Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Gerhana Bulan Paling Aneh dalam Sejarah, Ada yang Dipakai Columbus!
ilustrasi gerhana bulan yang istimewa dalam sejarah (unsplash.com/Richard Lin)
  • Gerhana bulan 1504 dimanfaatkan Christopher Columbus di Jamaika untuk memperoleh bantuan makanan, setelah ia memprediksi totalitas sekitar 47 menit 36 detik.
  • Keunikan durasi terlihat pada totalitas 1529 yang hanya 1 menit 41 detik, sementara gerhana 1584 hampir mencapai batas teoretis dengan 1 jam 46 menit 5 detik.
  • Kondisi orbit dan atmosfer menentukan tampilan gerhana: peristiwa 1992 pasca-Pinatubo membuat Bulan nyaris tak terlihat, sedangkan 2018 mencatat totalitas terpanjang abad ke-21, sekitar 1 jam 43 menit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gerhana bulan sering dianggap sebagai fenomena yang lebih “ramah” daripada gerhana matahari. Kita tidak perlu berada di jalur sempit tertentu untuk melihatnya. Cukup berada di sisi malam Bumi ketika purnama masuk ke dalam bayangan Bumi, lalu perlahan-lahan wajah Bulan berubah. Namun, justru karena prosesnya berlangsung di depan mata dan dapat diamati dari wilayah yang sangat luas, gerhana bulan sejak dahulu memiliki tempat khusus dalam sejarah manusia. Bagi peradaban kuno, Bulan yang tiba-tiba menggelap bukan sekadar permainan cahaya, melainkan sesuatu yang bisa ditafsirkan sebagai pertanda politik, bencana, atau bahkan hukuman dari langit.

Yang membuat beberapa gerhana bulan semakin menarik adalah kenyataan bahwa tidak semuanya tampak merah terang; seperti gambaran Blood Moon yang populer di media sosial. Ada gerhana yang membuat Bulan hampir tidak terlihat, ada yang totalitasnya hanya berlangsung sekitar satu setengah menit, ada yang berlangsung hampir selama batas maksimum teoretis, dan ada pula yang dimanfaatkan Christopher Columbus untuk meyakinkan penduduk Jamaika agar kembali membantu rombongannya. Berikut tujuh gerhana bulan paling aneh dan menarik dalam sejarah, berdasarkan keunikan astronomis maupun kisah yang mengiringinya. Yuk, kita telusuri!

1. Gerhana bulan 1504, dipakai Columbus untuk menakut-nakuti penduduk Jamaika

ilustrasi gerhana bulan yang punya kisah di masa lalu (pexels.com/Fernanda Gomez de la torre)

Bayangkan sebuah kapal asing terdampar di sebuah pulau. Persediaan makanan menipis, hubungan dengan penduduk setempat memburuk, sementara para pelaut membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. Dalam situasi seperti itu, sebuah fenomena langit tiba-tiba menjadi “kartu truf”. Itulah yang terjadi dalam kisah terkenal mengenai Christopher Columbus dan gerhana bulan pada 1 Maret 1504—yang secara lokal di wilayah Amerika berlangsung pada malam 29 Februari menurut penanggalan waktu setempat. NASA mencatatnya sebagai salah satu gerhana bulan bersejarah yang dikenal dengan nama Columbus’ Eclipse.

Columbus mengetahui bahwa gerhana akan terjadi karena ia membawa pengetahuan astronomi dan almanak. Menurut kisah yang diwariskan melalui putranya, Ferdinand Columbus, para penduduk Jamaika dibuat ketakutan ketika Bulan perlahan berubah gelap. Columbus kemudian menggunakan situasi tersebut untuk memberi kesan bahwa ia memiliki kemampuan berkomunikasi dengan kekuatan langit. Dalam catatan sejarah NASA, penduduk kemudian datang dengan membawa makanan dan memohon agar kebutuhan rombongan Columbus terus dipenuhi. Dengan kata lain, prediksi astronomi berubah menjadi alat negosiasi dan intimidasi psikologis.

Secara astronomis, gerhana itu sendiri sebenarnya tidak memiliki hubungan mistis dengan Columbus. NASA mencatat gerhana tersebut sebagai gerhana total dengan totalitas sekitar 47 menit 36 detik. Keunikannya justru berada pada bagaimana pengetahuan tentang siklus langit dapat digunakan manusia dalam konteks sosial dan politik. Kisah ini juga mengingatkan bahwa astronomi pada masa lalu bukan sekadar ilmu untuk menghitung posisi benda langit. Bagi seseorang yang mampu memprediksi sesuatu yang dianggap misterius oleh orang lain, langit dapat berubah menjadi sumber kekuasaan.

2. Gerhana bulan 1433, datang hanya 15 hari setelah gerhana matahari

ilustrasi gerhana bulan yang sudah diamati ribuan tahun lalu (pexels.com/Tim & Martin Klement)

Kalau melihat kalender astronomi modern, gerhana matahari dan bulan sebenarnya dapat terjadi dalam satu musim gerhana yang sama. Namun, bagi manusia pada masa lalu, menyaksikan dua peristiwa tersebut berdekatan tentu terasa sangat luar biasa. Salah satu contohnya terjadi pada 1433, ketika sebuah gerhana matahari diikuti gerhana bulan hanya sekitar 15 hari kemudian. NASA mencatat peristiwa ini sebagai salah satu kejadian langka dalam sejarah pengamatan gerhana.

Catatan sejarawan Mesir al-Maqrizi menggambarkan peristiwa tersebut dengan cukup menarik. Ia mencatat bahwa pada 2 Juli 1433 terjadi gerhana Matahari yang cukup besar dan menyebabkan kegelapan sehingga beberapa bintang terlihat. Kemudian, pada malam 17 Juli, Bulan kembali mengalami gerhana. NASA menyebut rangkaian tersebut sebagai Two Eclipses in 15 Days dan mengutip catatan al-Maqrizi sebagai bukti historisnya.

Secara sains, sebenarnya tidak ada yang aneh dalam arti melanggar hukum astronomi. Gerhana Matahari dan gerhana Bulan dapat terjadi berdekatan karena keduanya berlangsung ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam konfigurasi yang tepat selama musim gerhana. Namun, bagi pengamat abad ke-15 yang belum memiliki simulasi komputer, melihat Matahari dan Bulan sama-sama mengalami kegelapan dalam waktu hanya dua minggu, tentu merupakan pengalaman yang sangat mengesankan. Fenomena ini memperlihatkan betapa kalender astronomi modern dapat menjelaskan sesuatu yang dahulu mungkin tampak seperti rangkaian pertanda dari langit.

3. Gerhana bulan 1529, totalitasnya cuma sekitar 1 menit 41 detik

ilustrasi gerhana bulan yang pernah terjadi sangat cepat (pexels.com/Alexander Gluschenko)

Biasanya ketika membicarakan gerhana bulan total, kita membayangkan Bulan berubah perlahan menjadi merah selama puluhan menit. Tetapi ada gerhana yang sangat berbeda. Pada 17 Oktober 1529, gerhana bulan total hanya berlangsung sekitar 1 menit 41 detik, menjadikannya totalitas terpendek pada abad ke-16 menurut katalog NASA. Bayangkan sudah menunggu Bulan memasuki seluruh bayangan inti Bumi, tetapi ketika seluruh piringannya akhirnya berada di dalam umbra, fase totalnya hanya berlangsung sebentar sebelum Bulan mulai keluar lagi.

Perbedaan durasi tersebut berkaitan erat dengan geometri lintasan Bulan melewati bayangan Bumi. Untuk mendapatkan totalitas yang panjang, Bulan perlu melintasi bagian yang relatif dekat dengan pusat umbra Bumi. Sebaliknya, ketika lintasannya hanya menyentuh bagian tepi umbra, totalitas dapat menjadi sangat singkat. Karena itu, dua gerhana Bulan total tidak selalu memiliki “pertunjukan” dengan durasi yang sama. Posisi Bulan terhadap bidang orbit dan pusat bayangan Bumi sangat menentukan berapa lama seluruh piringan Bulan berada di dalam umbra.

Yang lebih menarik, gerhana 1529 hampir berada di batas antara total dan sebagian. Katalog NASA mencatat umbra magnitude sekitar 1,0001, yang berarti ukuran bayangan inti Bumi yang menutupi Bulan hanya sedikit lebih besar daripada diameter Bulan. Dengan kata lain, Bulan benar-benar “nyaris lolos” dari gerhana total. Inilah yang membuat gerhana tersebut menarik secara geometris. Bukan karena warnanya, melainkan karena Bulan hanya masuk sedikit lebih jauh ke dalam bayangan Bumi sebelum keluar kembali.

4. Gerhana bulan 1584, totalitasnya hampir menyentuh batas maksimum

ilustrasi gerhana bulan yang pernah terjadi sangat lama (unsplash.com/Lorin Both)

Jika gerhana 1529 merupakan contoh totalitas yang sangat singkat, maka 24 Mei 1584 berada di sisi ekstrem yang berlawanan. NASA mencatatnya sebagai gerhana bulan total terlama pada abad ke-16, dengan totalitas sekitar 1 jam 46 menit 5 detik. Durasi tersebut sangat panjang untuk sebuah gerhana bulan. Itu menunjukkan betapa berbeda geometri lintasan Bulan dapat menghasilkan pengalaman pengamatan yang ekstrem.

Mengapa bisa selama itu? Ketika Bulan melintasi bagian tengah bayangan umbra Bumi, ia harus menempuh jarak yang lebih jauh sebelum seluruh piringannya keluar dari bayangan. Kecepatan orbit Bulan juga bukan angka yang benar-benar konstan karena orbitnya berbentuk elips. Ketika Bulan berada lebih jauh dari Bumi, gerak orbitnya relatif lebih lambat. Kombinasi antara lintasan yang mendekati pusat bayangan dan kondisi orbital tersebut dapat membuat totalitas berlangsung sangat lama.

Yang membuat angka 1 jam 46 menit 5 detik semakin menarik adalah kedekatannya dengan batas teoritis. NASA mencatat bahwa durasi maksimum teoretis totalitas gerhana Bulan dapat berada di kisaran 1 jam 47 menit, bergantung pada konfigurasi geometrinya. Jadi, gerhana 1584 bukan sekadar lama, ia merupakan contoh gerhana yang secara geometris mendekati kondisi paling ideal untuk menghasilkan totalitas panjang. Bagi pengamat masa itu, Bulan seolah-olah terperangkap di dalam bayangan Bumi selama hampir dua jam.

5. Gerhana bulan 1992, membuat Bulan hampir tidak terlihat

ilustrasi gerhana yang nyaris menghilangkan bulan (unsplash.com/Alexander Gluschenko)

Inilah salah satu gerhana bulan paling aneh secara visual. Kita sering menganggap gerhana total identik dengan Blood Moon—Bulan berubah menjadi merah, jingga, atau tembaga. Namun, tidak semua gerhana total memiliki warna dramatis seperti itu. Pada kondisi atmosfer tertentu, Bulan justru dapat menjadi sangat gelap hingga hampir menghilang dari pandangan.

Salah satu contoh ekstrem terjadi pada 9 Desember 1992, sekitar satu setengah tahun setelah letusan dahsyat Gunung Pinatubo di Filipina pada Juni 1991. Letusan tersebut menyuntikkan sejumlah besar material vulkanik ke atmosfer, termasuk aerosol yang dapat memengaruhi cara cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi. NASA menjelaskan bahwa gerhana total setelah letusan gunung berapi besar cenderung menjadi sangat gelap. Pada gerhana Desember 1992, piringan Bulan yang redup bahkan dilaporkan sulit dilihat dengan mata telanjang.

Fenomena ini sebenarnya merupakan konsekuensi dari cara Bulan mendapatkan cahaya ketika berada dalam bayangan Bumi. Cahaya Matahari yang mencapai Bulan selama gerhana total tidak benar-benar hilang seluruhnya. Sebagian cahaya dibelokkan dan disaring melalui atmosfer Bumi. Atmosfer lebih banyak menyebarkan cahaya biru, sementara cahaya dengan panjang gelombang lebih merah dapat diteruskan dan dibelokkan menuju Bulan. Itulah sebabnya Bulan sering tampak merah. Namun, ketika atmosfer dipenuhi aerosol vulkanik, lebih sedikit cahaya yang berhasil mencapai Bulan. Hasilnya adalah gerhana yang jauh lebih gelap. NASA bahkan menggunakan Danjon Scale untuk mengklasifikasikan kecerahan gerhana, dengan kategori L=0 berarti Bulan hampir tidak terlihat saat totalitas.

6. Gerhana bulan 2018, membuat Bulan hilang lebih dari 100 menit

ilustrasi gerhana bulan yang pernah terjadi 100 menit (pixabay.com/ignacioroga)

Pada 27 Juli 2018, langit menghadirkan salah satu gerhana bulan paling spektakuler abad ke-21. Totalitas berlangsung sekitar 1 jam 43 menit, menjadikannya totalitas gerhana bulan terpanjang pada abad ke-21. NASA menjelaskan bahwa salah satu alasan utamanya adalah Bulan sedang berada dekat apoge, yaitu titik terjauh orbitnya dari Bumi. Pada posisi yang lebih jauh tersebut, Bulan bergerak lebih lambat sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk melewati bayangan Bumi.

Gerhana tersebut juga sangat menarik karena Bulan melewati bagian yang sangat dalam dari bayangan Bumi. NASA menjelaskan bahwa posisi Bulan yang hampir tepat berada pada garis yang menghubungkan Matahari, Bumi, dan Bulan turut memperpanjang waktu yang dihabiskan di dalam umbra. Akibatnya, totalitas berlangsung sangat lama. Secara keseluruhan, Bulan membutuhkan hampir empat jam untuk melewati seluruh fase gerhana dari awal masuk penumbra hingga keluar kembali.

Ada pula efek visual yang membuatnya semakin populer. Ketika totalitas berlangsung, Bulan berubah menjadi merah gelap atau jingga kemerahan akibat cahaya Matahari yang telah melewati atmosfer Bumi. Karena berada jauh dari Bumi, diameter tampak Bulan juga relatif kecil dibandingkan ketika berada di perige. Jadi, gerhana 2018 merupakan kombinasi menarik antara Bulan yang relatif kecil, lintasan yang dalam di umbra, dan totalitas yang sangat panjang. NASA menyebut durasi totalitasnya sekitar 1 jam 43 menit dan menjadikannya rekor abad ke-21 pada saat itu.

7. Gerhana bulan 1573, membuat astronom Eropa terpukau oleh ketepatan prediksi

ilustrasi gerhana bulan yang memukau astronom Eropa (unsplash.com/Dominic Brügger)

Pada 8 Desember 1573, seorang astronom muda bernama Tycho Brahe mengamati gerhana bulan yang telah ia prediksi sebelumnya. Yang membuat peristiwa ini menarik bukan sekadar gerhananya, melainkan reaksi Brahe terhadap keberhasilan perhitungan tersebut. NASA mencatat bahwa Brahe sangat terkejut karena pada usia 26 tahun ia mampu memperoleh hasil prediksi yang begitu akurat.

Bagi astronom abad ke-16, ketepatan seperti itu merupakan pencapaian besar. Mereka belum memiliki teleskop modern, komputer, satelit, atau perangkat lunak simulasi orbit. Prediksi gerhana harus dibangun dari tabel astronomi, pengamatan, matematika, serta pemahaman mengenai siklus benda langit. Ketika waktu yang dihitung sebelumnya ternyata cocok dengan peristiwa yang benar-benar terjadi di langit. Hal itu menunjukkan betapa kuatnya matematika dalam membaca pola alam.

Gerhana tersebut juga memiliki arti lebih besar dalam perjalanan sejarah astronomi. Tycho Brahe kemudian dikenal sebagai salah satu pengamat langit paling teliti sebelum era teleskop. Pengukuran planet yang dikumpulkannya kelak menjadi sangat penting bagi Johannes Kepler dalam merumuskan hukum gerak planet. Jadi, gerhana 1573 dapat dilihat sebagai bagian dari sebuah perubahan besar; manusia perlahan-lahan bergerak dari sekadar menyaksikan langit menuju kemampuan memprediksi kapan langit akan melakukan sesuatu. NASA mencatat kisah Brahe ini sebagai salah satu momen historis penting dalam sejarah pengamatan gerhana bulan.

Tujuh gerhana tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada satu wajah tunggal untuk gerhana bulan. Pada 1504, Bulan menjadi bagian dari strategi Christopher Columbus untuk memperoleh kembali bantuan makanan. Pada 1433, gerhana bulan muncul hanya sekitar dua minggu setelah gerhana matahari. Pada 1529, totalitas berlangsung kurang dari dua menit, sementara pada 1584 totalitas justru hampir menyentuh batas maksimum. Kemudian, setelah letusan Pinatubo, atmosfer Bumi membantu menghasilkan gerhana yang begitu gelap hingga Bulan hampir tidak terlihat.

Semua itu terjadi karena gerhana Bulan bukan sekadar persoalan Bulan masuk ke bayangan Bumi. Jarak Bulan dari Bumi, lintasan Bulan melewati umbra, posisi relatif Matahari-Bumi-Bulan, serta kondisi atmosfer Bumi ikut menentukan bagaimana gerhana terlihat dari permukaan planet kita. Bahkan warna merah yang sering dianggap sebagai ciri khas Blood Moon sebenarnya merupakan hasil interaksi cahaya Matahari dengan atmosfer Bumi. Debu vulkanik dan aerosol dapat mengubahnya menjadi jauh lebih gelap, sementara atmosfer yang lebih bersih dapat menghasilkan warna tembaga atau merah yang lebih terang.

Pada akhirnya, mungkin justru itulah sisi paling menarik dari gerhana bulan. Bulan yang sama dapat terlihat sangat berbeda hanya karena Bumi sedang berada dalam kondisi yang berbeda. Ia bisa menjadi merah seperti bara, cokelat gelap, nyaris hitam, atau sekadar sedikit meredup. Selama berabad-abad, manusia menafsirkan perubahan tersebut melalui mitologi, agama, politik, dan ketakutan. Kini kita dapat menjelaskannya dengan mekanika orbit, atmosfer, optik, dan fisika cahaya. Namun, ketika Bulan perlahan masuk ke bayangan Bumi dan malam menjadi terasa berbeda, barangkali masih ada sedikit rasa takjub yang sama seperti yang dirasakan manusia ribuan tahun lalu—langit sedang melakukan sesuatu yang tidak terjadi setiap malam.

Referensi

Bruce McClure. (2018). “Century’s longest lunar eclipse July 27”. Article of EarthSky.

F. Richard Stephenson. (2026). “Medieval Islamic”. Eclipse in History Article of Britannica.

Fred Espenak. (2005). “Danjon Scale of Lunar Eclipse Brightness”. Article of NASA Eclipse Data.

Fred Espenak. (2009). “Lunar Eclipses of Historical Interest”. NASA Eclipse Data.

Fred Espenak. (2015). “Catalog of Lunar Eclipses of Historical Interest”. EclipseWise.

Maria Muñoz Morillo. (2026). “How Christopher Columbus used an eclipse to save his life in Jamaica”. Article of Euro News.

Mark A. Stein. (1992). “Lunar Eclipse to Be Visible at Sunset : Astronomy: Earth’s shadow is expected to be especially dark because of ash in the atmosphere from volcanic eruptions”. Article of Los Angeles Times.

Martin Ratcliffe & Alister Ling. (2023). “A brief glimpse of totality”. Article of Astronomy Magazine.

Mitzi Adams. (2018). “Total Lunar Eclipse”. Article of NASA.

Tanya Hill. (2015). “Be prepared for the shortest total lunar eclipse of the century”. Article of Special Broadcasting Service News.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article