Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gempa Susulan di Flores Membentuk Beberapa Kluster, Ini Kata BMKG
ilustrasi gempa bumi (freepik.com/user189
  • BMKG mencatat 6.697 gempa susulan hingga 24 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB setelah gempa M7,7 Flores, dengan aktivitas masih tinggi dan getaran terasa sampai Manggarai Barat.
  • Susulan membentuk beberapa klaster, terutama di utara Nagekeo dan utara Manggarai; konsentrasi aktivitas bergeser secara seismik, bukan perpindahan pusat gempa atau aktivasi patahan baru.
  • BMKG mengimbau warga tetap tenang dan memeriksa kelayakan bangunan sebelum masuk, terutama bila ada kerusakan struktur, fasilitas dasar bermasalah, retakan tanah, atau tanda kerusakan bertambah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pasca-gempa utama bermagnitudo besar (M 7,7) yang mengguncang Flores beberapa waktu lalu, gempa susulan per hari ini (24/08/2026) hingga pukul 17:00 WIB sudah tercatat sebanyak 6.697 kali.

Aktivitas gempa susulan di kawasan Flores masih tinggi dan beberapa memang dirasakan sampai Manggarai Barat. Pusat gempa utama (mainshock) awalnya terjadi di sebelah utara Nagekeo. Namun, energi dari patahan naik Flores (Flores Back-arc Thrust) memicu aktivitas susulan (aftershocks) yang tidak hanya terkonsentrasi di satu titik, melainkan menyebar dan membentuk beberapa klaster.

Gempa membentuk beberapa kluster

Dalam perkembangan seismisitasnya, Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) memang mencatat adanya klaster susulan yang signifikan di bagian barat dari zona sumber utama, yaitu di sebelah utara Kabupaten Manggarai (bukan Manggarai Barat, meski wilayah Manggarai dan Manggarai Barat berdekatan dan sama-sama merasakan getarannya kuat).

Beberapa gempa susulan dengan magnitudo cukup besar (seperti M5,6 hingga M6,2) sempat berpusat di laut/darat wilayah utara Manggarai.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto menjelaskan, aktivitas pascagempa tidak tersebar secara homogen atau merata di satu garis lurus. Sebaliknya, gempa susulan membentuk beberapa klaster tersendiri.

“Klaster utama memang berada di sekitar zona sumber gempa M7,7 di utara Nagekeo yang mengikuti jalur patahan naik (Flores Back-arc Thrust). Namun, BMKG juga mengidentifikasi adanya klaster susulan baru di bagian barat dari zona sumber utama, yang posisinya berada di sebelah utara Kabupaten Manggarai,” ujarnya kepada IDN Times.

Migrasi aktivitas seismik

Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Esti Suryani)

Wijayanto melanjutkan bahwa dari perkembangan seismisitas harian, ada indikasi pergerakan aktivitas susulan:

  • Hari ke-1 hingga ke-4: Seismisitas harian tercatat merata di seluruh klaster, dari sisi timur hingga ke barat.

  • Hari ke-5 hingga ke-6: Aktivitas harian mulai terkonsentrasi di klaster bagian barat (wilayah utara Manggarai), sementara aktivitas di bagian timur mulai mengalami penurunan.

  • Hari ke-7 hingga ke-8: Konsentrasi gempa masih condong di klaster barat, namun klaster bagian timur terpantau kembali mengalami sedikit peningkatan aktivitas.

Bukan perpindahan pusat gempa

Penting untuk digarisbawahi, fenomena ini bukanlah ‘perpindahan’ pusat gempa secara fisik dari satu titik ke titik lain, melainkan bentuk penyesuaian energi (migrasi seismisitas) di sepanjang jalur patahan Flores Back-arc Thrust.

“Kita belum melihat adanya patahan lain yang teraktivasi akibat gempa utama M7,7. Seluruh gempa susulan yang terjadi masih dalam rangkaian gempa dari Flores Back-arc Thrust segmen Nusa Tenggara Barat,” Wijayanto menerangkan.

Selain itu, secara geografis data BMKG menunjukkan klaster susulan barat ini berpusat di sebelah utara Kabupaten Manggarai—bukan Manggarai Barat, meski kedua wilayah ini bertetangga dan sama-sama merasakan getaran yang kuat.

Imbauan BMKG

ilustrasi gempa bumi megathrust sumatra (commons.wikimedia.org/Ayie7791)

Rumah yang tidak layak untuk ditinggali sementara waktu sampai proses gempa susulan masih terjadi, menurut Wijayanto, meliputi:

  • Kerusakan kolom dan balok utama: Adanya tiang beton yang pecah, selimut beton terlepas hingga terlihat besi tulangan, tiang tampak miring/melengkung atau dinding pemikul beban yang mengalami retak diagonal/miring.

  • Kerusakan pemisah ruangan/dinding: Dinding terpisah atau renggang dari kolom penyangga atau atap/kuda-kuda tampak bergeser dari tumpuannya.

  • Kerusakan fasilitas dasar: Terjadi kerusakan fasilitas dasar rumah yang bebas dari potensi seperti kebocoran gas, kabel listrik terkelupas atau terendam, plafon/atap/genteng yang rusak, dinding yang roboh dan retakan tanah/lereng/bukit di sekitar rumah yang berpotensi longsor.

  • Kerusakan kondisi sekitar rumah: Muncul retakan tanah di bawah fondasi atau halaman rumah yang mengarah ke bangunan, rumah berada di bawah lereng curam yang tanahnya mulai mengelupas, retak atau runtuh akibat akumulasi guncangan, terjadi fenomena penurunan tanah (subsidence) atau amblesan pada salah satu sisi fondasi.

  • Respon terhadap gempa susulan: Setiap kali terjadi gempa susulan berukuran sedang, terdengar suara gemertak/berderit keras dari kerangka atap atau dinding, erjadi penambahan lebar retakan secara bertahap setiap kali terjadi guncangan susulan (efek akumulasi beban).

Masyarakat di Flores dan sekitarnya diimbau untuk tetap tenang namun waspada. Karena aktivitas susulan masih terus terjadi, pastikan untuk selalu memeriksa kondisi bangunan tempat tinggal sebelum kembali ke dalam rumah, serta mengabaikan informasi hoaks yang mengklaim akan terjadi gempa susulan dengan skala yang lebih besar di luar info resmi BMKG.

Curated For You

Editorial Team

Related Article