ilustrasi kanguru pohon wondiwoi (commons.wikimedia.org/מנחם.אל)
Ternyata ada satu lagi spesies kanguru pohon endemik yang turut terancam punah di Pulau Papua. Nama mereka kanguru pohon wondiwoi atau unijo wondiwoi (Dendrolagus mayri), sosok yang selama kurang lebih 90 tahun dikira punah, tetapi kembali ditemukan. Marsupial imut ini sempat dikira punah pada 1928 setelah hanya terlihat satu kali pada saat itu. Namun, sekitar 2018 silam, seorang ahli alam asal Britania Raya, Michael Smith, beserta tim lintas negara—termasuk peneliti Indonesia—berhasil menemukan hewan ini lagi di Pegunungan Wondiwoi, Papua Barat, dilansir National Geographic.
Sesuai dengan lokasi penemuan terakhir, persebaran kanguru pohon wondiwoi memang hanya berada di kawasan Pegunungan Wondiwoi atau tak lebih dari 300 km persegi. Namun, mereka tinggal di kawasan yang cukup terpencil karena berada pada ketinggian antara 1.600–1.700 meter di atas permukaan laut. Sesuai dengan nama yang diberikan, kemampuan memanjat kanguru pohon wondiwoi ini tidak bisa dianggap remeh, lho.
Hewan dengan warna rambut cokelat di punggung dan krem di dada ini punya tangan yang kuat untuk mencengkeram dan menahan bobot tubuh, sekitar 15 kg, di dahan pohon. Malahan, mereka sering berada di pohon-pohon tinggi sambil berbaur dengan sempurna sehingga sulit untuk diidentifikasi. Sayangnya, saking misterius dan sulitnya untuk menemukan marsupial ini, belum banyak fakta lain yang kita ketahui.
Yang jelas, saat ini IUCN Red List menempatkan kanguru pohon wondiwoi dalam kategori hewan kritis (Critically Endangered) dengan tren populasi yang menurun. Perkiraan kasar soal jumlah individu disebut tak lebih dari 50 ekor, mengingat begitu terbatasnya persebaran mereka. Sementara itu, ancaman terbesar yang dihadapi kanguru pohon wondiwoi ialah perburuan liar oleh manusia jika titik keberadaan mereka benar-benar sudah diketahui.
Ternyata ada banyak hewan endemik Pulau Papua yang saat ini berstatus konservasi sangat mengkhawatirkan. Dari daftar di atas, kita bisa menarik satu benang merah kalau kondisi yang mereka alami saat ini banyak disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab dalam merusak alam. Ini seharusnya sudah jadi alarm bahaya bagi seluruh pihak agar sama-sama mengevaluasi dan menjaga keanekaragaman hayati di Papua agar tetap lestari, bukan sekadar dijadikan lahan baru untuk mengeruk pundi-pundi uang.