Mesir merupakan negara yang berlokasi di Afrika dan Timur Tengah. Seperti negara lain di daerah tersebut, Mesir diselimuti oleh laut dan gurun pasir yang gersang. Meski begitu, Mesir memiliki keberagaman satwa yang luar biasa. Tercatat, negara yang memiliki banyak piramida tersebut menjadi rumah bagi berbagai burung eksotis.
5 Burung Terancam Punah di Mesir, Apa yang Mengancam Mereka?

- Lima burung di Mesir menghadapi ancaman kepunahan akibat kerusakan habitat, perburuan liar, aktivitas manusia, dan perubahan iklim.
- Rajawali tutul berstatus rentan, sedangkan hering Mesir dan alap-alap saker berstatus terancam dengan populasi liar yang terus menurun.
- Bebek marmer sangat terancam di Mesir meski melimpah di wilayah lain, sementara bustard besar berstatus terancam akibat populasinya yang terus menyusut.
Ada burung pemakan daging, burung air, burung terestrial, hingga elang raksasa. Sayangnya, tek sedikit menyandang gelar sebagai burung terancam punah. Populasi mereka terancam oleh beberapa hal, seperti kerusakan habitat, perburuan liar, dan perubahan iklim. Yuk, kita ulik berbagai burung terancam punah di Mesir lewat artikel berikut.
1. Rajawali tutul masuk ke kategori vulnerable atau rentan

rajawali tutul (commons.wikimedia.org/Christoph Moning) Aquila clanga atau rawajali tutul tampil sangar berkat tubuh yang berwarna cokelat dan corak tutul di sayap dan ekornya. Gak cuma itu, ukurannya juga cukup besar dengan panjang maksimal 74 centimeter, bentang sayap mencapai 1,8 meter, dan bobot maksimal di angka 2 kilogram. Suaranya juga keras, khas, bernada tinggi, dan bunyinya unik, yaitu "kyack", "kluh", "tyuck", atau "dyip."
Dilansir Animal Diversity Web, rajawali tutul merupakan predator yang sangat ganas. Bayangkan saja, makanannya mencakup mamalia kecil, burung lain, kodok, hingga ular. Nah, pilihan makanan burung ini sangat bergantung dengan wilayah penyebaran dan ketersediaan makanan. Sayangnya, ia masuk ke kategori vulnerable atau rentan. Tercatat, hanya tersisa sekitar 3,800-13,200 individu di alam liar.
2. Hering mesir punya risiko kepunahan yang tinggi

hering mesir (commons.wikimedia.org/Carlos Delgado) Data dari BirdLife DataZone menjelaskan kalau burung dengan nama ilmiah Neophron percnopterus ini masuk ke kategori endangered. Artinya, hewan ini memiliki risiko kepunahan yang tinggi dan populasinya terus menurun. Tercatat, hanya tersisa sekitar 12,400-36,000 individu di alam liar. Lebih lanjut, ancaman terbesar bagi burung ini adalah aktivitas manusia dan kerusakan habitat.
Burung yang bisa ditemukan di Afrika, Eropa, hingga Asia ini mudah dikenali dari dua hal, yaitu tubuhnya yang berwarna putih dan kepalanya yang berwarna kuning. Di alam liar, ia bukan burung yang pilah-pilih soal makanan. Bayangkan saja, burung ini bisa memakan apapun, mulai dari hewan kecil, material tanaman, bangkai, serangga, kotoran hewan, hingga kotoran manusia.
3. Bebek marmer hanya terancam di wilayah Mesir

bebek marmer (commons.wikimedia.org/Francis C. Franklin) Dilansir Animalia, Marmaronetta angustirostris atau bebek marmer bisa ditemukan di beberapa negara, seperti Mesir, China, Spanyol, Algeria, Palestina, Rusia, hingga India. Nah, penyebaran yang luas tersebut dapat tercapai karena bebek ini merupakan hewan migrasi. Jadi, di masa-masa tertentu ia akan berpindah tempat dalam rangka bereproduksi dan mencari tempat hidup yang baru.
Bebek ini cukup besar dengan panjang maksimal 42 centimeter. Tubuhnya berwarna cokelat, memiliki corak putih, dan punya paruh berwarna hitam legam. Biasanya, bebek marmer sering terlihat berenang di perairan dangkal atau bersantai di semak-semak. Di Mesir, ia memang sangat terancam. Uniknya populasinya di tempat lain cukup melimpah, bahkan terkadang bebek marmer juga dipelihara.
4. Alap-alap saker terancam oleh kerusakan habitat

alap-alap saker (commons.wikimedia.org/Quartl) Sama seperti hering mesir, Falco cherrug atau alap-alap saker masuk ke kategori engdangered atau terancam. Lebih lanjut, populasi burung ini kian merosot setiap tahunnya, bahkan populasi alap-alap saker di Kazakhstan terus menurun hingga 1,000 ekor setiap tahunnya. Secara global, populasinya juga tak melimpah, yaitu hanya menyisakan sekitar 7,200-8,000 individu di alam liar.
Alap-alap saker sangat terancam oleh dua hal, yaitu kerusakan habitat dan perburuan liar. Tentunya, penurunan populasi tersebut sangat mengkhawatirkan karena hewan ini merupakan hewan yang sangat unik. Pertama, alap-alap saker merupakan hewan tercepat ketiga di dunia dengan kecepatan yang mencapai 300 km/jam. Gak cuma itu, ia juga menjadi burung yang penting bagi masyarakat di Timur Tengah.
5. Bustard besar punya populasi yang kian menurun

bustard besar (commons.wikimedia.org/Francesco Veronesi) Berbeda dari burung lain di daftar ini, Otis tarda atau bustard besar merupakan burung terestrial. Artinya, ia lebih sering menghabiskan waktunya di daratan. Spesifiknya, laman Avibase menerangkan kalau burung ini bisa kamu temukan di savana, padang rumput, semak-semak, area terbuka, dan area pertanian. Di semua area tersebut, ia sering berkelana dan mencari makanan berupa serangga dan biji-bijian.
Seperti namanya, bustard besar merupakan burung berukuran besar dengan panjang 1 meter, bentang sayap mencapai 2,7 meter, dan bobot maksimal 21 kilogram. Meski besar, ternyata ia bisa terbang, lho. Tak cuma itu, bahkan burung ini menyandang gelar sebagai salah satu hewan terbesar yang bisa terbang. Sayangnya, populasi bustard besar terus menurun dan ia masuk ke kategori endangered atau terancam.
Ternyata, semua burung terancam punah yang ada di Mesir merupakan burung yang sangat unik dan ekostis. Sebab, mereka dianugerahi ciri fisik yang unik, kemampuan luar biasa, dan ciri khas yang gak bisa ditemukan pada burung lain. Oleh sebab itu, kita harus menjaga dan melestarikan mereka. Ancaman mereka juga sangat banyak, entah itu ancaman dari alam atau ancaman dari manusia itu sendiri.




















