Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Aspal Bisa Meleleh Saat Gelombang Panas? Ini Faktanya
ilustrasi aspal jalanan (unsplash.com/Ivan Karpov)
  • Aspal bisa melunak saat gelombang panas karena bitumen di dalamnya kehilangan kekakuan akibat suhu tinggi, membuat permukaan jalan lebih lentur dan mudah rusak.
  • Warna hitam aspal menyerap panas matahari sehingga suhu permukaannya bisa jauh lebih tinggi dari udara, menyebabkan pelunakan signifikan dan munculnya efek lengket atau bergelombang.
  • Tekanan kendaraan berat memperparah deformasi pada aspal yang lunak, sementara perubahan suhu berulang mempercepat retakan; kualitas bitumen dan konstruksi menentukan ketahanan terhadap panas ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat gelombang panas melanda, bukan hanya tubuh manusia yang merasakan dampaknya. Jalanan beraspal pun bisa ikut terkena dampaknya. Pernah melihat permukaan jalan yang tampak mengilap, lengket, atau bahkan bergelombang ketika cuaca sangat panas? Fenomena ini bukan ilusi, melainkan tanda bahwa aspal mulai melunak akibat suhu tinggi.

Meski terlihat keras dan kokoh, aspal sebenarnya merupakan material yang cukup sensitif terhadap perubahan suhu. Saat temperatur meningkat drastis, sifat fisiknya ikut berubah sehingga kekuatannya menurun. Kondisi inilah yang membuat jalan lebih mudah rusak, terutama jika dilewati kendaraan berat secara terus-menerus. Lalu, kenapa aspal bisa melunak ketika terjadi gelombang panas? Berikut penjelasannya.

1. Aspal mengandung bitumen yang peka terhadap suhu

Aspal bukan hanya terdiri dari batu-batuan kecil atau kerikil. Material ini merupakan campuran agregat mineral yang direkatkan oleh bitumen, yaitu zat berwarna hitam yang berasal dari minyak bumi.

Bitumen berfungsi seperti lem yang menyatukan seluruh komponen aspal. Namun, berbeda dengan semen atau beton, bitumen memiliki sifat yang sangat dipengaruhi suhu. Saat cuaca dingin, material ini cenderung keras dan rapuh. Sebaliknya, ketika suhu meningkat, bitumen menjadi lebih lunak dan lebih mudah mengalir.

Semakin tinggi suhu udara, apalagi ditambah paparan sinar matahari langsung, viskositas atau tingkat kekentalan bitumen akan menurun. Akibatnya, lapisan aspal menjadi lebih lentur dan kehilangan sebagian kemampuannya menahan beban kendaraan.

2. Permukaan jalan bisa jauh lebih panas daripada suhu udara

Banyak orang mengira aspal hanya menerima panas sesuai suhu udara. Padahal kenyataannya, permukaan jalan bisa jauh lebih panas.

Warna hitam pada aspal menyerap sinar matahari dengan sangat efektif. Karena itu, ketika suhu udara mencapai sekitar 35 derajat Celsius, temperatur permukaan jalan dapat meningkat hingga 50 derajat Celsius atau bahkan lebih.

Pada suhu setinggi itu, aspal konvensional mulai mengalami pelunakan yang cukup signifikan. Inilah sebabnya jalan terasa lebih lengket ketika disentuh atau meninggalkan bekas ban pada kondisi tertentu.

3. Beban kendaraan membuat aspal yang lunak mudah berubah bentuk

ilustrasi jalanan aspal (unsplash.com/Jens Aber)

Aspal yang mulai melunak sebenarnya masih bisa digunakan. Masalah muncul ketika jalan tersebut terus menerima tekanan dari kendaraan, terutama truk dan kendaraan bermuatan berat.

Normalnya, aspal mampu kembali ke bentuk semula setelah dilalui kendaraan. Namun, ketika kondisinya sudah terlalu lunak, lapisan tersebut tidak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk pulih sepenuhnya.

Akibatnya, terbentuk cekungan memanjang di jalur roda yang dikenal sebagai rutting. Lama-kelamaan, permukaan jalan menjadi bergelombang sehingga mengurangi kenyamanan berkendara sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan.

4. Bitumen bisa naik ke permukaan jalan

Suhu tinggi juga dapat membuat bitumen bergerak naik ke permukaan aspal. Fenomena ini dikenal sebagai bleeding.

Ketika hal tersebut terjadi, permukaan jalan tampak lebih mengilap dan terasa lengket. Selain meninggalkan bekas ban kendaraan, kondisi ini juga dapat mengurangi daya cengkeram ban terhadap jalan, terutama saat hujan turun setelah cuaca panas. Itulah sebabnya beberapa ruas jalan terlihat seperti mengeluarkan lapisan hitam yang mengilap ketika gelombang panas berlangsung cukup lama.

5. Perubahan suhu terus-menerus mempercepat kerusakan

Aspal tidak hanya memuai saat panas, tetapi juga menyusut ketika suhu kembali turun pada malam hari. Siklus pemuaian dan penyusutan yang terjadi berulang kali dapat menimbulkan tekanan di dalam struktur jalan. Seiring waktu, tekanan tersebut mempercepat munculnya retakan, deformasi, bahkan tonjolan apabila ruang untuk pemuaian tidak mencukupi. Jika kondisi ini berlangsung bersamaan dengan lalu lintas padat, umur jalan bisa menjadi lebih pendek dibandingkan perkiraan awal.

6. Tidak semua jenis aspal mudah melunak

ilustrasi berjalan di atas aspal (pexels.com/Vinta Supply Co. | NYC)

Menariknya, ketahanan aspal terhadap panas sangat bergantung pada jenis bitumen yang digunakan. Aspal dengan bitumen yang lebih lunak memiliki titik pelunakan yang lebih rendah sehingga lebih cepat kehilangan kekuatannya ketika cuaca panas. Sebaliknya, penggunaan bitumen berkualitas lebih tinggi atau bitumen yang dimodifikasi dengan polimer mampu meningkatkan ketahanan terhadap suhu ekstrem. Selain jenis bitumen, komposisi campuran agregat, kualitas pemadatan saat pembangunan, hingga kondisi lapisan pelindung jalan juga ikut menentukan apakah aspal mudah mengalami bleeding atau deformasi.

Pada akhirnya, jalan yang tampak meleleh saat gelombang panas bukan berarti aspal benar-benar mencair seperti lilin. Yang terjadi adalah bitumen di dalam campuran aspal kehilangan kekakuannya akibat suhu tinggi, sehingga lapisan jalan menjadi lebih lunak dan mudah berubah bentuk ketika menerima beban kendaraan. Dengan material yang tepat, konstruksi yang baik, serta perawatan rutin, dampak gelombang panas terhadap jalan beraspal dapat dikurangi secara signifikan.

Referensi

Asphalt Calculator. Diakses pada Juli 2026. Why Is My Asphalt Driveway Soft in Summer? (And What to Do)
Asphalt Services. Diakses pada Juli 2026. How Summer Heat Damages Your Driveway — And What Bucks County Homeowners Can Do About It
BBC. Diakses pada Juli 2026. Why are Our Roads Melting – And What Can Be Done?
BBC. Diakses pada Juli 2026. Who, What, Why: When Does Tarmac Melt?
NAC Supply. Diakses pada Juli 2026. Understanding How Hot Summer Weather Affets Asphalt

Curated For You

Editorial Team

Related Article