Flatey memiliki bentang alam yang berbeda dari gambaran Islandia pada umumnya yang identik dengan gunung dan gletser. Pulau ini relatif rendah dan landai, dengan hamparan padang rumput serta kawasan pesisir yang menjadi bagian dari lanskap khas Breiðafjörður. Di balik ukurannya yang mungil, Flatey memiliki perjalanan panjang dalam sejarah Islandia. Berikut lima fakta tentang pulau kecil tersebut.
5 Fakta Flatey, Pulau Datar dengan Sejarah Panjang di Islandia

- Flatey, pulau datar berukuran sekitar 2 kilometer di Teluk Breiðafjörður, pernah berkembang sebagai pusat perdagangan dan perikanan dengan populasi lebih dari 200 orang pada 1910–1920.
- Pulau ini memiliki jejak literasi sejak biara tahun 1172, pernah menyimpan naskah Flateyjarbók, serta memiliki gedung perpustakaan tahun 1864 yang termasuk tertua di Islandia.
- Perairan dan pesisir Flatey mendukung lebih dari 30 jenis burung berkembang biak; kini pulau berpenduduk sepanjang tahun ini mempertahankan rumah kayu tradisional, tanpa lalu lintas kendaraan.
Di bagian barat Islandia terdapat Breiðafjörður, sebuah teluk luas yang dipenuhi pulau-pulau kecil dan gugusan batu karang. Salah satunya adalah Flatey, pulau yang berada di antara Semenanjung Snæfellsnes dan Westfjords. Ukurannya memang tidak besar, tetapi pulau ini cukup dikenal di kawasan tersebut.
1. Pulau kecil dengan nama yang berarti “datar”

lanskap Pulau Flatey (commons.wikimedia.org/Patrick Nouhailler's) Sesuai dengan namanya, Flatey dalam bahasa Islandia berarti “pulau datar”. Penamaan ini menggambarkan kondisi fisik pulau yang sebagian besar memiliki permukaan rendah dan landai. Terletak di Teluk Breiðafjörður, sebagian besar wilayah Flatey berupa daratan rata dengan sedikit perbukitan.
Meski menjadi pulau terbesar di antara gugusan pulau di sekitarnya, ukuran Flatey sebenarnya cukup kecil. Panjangnya sekitar 2 kilometer dan lebarnya kurang lebih 1 kilometer. Dengan ukuran yang mungil dan permukaan yang landai, seluruh bagian pulau dapat dijelajahi dengan berjalan kaki dalam waktu beberapa jam saja.
2. Pernah menjadi pusat perdagangan penting di Islandia

pelabuhan di Pulau Flatey (commons.wikimedia.org/Patrick Nouhailler's) Meski kini dikenal sebagai pulau yang tenang, Flatey pernah menjadi pusat perdagangan penting di wilayah barat Islandia. Pada tahun 1777, pulau ini ditetapkan kembali sebagai tempat perdagangan resmi setelah sebelumnya aktivitas perdagangan sempat terhenti. Sejak saat itu, kegiatan ekonomi mulai berkembang pesat dan Flatey menjadi salah satu pusat perdagangan utama di kawasan Breiðafjörður.
Memasuki abad ke-19, sektor perdagangan semakin maju seiring dengan meningkatnya aktivitas perikanan. Guðmundur Scheving menjadi salah satu pelopor usaha perikanan kapal layar di Flatey. Usaha perdagangan dan perikanan ini menyediakan banyak lapangan kerja bagi penduduk. Ramainya kegiatan ekonomi membuat populasi pulau bertambah pesat, di mana pada kurun tahun 1910–1920 penduduknya tercatat mencapai lebih dari 200 orang.
3. Punya tradisi literasi yang kuat

perpustakaan di Pulau Flatey (commons.wikimedia.org/Salvör Gissurardóttir) Ukuran Pulau Flatey yang mungil tidak menghalangi perannya dalam perkembangan literasi Islandia. Jejak intelektual tersebut sudah terlihat sejak abad pertengahan, ketika sebuah biara didirikan di pulau ini pada tahun 1172. Flatey juga identik dengan Flateyjarbók, salah satu naskah penting dalam sastra abad pertengahan Islandia. Naskah berharga tersebut disimpan di Flatey selama beberapa abad sebelum akhirnya dipindahkan pada tahun 1647.
Tradisi membaca dan menulis di Flatey terus berkembang hingga abad ke-19. Pada tahun 1823, Pendeta Ólafur Sívertsen mendirikan sebuah lembaga yang berawal dari perpustakaan. Saat ia wafat pada tahun 1860, koleksinya telah mencapai sekitar 1.140 buku. Empat tahun kemudian, didirikan gedung khusus untuk menyimpan koleksi tersebut. Bangunan yang selesai pada tahun 1864 itu hingga kini tercatat sebagai salah satu gedung perpustakaan tertua di Islandia.
4. Menjadi tempat penting bagi burung laut

Atlantic Puffin di Pulau Flatey (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp) Perairan Teluk Breiðafjörður yang mengelilingi Flatey merupakan salah satu kawasan laut yang kaya akan kehidupan di Islandia. Kondisi alam di sekitar pulau mendukung keberadaan lebih dari 30 jenis burung selama musim berkembang biak. Beberapa di antaranya adalah Atlantic Puffin, Eider Duck, Arctic Tern, Black Guillemot, dan Northern Fulmar. Burung-burung tersebut memanfaatkan daratan, pesisir, dan perairan di sekitar Flatey untuk mencari makan dan berkembang biak.
Flatey juga menjadi habitat penting bagi beberapa spesies burung unik. Red-necked Phalarope sering ditemukan berenang di perairan dangkal sekitar pulau, sementara Snow Bunting mudah dijumpai di area daratan. Ada pula koloni Arctic Tern yang cukup aktif saat melindungi sarangnya. Keberadaan berbagai jenis burung tersebut menunjukkan bahwa Flatey menjadi habitat penting bagi burung di kawasan Breiðafjörður.
5. Permukimannya masih mempertahankan suasana tradisional

suasana di Pulau Flatey (commons.wikimedia.org/Patrick Nouhailler's) Permukiman Flatey masih mempertahankan suasana yang khas dari masa lalu. Kawasan desanya terdiri dari rumah-rumah kayu yang sebagian besar berasal dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Bangunan-bangunan tersebut dirawat dengan baik sehingga karakter desa lama masih terlihat hingga sekarang. Rumah-rumahnya juga tersusun di sepanjang jalur utama yang menghubungkan area pelabuhan dengan kawasan desa.
Suasana tradisional itu semakin terasa karena Flatey tidak memiliki lalu lintas kendaraan seperti di kawasan perkotaan. Rumah-rumah kayu yang terawat dan tata desa yang sederhana membuat Flatey menjadi salah satu gambaran permukiman tradisional Islandia yang masih bertahan hingga sekarang.
Kini, Flatey hanya dihuni oleh beberapa orang sepanjang tahun, sementara sebagian besar rumah di kawasan desanya digunakan sebagai rumah musim panas. Meski jauh lebih sepi dibandingkan masa kejayaannya, Flatey tetap menjadi satu-satunya pulau di Breiðafjörður yang dihuni sepanjang tahun. Di tengah perubahan zaman, kehidupan lama di pulau ini masih terasa hingga sekarang.




















