai hewan poligini alias jantan akan kawin dengan beberapa betina yang berbeda. Hanya saja, sejauh ini kita belum mengetahui apakah ada ritual kawin khusus yang dilakukan oleh berkik gunung amami. Yang jelas, burung ini punya kebiasaan pindah ke arah selatan pulau menjelang musim kawin.

Setelah kawin, berkik gunung amami akan membuat sarang sederhana dari tumpukan daun yang diletakkan di atas tanah. Dilansir Bird Research News, dalam satu musim kawin betina dapat menghasilkan 2—4 butir telur saja. Telur-telur tersebut akan menjalani masa inkubasi selama 20—30 hari sebelum akhirnya menetas. Hanya butuh waktu satu bulan bagi anak berkik gunung amami untuk mencapai ukuran dewasa dan sudah bisa hidup mandiri.

5. Status konservasi

berkik gunung yang berada di tangan manusia (commons.wikimedia.org/Sanja Šumanović)

Dalam catatan IUCN Red List, status konservasi berkik gunung amami masuk dalam kategori rentan punah (Vulnerable). Hanya saja, tren populasi mereka ternyata tergolong stabil. Diperkirakan ada sekitar 2,5—10 ribu individu yang masih tersebar di sepanjang peta persebaran mereka. Tentunya, ada beberapa ancaman yang sedang dihadapi spesies ini.

IUCN Red List menyebut kalau pengenalan predator asing, semisal garangan jawa (Herpestes javanicus), ke pulau-pulau selatan Jepang ternyata menghancurkan populasi burung ini. Dulunya, berkik gunung amami tidak punya predator berukuran besar yang aktif memburu setiap saat seperti garangan jawa. Padahal, awalnya garangan jawa itu diperkenalkan untuk mengatasi masalah hama ular habu dan tikus hitam. Namun, predator ini justru turut menghancurkan populasi lokal.

Penyebaran garangan jawa ini sebenarnya sudah mulai dikontrol sejak tahun 2002. Akan tetapi, ada predator asing lain yang turut mengancam berkik gunung amami, yakni anjing dan kucing liar. Selain predator asing, burung mungil ini juga terancam dengan kehilangan habitat akibat ekspansi lahan yang dilakukan manusia. Duh, semoga saja kondisi populasi mereka bisa membaik di masa yang akan datang, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team