Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fase Perkembangan Jam Tangan, dari Jam Saku hingga Smartwatch
ilustrasi jam tangan saku (unsplash.com/Mishaal Zahed)
  • Jam saku berkembang sejak abad ke-16 dan menjadi penunjuk waktu portabel sekaligus simbol status, sementara jam pergelangan awalnya lebih dipandang sebagai aksesori wanita.
  • Awal abad ke-20, Cartier merancang jam praktis untuk Alberto Santos-Dumont; Perang Dunia I kemudian mendorong prajurit memakai trench watch dan memopulerkan jam tangan pria.
  • Seiko Astron pada 1969 memicu revolusi kuarsa yang akurat dan terjangkau, sedangkan smartwatch kini menambah notifikasi, pemantauan kesehatan, serta aplikasi tanpa menghapus peran jam analog.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jam tangan kini menjadi salah satu benda yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain berfungsi untuk menunjukkan waktu, jam tangan juga menjadi bagian dari gaya hidup dan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Namun, sebelum menjadi seperti sekarang, jam tangan telah mengalami perjalanan sejarah yang cukup panjang.

Evolusi jam tangan dimulai dari era jam saku, bertransformasi menjadi jam tangan modern, meledak berkat Perang Dunia I, hingga berkembang menjadi smartwatch dengan berbagai fitur canggih. Setiap era membawa perubahan yang membuat fungsi dan bentuk penunjuk waktu ini terus beradaptasi. Yuk, simak lima fase perkembangan jam tangan dalam pembahasan berikut!

1. Era jam saku sebagai cikal bakal jam tangan

jam saku (unsplash.com/Pierre Bamin)

Sebelum jam tangan digunakan seperti sekarang, jam saku (pocket watch) menjadi penunjuk waktu portabel yang paling umum digunakan. Jam ini mulai berkembang sejak abad ke-16 dan semakin populer pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Saat itu, jam saku tidak hanya berfungsi untuk menunjukkan waktu, tetapi juga menjadi simbol status dan kemapanan. Disimpan di dalam saku rompi dengan rantainya yang khas, jam saku banyak digunakan oleh kalangan bangsawan, pedagang, hingga para profesional.

Di sisi lain, jam yang dikenakan di pergelangan tangan sebenarnya sudah mulai dikenal. Namun, jam tangan saat itu lebih sering dianggap sebagai aksesori atau perhiasan khusus wanita. Banyak pria menganggap ukurannya terlalu kecil dan kurang kokoh untuk digunakan sehari-hari. Karena itulah, hingga menjelang akhir abad ke-19, jam saku masih menjadi pilihan utama sebagai penunjuk waktu pribadi bagi kaum pria.

2. Lahirnya jam tangan modern

ilustrasi Cartier Santos, pelopor jam tangan modern (commons.wikimedia.org/Daderot)

Memasuki awal abad ke-20, fungsi jam tangan mulai berubah dari sekadar perhiasan wanita menjadi alat yang lebih praktis. Seiring berkembangnya zaman, muncul kebutuhan akan penunjuk waktu fungsional yang dapat digunakan dengan mudah dalam aktivitas tertentu.

Perubahan penting terjadi pada tahun 1904 ketika Louis Cartier merancang jam tangan untuk sahabatnya, Alberto Santos-Dumont, seorang pelopor penerbangan asal Brasil. Jam tersebut dibuat agar Santos-Dumont dapat melihat waktu tanpa harus melepaskan tangan dari kendali pesawat saat terbang. Desain ini menjadi salah satu jam tangan pertama yang dirancang khusus untuk pria dan menandai awal perkembangan jam tangan modern sebagai alat yang mengutamakan fungsi.

3. Perang Dunia I membuat jam tangan semakin populer

ilustrasi trench watch (commons.wikimedia.org/www.clevelandwatchrepair.com)

Meskipun jam tangan pria mulai dikenal pada awal abad ke-20, penggunaannya baru semakin populer saat Perang Dunia I berlangsung pada tahun 1914–1918. Di medan perang, para prajurit membutuhkan penunjuk waktu yang mudah dilihat untuk menyinkronkan serangan dan mengatur pergerakan pasukan. Dalam kondisi tersebut, jam saku dianggap kurang praktis karena harus dikeluarkan dari kantong saat kedua tangan tetap dibutuhkan untuk bertempur.

Untuk mengatasinya, banyak prajurit mulai memasang tali kulit pada jam saku agar bisa dikenakan di pergelangan tangan. Model ini kemudian dikenal sebagai trench watch. Seiring meningkatnya kebutuhan militer, produsen mulai membuat jam tangan yang dirancang khusus untuk pria. Setelah perang berakhir, banyak tentara tetap mengenakan jam tangan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sinilah pandangan bahwa jam tangan hanya cocok untuk wanita mulai berubah dan semakin populer di kalangan pria.

4. Revolusi jam kuarsa mengubah industri jam tangan

Seiko Astron, jam tangan kuarsa pertama (commons.wikimedia.org/Deutsches-uhrenmuseum)

Memasuki akhir 1960-an, industri jam tangan mengalami perubahan besar dengan hadirnya teknologi kuarsa (quartz). Pada tahun 1969, Seiko memperkenalkan Astron, jam tangan kuarsa pertama di dunia. Berbeda dengan jam mekanis yang menggunakan pegas dan roda gigi, jam kuarsa bekerja dengan daya baterai dan kristal kuarsa. Teknologi ini membuat jam tangan menjadi jauh lebih akurat, lebih mudah dirawat, dan dapat diproduksi dengan biaya yang lebih terjangkau.

Kehadiran jam kuarsa menimbulkan kekacauan besar bagi industri jam tangan. Pada dekade 1970-an, masyarakat luas mulai beralih ke jam kuarsa karena kepraktisan dan akurasinya. Kondisi ini memicu Quartz Crisis, yaitu masa ketika banyak produsen jam mekanis tradisional, terutama di Swiss, kesulitan bersaing dan sebagian tidak mampu bertahan. Seiring perkembangannya, teknologi kuarsa juga mendorong lahirnya berbagai jam digital yang semakin populer pada dekade-dekade berikutnya.

5. Era smartwatch membuka fungsi baru jam tangan

smartwatch (unsplash.com/Daniel Romero)

Setelah teknologi kuarsa melahirkan berbagai jam digital yang populer selama beberapa dekade, perkembangan berikutnya hadir melalui smartwatch. Berbeda dengan jam tangan biasa yang hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, smartwatch dirancang sebagai perangkat pintar yang dapat membantu berbagai aktivitas harian. Kehadirannya menjadi bagian penting dari perkembangan teknologi wearable yang semakin banyak digunakan di era modern.

Saat ini, fungsi jam tangan tidak lagi sebatas melihat waktu. Smartwatch dapat digunakan untuk menerima notifikasi, memantau kesehatan, dan menjalankan berbagai aplikasi langsung di pergelangan tangan. Meski begitu, jam tangan analog dan mekanis tetap memiliki tempat tersendiri. Hingga kini, keduanya masih digunakan berdampingan dengan smartwatch, baik sebagai alat penunjuk waktu, perhiasan, maupun bagian dari gaya hidup.

Fase perkembangan jam tangan dimulai dari jam saku hingga smartwatch. Setiap era menghadirkan inovasi yang mengubah cara manusia melihat dan menggunakan waktu. Meski terus berkembang, jam tangan tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dengan fungsi dan daya tariknya masing-masing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article