Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gempa Susulan Masih Terjadi, Apakah Benar Arah Gempa Makin ke Timur?

Gempa Susulan Masih Terjadi, Apakah Benar Arah Gempa Makin ke Timur?
Ilustrasi gempa. (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Ribuan gempa susulan terjadi setelah gempa magnitudo 7,7 di Flores pada 15 Agustus 2026, dengan episenter meluas ke barat dan sebagian guncangan terasa di Labuan Bajo.
  • Sebaran titik gempa ke arah Manggarai Barat belum membuktikan migrasi aktivitas; penilaian memerlukan analisis lokasi, kedalaman, waktu, magnitudo, mekanisme sumber, dan laju gempa susulan.
  • Risiko utama meliputi keruntuhan bangunan rusak dan longsor. Warga diminta menghindari bangunan retak, memahami evakuasi pesisir, serta mengikuti informasi resmi BMKG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ribuan gempa susulan masih mengguncang Flores setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Dalam perkembangannya, sejumlah episenter terlihat tersebar semakin luas ke arah barat Flores, termasuk di sekitar Manggarai dan Manggarai Timur.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat Manggarai Barat. Apalagi, sejumlah gempa susulan dalam beberapa hari terakhir terasa hingga Labuan Bajo. Lantas, apakah titik-titik gempa yang terlihat semakin mendekati Manggarai Barat berarti aktivitas gempa sedang bergerak ke wilayah tersebut?

  1. Bukti gempa bermigrasi belum cukup

    Edukator Mitigasi Bencana, Daryono, menyebut ada indikasi sebaran aftershock atau gempa susulan meluas ke arah barat, tetapi belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa aktivitas gempa benar-benar bermigrasi ke Manggarai Barat. Untuk memastikannya, diperlukan analisis secara spasial dan temporal.

    Dengan kata lain, titik gempa yang terlihat bergeser tidak otomatis berarti energi gempa sedang bergerak menuju Manggarai Barat.

    “Yang lebih tepat adalah melihat kemungkinan redistribusi tegangan atau perubahan aktivitas pada segmen sesar di sekitarnya,” ujarnya kepada IDN Times.

    Setelah gempa besar terjadi, kerak bumi di sekitar sumber gempa masih mengalami proses penyesuaian. Proses inilah yang menghasilkan rangkaian aftershock. BMKG juga menjelaskan bahwa pola aktivitas aftershock Flores masih kompleks dan pada fase awal belum menunjukkan peluruhan yang signifikan.

    Karena gempa susulan dapat terjadi di bagian-bagian lain dari sistem sesar, titik episenternya bisa tersebar dan membentuk pola memanjang atau bergerombol.

  2. Tidak cukup hanya melihat episenter

    Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Sukma Shakti)
    Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Sukma Shakti)

    Untuk menentukan apakah aktivitas gempa benar-benar bermigrasi, Daryono mengatakan lokasi episenter saja tidak cukup. Ada sejumlah parameter lain yang perlu dianalisis, yakni kedalaman, waktu kejadian, magnitudo, mekanisme sumber, serta pola laju aftershock.

    Jika seluruh parameter tersebut menunjukkan pola yang konsisten menuju arah tertentu, barulah indikasi migrasi aktivitas gempa dapat dinilai lebih kuat. Karena itu, peta yang memperlihatkan ribuan titik gempa tidak bisa serta-merta dibaca sebagai gambaran bahwa ‘gempa bergerak’ dari timur menuju Manggarai Barat.

    Kedekatan episenter memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi guncangan yang dirasakan suatu wilayah. Namun, kuat-lemahnya guncangan juga dipengaruhi oleh magnitudo, kedalaman, mekanisme sumber, arah radiasi energi, serta kondisi tanah setempat.

    Karena itu, munculnya episenter yang lebih dekat ke Manggarai Barat tidak otomatis berarti wilayah tersebut akan mengalami guncangan yang lebih kuat atau menghadapi gempa yang lebih besar. Meski demikian, aktivitas gempa yang masih tinggi membuat kewaspadaan tetap diperlukan.

  3. Risiko yang mesti diwaspadai

    Menurut peneliti, risiko yang paling perlu diperhatikan dari gempa susulan adalah keruntuhan bangunan yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan akibat gempa utama. Gempa susulan dengan kekuatan tertentu dapat memberikan beban tambahan pada bangunan yang struktur atau komponennya telah melemah. Karena itu, masyarakat diminta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman.

    BMKG juga mengimbau masyarakat menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa dan tetap mengikuti informasi resmi. Selain bangunan, wilayah lereng juga perlu diperhatikan karena guncangan dapat memicu longsor, terutama pada daerah yang memiliki kondisi tanah atau lereng yang rentan.

    Risiko tsunami tidak otomatis mengikuti setiap gempa susulan. Namun, masyarakat pesisir tetap perlu mengetahui langkah evakuasi. Jika merasakan gempa kuat yang berlangsung cukup lama, mereka harus segera menjauh dari pantai dan mengikuti arahan resmi apabila peringatan tsunami dikeluarkan.

    Dengan demikian, munculnya lebih banyak titik gempa ke arah barat Flores belum bisa diartikan sebagai bukti bahwa aktivitas gempa sedang berjalan menuju Manggarai Barat.

    Ada indikasi sebaran aftershock meluas ke arah barat, tetapi diperlukan analisis lebih lanjut terhadap lokasi, kedalaman, waktu, magnitudo, mekanisme sumber, dan laju gempa untuk memastikan apakah terjadi migrasi aktivitas.

    Di sisi lain, fakta bahwa gempa susulan masih berlangsung dan beberapa di antaranya sudah dirasakan di Manggarai Barat membuat kewaspadaan tetap penting.

    Bagi masyarakat, langkah paling konkret bukan menebak ke mana gempa berikutnya akan terjadi, melainkan memastikan bangunan tempat tinggal aman, menghindari bangunan yang telah rusak, mewaspadai potensi longsor, serta mengikuti informasi resmi BMKG.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More