ilustrasi gerhana bulan yang memukau astronom Eropa (unsplash.com/Dominic Brügger)
Pada 8 Desember 1573, seorang astronom muda bernama Tycho Brahe mengamati gerhana bulan yang telah ia prediksi sebelumnya. Yang membuat peristiwa ini menarik bukan sekadar gerhananya, melainkan reaksi Brahe terhadap keberhasilan perhitungan tersebut. NASA mencatat bahwa Brahe sangat terkejut karena pada usia 26 tahun ia mampu memperoleh hasil prediksi yang begitu akurat.
Bagi astronom abad ke-16, ketepatan seperti itu merupakan pencapaian besar. Mereka belum memiliki teleskop modern, komputer, satelit, atau perangkat lunak simulasi orbit. Prediksi gerhana harus dibangun dari tabel astronomi, pengamatan, matematika, serta pemahaman mengenai siklus benda langit. Ketika waktu yang dihitung sebelumnya ternyata cocok dengan peristiwa yang benar-benar terjadi di langit. Hal itu menunjukkan betapa kuatnya matematika dalam membaca pola alam.
Gerhana tersebut juga memiliki arti lebih besar dalam perjalanan sejarah astronomi. Tycho Brahe kemudian dikenal sebagai salah satu pengamat langit paling teliti sebelum era teleskop. Pengukuran planet yang dikumpulkannya kelak menjadi sangat penting bagi Johannes Kepler dalam merumuskan hukum gerak planet. Jadi, gerhana 1573 dapat dilihat sebagai bagian dari sebuah perubahan besar; manusia perlahan-lahan bergerak dari sekadar menyaksikan langit menuju kemampuan memprediksi kapan langit akan melakukan sesuatu. NASA mencatat kisah Brahe ini sebagai salah satu momen historis penting dalam sejarah pengamatan gerhana bulan.
Tujuh gerhana tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada satu wajah tunggal untuk gerhana bulan. Pada 1504, Bulan menjadi bagian dari strategi Christopher Columbus untuk memperoleh kembali bantuan makanan. Pada 1433, gerhana bulan muncul hanya sekitar dua minggu setelah gerhana matahari. Pada 1529, totalitas berlangsung kurang dari dua menit, sementara pada 1584 totalitas justru hampir menyentuh batas maksimum. Kemudian, setelah letusan Pinatubo, atmosfer Bumi membantu menghasilkan gerhana yang begitu gelap hingga Bulan hampir tidak terlihat.
Semua itu terjadi karena gerhana Bulan bukan sekadar persoalan Bulan masuk ke bayangan Bumi. Jarak Bulan dari Bumi, lintasan Bulan melewati umbra, posisi relatif Matahari-Bumi-Bulan, serta kondisi atmosfer Bumi ikut menentukan bagaimana gerhana terlihat dari permukaan planet kita. Bahkan warna merah yang sering dianggap sebagai ciri khas Blood Moon sebenarnya merupakan hasil interaksi cahaya Matahari dengan atmosfer Bumi. Debu vulkanik dan aerosol dapat mengubahnya menjadi jauh lebih gelap, sementara atmosfer yang lebih bersih dapat menghasilkan warna tembaga atau merah yang lebih terang.
Pada akhirnya, mungkin justru itulah sisi paling menarik dari gerhana bulan. Bulan yang sama dapat terlihat sangat berbeda hanya karena Bumi sedang berada dalam kondisi yang berbeda. Ia bisa menjadi merah seperti bara, cokelat gelap, nyaris hitam, atau sekadar sedikit meredup. Selama berabad-abad, manusia menafsirkan perubahan tersebut melalui mitologi, agama, politik, dan ketakutan. Kini kita dapat menjelaskannya dengan mekanika orbit, atmosfer, optik, dan fisika cahaya. Namun, ketika Bulan perlahan masuk ke bayangan Bumi dan malam menjadi terasa berbeda, barangkali masih ada sedikit rasa takjub yang sama seperti yang dirasakan manusia ribuan tahun lalu—langit sedang melakukan sesuatu yang tidak terjadi setiap malam.
Referensi
Bruce McClure. (2018). “Century’s longest lunar eclipse July 27”. Article of EarthSky.
F. Richard Stephenson. (2026). “Medieval Islamic”. Eclipse in History Article of Britannica.
Fred Espenak. (2005). “Danjon Scale of Lunar Eclipse Brightness”. Article of NASA Eclipse Data.
Fred Espenak. (2009). “Lunar Eclipses of Historical Interest”. NASA Eclipse Data.
Fred Espenak. (2015). “Catalog of Lunar Eclipses of Historical Interest”. EclipseWise.
Maria Muñoz Morillo. (2026). “How Christopher Columbus used an eclipse to save his life in Jamaica”. Article of Euro News.
Mark A. Stein. (1992). “Lunar Eclipse to Be Visible at Sunset : Astronomy: Earth’s shadow is expected to be especially dark because of ash in the atmosphere from volcanic eruptions”. Article of Los Angeles Times.
Martin Ratcliffe & Alister Ling. (2023). “A brief glimpse of totality”. Article of Astronomy Magazine.
Mitzi Adams. (2018). “Total Lunar Eclipse”. Article of NASA.
Tanya Hill. (2015). “Be prepared for the shortest total lunar eclipse of the century”. Article of Special Broadcasting Service News.