Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Fakta Mithridates VI, Reputasinya yang Berani Mengonsumsi Racun

4 Fakta Mithridates VI, Reputasinya yang Berani Mengonsumsi Racun
Mithridates VI (sebelah kanan) (commons.wikimedia.org/Bibliothèque nationale de France)
  • Mithridates VI Eupator memerintah Pontus pada 120–63 SM, mengambil takhta setelah menyingkirkan ibunya yang menjadi penguasa saat ia masih muda.
  • Ia memperluas kekuasaan Pontus di Laut Hitam, menguasai Colchis dan menundukkan Skithia melalui aliansi dengan Kerajaan Bosporus.
  • Setelah ayahnya tewas diracun, Mithridates VI rutin mengonsumsi dosis kecil racun, termasuk arsenik, serta mengembangkan penawar bernama mithridatium.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di Anatolia utara (sekarang Turki) terdapat suatu kerajaan yang pernah berdiri di era kuno bernama Kerajaan Pontus. Di era Raja Mithridates VI, Pontus menjelma menjadi salah satu musuh terberat dari Kekaisaran Romawi, lho.

Mithridates VI Eupator adalah seorang raja dari Kerajaan Pontus yang memerintah dari tahun 120-63 SM. Sosok ini terkenal karena berusaha membuat dirinya kebal dari racun.

Tentu hal ini menarik jika kita bahas lebih lengkap melalui artikel alasan Mithridates VI ingin kebal dari racun beserta trivia lainnya. Simak sekarang.

  1. 1. Kehidupan pribadi Mithridates VI

    Mithridates VI
    Mithridates VI (commons.wikimedia.org/Vi Ko)

    Ayahnya bernama Mithridates V Euergetes sebelumnya seorang raja Pontus dan ibunya, Laodice VI adalah putri dari Kerajaan Seleukia. Lantaran Mithridates VI dan saudaranya masih terlalu muda, Laodice VI menjadi penguasa Pontus.

    Mithridates VI pergi dari Pontus untuk mengembangkan diri. Setelah kembali ke Pontus, Mithridates VI sudah berubah menjadi pemuda yang kejam dan cerdas. Kemudian Mithridates VI menyingkirkan ibunya sendiri dan menjadi Raja Pontus yang baru.

  2. 2. Perluasan Pontus di tangan Mithridates VI

    Mithridates VI
    Mithridates VI (commons.wikimedia.org/Bibliothèque nationale de France)

    Mithridates VI berambisi untuk menjadikan Pontus sebagai kerajaan terkuat di wilayah Laut Hitam. Pertama, ia menguasai Colchis (sekarang Georgia). Pontus yang beraliansi dengan Kerajaan Bosporus melakukan sejumlah pertempuran dengan Kerajaan Skithia dan Skithia akhirnya memilih tunduk kepada Mithridates VI.

  3. 3. Era Mithridates VI melawan Romawi

    Mithridates VI (sebelah kanan)
    Mithridates VI (sebelah kanan) (commons.wikimedia.org/Bibliothèque de Rennes Métropole)

    Sikap ambisius dan kejam dari Mithridates VI sangat tepat di hadapkan dengan Romawi. Kekaisaran Romawi saat itu sedang mengalami perpecahan di mana terjadi perang saudara. Jadi Pontus melawan Romawi dengan pasukan lebih sedikit.

    Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Mithridates VI yang berhasil melawan pasukan Nicomedes IV diakhiri dengan kemenangan Mithridates VI di rumahnya sendiri, Pontus pada 89 M. Buah dari kemenangan ini sebuah wilayah Romawi untuk Pontus seperti Bithia, Kapadokia dan Provinsi Romawi di Asia.

    Pada 88 SM, kekejaman Mithridates VI diperlihatkan. Mithridates VI menerapkan kebijakan yang kejam terhadap sisa-sisa kekuasaan Romawi di Anatolia. Genosida digencarkan dan yang menjadi korban adalah orang-orang Romawi.

    Pontus juga mengajak orang-orang di seluruh Asia kecil yang bersedia melawan Romawi. Alhasil korban genosida orang-orang Romawi mencapai antara 50 ribu hingga 100 ribu jiwa. Pertempuran Pontus melawan Romawi sebenarnya menghabiskan beberapa dekade.

  4. 4. Proses membuat Mithridates VI kebal terhadap racun

    Mithridates VI
    Mithridates VI (commons.wikimedia.org/Bibliothèque nationale de France)

    Berbeda dengan raja lainnya, Mithridates VI malah berani melawan racun itu sendiri. Ia melakukannya setelah ayahnya, Mithridates V tewas karena diracuni dalam sebuah jamuan.

    Ayahnya meninggal karena diracuni ketika Mithridates VI masih muda. Untuk mengasah kemampuannya bertahan hidup, Mithridates VI menghabiskan waktu selama 7 tahun untuk hidup di padang gurun.

    Mithridates VI mencoba membuat dirinya kebal terhadap racun dengan mengonsumsi dosis racun yang sangat kecil secara teratur dan tidak mematikan terutama arsenik. Praktek ini dikenal sebagai mithridatisme, dilansir kids.kiddle.

    Setelah menjadi raja, Mithridates VI terus mempelajari racun bahkan menciptakan penawarnya. Ia mengonsumsi penawar ini setiap hari dengan air dingin. Penawar ini dikenal sebagai mithridatium.

    Dalam perkembangannya, penulis kuno, Pilinius Tua mengetahui resep sederhana yang ditemukan di catatan Mithridates VI mencakup dua buah kenari kering, ara dan dua puluh lembar daun rue.

    Selama berabad-abad mithridatium dan obat serupa yang disebut theriac penting dalam pengobatan Islam dan Barat. Namun pada abad ke 19, sebagian dokter berhenti menggunakannya.

    Keunikan dan keunggulan Mithridates VI dalam ketangguhan adalah sikap yang kejam dan berbahaya. Sementara kecerdasannya adalah bisa menciptakan penawar racunnya sendiri.

    Kejeniusan Mithridates VI sebagai pembuat penawar racun dituangkan dalam beberapa karya. Novel berjudul The Count of Monte Cristo karya Alexandre Dumas menyebutkan gagasan tentang mithridatium. Dalam puisi, AE Housman berjudul Terence, This Is Stupid Stuff juga merujuk pada mithridatium.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More