Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla Bisa Melahirkan Awan Badai Raksasa, Ini Penjelasannya
ilustrasi awan badai (unsplash.com/Justin Wolff)
  • Karhutla berintensitas tinggi memanaskan udara, mengangkat asap, abu, gas, dan uap air hingga beberapa kilometer ke atmosfer.
  • Saat udara panas mendingin, uap air mengembun membentuk awan pyrocumulonimbus, yang dapat menjulang hingga troposfer atas atau stratosfer bawah jika kondisi mendukung.
  • Awan pyrocumulonimbus dapat memicu petir, hujan es, dan angin kencang yang membawa bara ke area lain, sehingga berpotensi memperluas kebakaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan cuma menghasilkan asap tebal yang menyelimuti langit, tetapi juga bisa memicu terbentuknya awan raksasa. Fenomena langka ini bahkan dapat membuat langit di atas lokasi kebakaran tampak seperti sedang dilanda badai. Mengutip dari NASA, kebakaran yang sangat intens bisa memanaskan udara hingga naik dengan cepat sambil membawa asap, abu, dan uap air ke atmosfer.

Ketika udara panas tersebut naik dan mendingin, uap air dapat mengembun dan membentuk awan yang menyerupai awan badai. Dalam kondisi ekstrem, awan ini bisa berkembang menjadi pyrocumulonimbus, yaitu awan badai yang terbentuk akibat panas dari kebakaran. Lalu, bagaimana proses terbentuknya awan raksasa tersebut dan apa dampaknya bagi Bumi? Yuk, simak lebih lanjut di bawah ini!

1. Panas karhutla mengangkat asap hingga menjulang ke langit

ilustrasi asap karhutla (pexels.com/Alexandre P. Junior)

Ketika karhutla terjadi, panas dari api tidak hanya membakar pepohonan, tetapi juga membuat udara di sekitarnya memanas dan bergerak naik. Mengutip dari NASA Earth Observatory, kepulan asap dari kebakaran yang intens dapat menjulang hingga beberapa kilometer di atas permukaan Bumi. Proses ini terjadi karena udara panas cenderung naik sambil membawa partikel asap dan gas hasil pembakaran ke atmosfer.

Semakin kuat kebakaran, semakin besar pula energi panas yang dapat mendorong kepulan asap ke atas, meski kondisi angin dan cuaca juga berpengaruh. Dalam pengamatan kebakaran di California pada 2018, satelit NASA mendeteksi kepulan asap yang mencapai ketinggian sekitar 2–3 kilometer. Namun, perjalanan asap tidak selalu berhenti pada ketinggian yang sama karena bergantung pada kekuatan api dan kondisi atmosfer di sekitarnya.

2. Asap dan api memicu lahirnya awan pyrocumulonimbus

ilustrasi awan pyrocumulonimbus (pexels.com/Pixabay)

Awan pyrocumulonimbus terbentuk ketika kebakaran hutan menghasilkan panas yang sangat kuat hingga mendorong udara, asap, dan uap air naik ke atmosfer. NASA Earth Observatory menjelaskan, awan ini muncul ketika kebakaran mengangkat cukup banyak panas dan kelembapan untuk memicu badai petir. Saat udara panas naik dan mendingin, uap air mengembun menjadi butiran air atau kristal es yang membentuk awan.

Jika energi panas dan kondisi atmosfer mendukung, awan tersebut bisa tumbuh semakin tinggi hingga menyerupai awan badai raksalqsa. Fenomena ini didukung oleh studi yang terbit dalam jurnal Communications Earth & Environment pada 2022, yang mana menemukan bahwa kebakaran berintensitas tinggi dapat memicu awan pyrocumulonimbus yang menjulang hingga troposfer atas, bahkan stratosfer bawah. Namun, tidak semua kebakaran menghasilkan awan ini karena pembentukannya bergantung pada intensitas api, kelembapan, dan kondisi atmosfer di sekitarnya.

3. Dari kebakaran hutan menjadi badai raksasa di atmosfer

ilustrasi awan pyrocumulonimbus (unsplash.com/Johannes Plenio)

Awan pyrocumulonimbus tidak hanya menjulang tinggi, tetapi juga bisa berkembang menjadi badai yang memengaruhi kondisi cuaca di sekitarnya. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Communications Earth & Environment pada 2022, badai yang dipicu kebakaran berintensitas tinggi ini dapat menghasilkan petir, hujan es, dan angin kencang. Angin tersebut berpotensi membawa bara ke area lain sehingga memicu titik api baru dan memperluas kebakaran.

Dalam kondisi tertentu, badai ini juga dapat mengangkat asap hingga ke lapisan atmosfer yang sangat tinggi. Dilansir NASA, para ilmuwan terus meneliti awan badai yang terbentuk akibat kebakaran untuk memahami proses pembentukannya dan memperkirakan bahayanya. Fenomena ini menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar menghasilkan asap, tetapi juga dapat memicu cuaca ekstrem yang membuat kebakaran semakin sulit dikendalikan

Karhutla ternyata tidak hanya merusak hutan dan menghasilkan asap, tetapi juga bisa memicu terbentuknya badai raksasa yang memperburuk kondisi kebakaran. Meski fenomena pyrocumulonimbus tidak terjadi pada setiap kebakaran, keberadaannya menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara api dan atmosfer. Menurutmu, apakah fenomena alam seekstrem ini sudah cukup mendapat perhatian dalam upaya penanganan karhutla di Indonesia?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article