Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Hoi An, Kota Tua di Vietnam yang Jadi Surga Pakaian Custom
Hoi An, Vietnam (unsplash.com/Yusuke Hatano)
  • Hoi An di Provinsi Quang Nam pernah menjadi pelabuhan dagang internasional penting dalam Jalur Sutra Maritim pada abad ke-15 hingga ke-19.
  • Kota Tua Hoi An mempertahankan arsitektur hasil perpaduan Vietnam, Tiongkok, Jepang, dan Eropa; UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia pada 1999.
  • Selain Japanese Covered Bridge, Hoi An dikenal dengan ratusan penjahit pakaian custom cepat serta kuliner khas seperti Cao Lầu, Cơm Gà, dan White Rose dumpling.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hoi An merupakan kota tua di Vietnam yang dikenal karena sejarah panjang dan kekayaan budayanya. Berada di Provinsi Quang Nam, kota ini telah berkembang sejak berabad-abad lalu dan masih mempertahankan peninggalan bersejarah yang menjadi bagian dari identitasnya hingga sekarang.

Selain memiliki jejak sejarah yang menarik, Hoi An dikenal dengan berbagai keunikan lain, mulai dari arsitektur kota tua yang masih terjaga, jembatan peninggalan Jepang, hingga reputasinya sebagai surga pakaian custom. Tak hanya itu, kota ini juga memiliki kuliner khas yang telah mendunia. Yuk, simak lima fakta menarik tentang Hoi An berikut ini!

1. Pernah menjadi pelabuhan dagang internasional

Sungai Thu Bon, jalur perdagangan utama Hoi An (commons.wikimedia.org/Jean-Pierre Dalbéra from Paris, France)

Jauh sebelum menjadi kota tua yang dikenal luas seperti sekarang, Hoi An merupakan salah satu pusat perdagangan paling sibuk di Asia Tenggara. Berada di tepi Sungai Thu Bon yang strategis, kota ini memegang peranan penting dalam Jalur Sutra Maritim sejak abad ke-15 hingga ke-19. Lokasinya yang terhubung langsung ke laut menjadikan Hoi An sebagai tempat singgah kapal-kapal dagang yang membawa berbagai komoditas, seperti sutra, rempah-rempah, dan keramik.

Posisi strategis tersebut menarik pedagang dari berbagai wilayah, mulai dari Tiongkok, Jepang, India, Asia Tenggara, hingga Eropa. Mereka datang untuk berdagang dan membangun jaringan niaga. Ramainya aktivitas perdagangan tersebut membuat Hoi An berkembang menjadi salah satu pelabuhan internasional utama pada masanya.

2. Masih mempertahankan arsitektur kota tua selama ratusan tahun

arsitektur Kota Tua Hoi An yang masih terjaga (pexels.com/Nguyen Ngoc Tien)

Arsitektur Kota Tua Hoi An masih mempertahankan bentuk aslinya selama ratusan tahun. Kawasan ini dipenuhi deretan rumah tua berbahan kayu, jalan-jalan sempit, serta bangunan bergaya tradisional yang mencerminkan perpaduan budaya Vietnam, Tiongkok, Jepang, dan Eropa. Akulturasi tersebut menjadi ciri khas visual yang membuat tampilan Hoi An berbeda dari kota-kota lain di Vietnam.

Meski wilayah Vietnam tengah sempat dilanda perang, Hoi An berhasil mempertahankan kawasan kota tuanya melalui berbagai upaya pelestarian lokal. Keaslian arsitektur dan nilai sejarah yang tetap terjaga membuat UNESCO menetapkan Hoi An sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1999. Hingga kini, kawasan tersebut menjadi salah satu contoh kota kuno yang paling terawat di Asia Tenggara.

3. Landmark terkenalnya adalah jembatan peninggalan Jepang

Japanese Covered Bridge di Hoi An (unsplash.com/Marina Lobato)

Japanese Covered Bridge atau Chùa Cầu merupakan ikon paling terkenal sekaligus simbol dari Hoi An. Jembatan ini dibangun pada akhir abad ke-16 oleh para pedagang Jepang yang menetap di sana. Pada masa itu, Chùa Cầu berfungsi menghubungkan kawasan permukiman Jepang dengan komunitas pedagang Tiongkok yang dipisahkan oleh aliran sungai kecil.

Keunikan Chùa Cầu terletak pada desainnya yang beratap dan memiliki kuil kecil di salah satu sisinya. Arsitekturnya memadukan unsur Jepang, Vietnam, dan Tiongkok. Menurut kepercayaan setempat, kuil tersebut didedikasikan untuk dewa pelindung cuaca agar kota terhindar dari badai dan banjir. Di kedua ujung jembatan juga terdapat patung monyet dan anjing yang dikaitkan dengan mitologi serta penanggalan pembuatan jembatan tersebut.

4. Dikenal sebagai surga pakaian custom

toko penjahit di Hoi An (unsplash.com/Quang Tran)

Selain dikenal sebagai kawasan bersejarah, Hoi An memiliki reputasi global sebagai salah satu pusat pakaian custom dengan pengerjaan yang sangat cepat. Di berbagai sudut kota, terdapat ratusan toko penjahit yang menawarkan jasa pembuatan pakaian sesuai ukuran dan keinginan pelanggan. Menariknya, pakaian sederhana seperti kemeja, celana, atau gaun umumnya dapat diselesaikan hanya dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Kecepatan tersebut didukung oleh keterampilan para penjahit lokal yang telah berpengalaman melayani pelanggan dari berbagai negara. Pelanggan tidak hanya dapat memesan busana dari nol, tetapi juga bisa membawa pakaian favorit atau foto desain tertentu untuk dibuat ulang. Ditambah dengan biaya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan negara-negara Barat, tidak heran jika Hoi An menjadi salah satu pusat belanja pakaian custom paling populer di dunia.

5. Makanan khasnya mendunia

Cao Lầu, salah satu kuliner khas Hoi An (commons.wikimedia.org/Chainwit)

Makanan khas Hoi An juga menjadi salah satu alasan kota ini dikenal di berbagai penjuru dunia. Beberapa hidangan yang paling terkenal antara lain Cao Lầu, Cơm Gà Hoi An, serta Bánh Bao Bánh Vạc (White Rose dumpling). Masing-masing memiliki cita rasa yang khas, bahkan beberapa di antaranya hanya bisa ditemukan di Hoi An karena menggunakan bahan dan cara pengolahan tertentu.

Keunikan kuliner tersebut membuat Hoi An meraih berbagai pengakuan internasional. Lonely Planet pernah menyebut Hoi An sebagai global food paradise, sementara TripAdvisor memasukkannya ke dalam daftar destinasi kuliner terbaik di dunia. World Association of Chefs bahkan menjuluki Hoi An sebagai ibu kota kuliner Vietnam.

Hoi An membuktikan bahwa sebuah kota bisa tetap mempertahankan identitasnya di tengah perkembangan zaman. Beragam fakta menarik yang dimilikinya pun membuat Hoi An tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena sejarah, budaya, dan tradisi yang masih hidup hingga sekarang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article