Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Sebagian Kebakaran Hutan Sulit Dipadamkan Secara Konvensional?
ilustrasi kebakaran hutan (commons.wikimedia.org/Penitentes)

Memadamkan kebakaran hutan bukan hanya persoalan menghentikan nyala api, karena api dapat terus mendapat panas dan oksigen dari lingkungan di sekitarnya. Cara api bergerak juga berbeda-beda bergantung pada jenis bahan bakar, kadar air vegetasi, bentuk lahan, dan kondisi atmosfer.

Pada kebakaran tertentu, sumber panas bahkan dapat berada di bawah permukaan sehingga tidak terlihat dari udara. Sebenarnya, apa penyebab kebakaran hutan sulit dipadamkan secara konvensional, padahal pemadaman sudah dilakukan?

1. Air tidak selalu mampu mencapai bagian yang terbakar

ilustrasi smoldering fire (commons.wikimedia.org/U.S. Fish and Wildlife Service Northeast Region)

Air bekerja dengan menyerap panas sehingga suhu bahan bakar turun dan pembakaran berhenti. Persoalannya, kebakaran hutan tidak selalu terjadi pada bahan bakar yang mudah ditembus air. Serasah tebal, kayu lapuk, akar, dan terutama gambut memiliki banyak rongga sehingga bagian yang terbakar dapat berada di bawah lapisan permukaan.

Pada kebakaran gambut, misalnya, api dapat berlangsung sebagai smoldering fire. Proses ini tidak menghasilkan nyala besar, tetapi material organik tetap mengalami pembakaran secara perlahan dengan pasokan oksigen terbatas. Air yang hanya membasahi permukaan belum tentu mampu mencapai bagian yang sedang membara, sehingga suhu di dalam lapisan tersebut tetap cukup tinggi untuk mempertahankan pembakaran. Inilah sebabnya satu kawasan dapat terlihat sudah padam, tetapi beberapa waktu kemudian kembali ditemukan titik panas.

2. Angin mengubah pasokan oksigen dan mempercepat penyebaran api

ilustrasi kebakaran hutan (commons.wikimedia.org/The National Guard)

Api membutuhkan oksigen agar pembakaran terus berlangsung. Dalam kebakaran hutan, angin membantu memasok udara ke zona pembakaran sekaligus membawa panas dan bara ke bahan bakar yang belum terbakar. Ketika kecepatan angin meningkat, panas dari api juga lebih cepat berpindah ke vegetasi di depannya, sehingga bahan bakar baru dapat mencapai suhu yang diperlukan untuk mulai terbakar.

Angin juga dapat menyebabkan spot fire, yaitu kebakaran baru yang muncul ketika bara atau material panas terbawa dari api utama ke lokasi lain. Jaraknya bisa cukup jauh sehingga pemadam harus menghadapi beberapa sumber api sekaligus. Kondisi ini membuat penyiraman pada satu titik tidak otomatis menghentikan penyebaran kebakaran, karena api dapat muncul di tempat lain sebelum bagian sebelumnya benar-benar aman.

3. Kebakaran besar dapat menciptakan kondisi atmosfernya sendiri

Pyrocumulonimbus (commons.wikimedia.org/Eric Neitzel)

Kebakaran yang sangat besar menghasilkan panas dalam jumlah besar sehingga udara di atas api bergerak naik dengan kuat. Gerakan ini membawa asap dan uap air ke atmosfer, kemudian pada kondisi tertentu dapat membentuk pyrocumulonimbus (PyroCb). Awan ini merupakan awan badai yang pertumbuhannya dipicu oleh panas dari kebakaran.

Di dalam PyroCb, arus udara naik dan turun dapat menjadi sangat kuat. Awan tersebut juga dapat menghasilkan angin kencang dan petir, sementara perubahan arah angin di dekat permukaan dapat membuat pergerakan api sulit diprediksi. Dalam kondisi tertentu, petir dari awan ini bahkan dapat menyalakan titik api baru. Jadi, kebakaran besar bukan hanya dipengaruhi oleh cuaca di sekitarnya, tetapi pada skala tertentu juga mampu menghasilkan perubahan atmosfer lokal yang kemudian kembali memengaruhi kebakaran.

Kebakaran hutan sulit dipadamkan secara konvensional karena proses pembakaran tidak berlangsung pada satu titik dan satu lapisan saja. Panas dapat tersimpan di bawah permukaan, angin dapat terus memasok oksigen sekaligus membawa bara, dan kebakaran berukuran sangat besar dapat memengaruhi kondisi atmosfer di atasnya. Karena itu, keberhasilan pemadaman tidak cukup dinilai dari hilangnya nyala api, tetapi juga dari apakah sumber panas, bara, dan bahan bakar di sekitarnya benar-benar sudah kehilangan kondisi yang memungkinkan pembakaran berlanjut.

Referensi

"Why Is It So Hard For Firefighters To Put Out Wildfires?" Capstone Fire. Diakses pada Agustus 2026.

"Why Thinning Forests is Poor Wildfire Strategy." Western Watersheds Project. Diakses pada Agustus 2026.

"Types and Strategies of Forest Fire Fighting." Forest Research Institute Baden-Württemberg. Diakses pada Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article