Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Benda di Kota Ini Paling Rakus Serap Panas, Bikin Gerah!

5 Benda di Kota Ini Paling Rakus Serap Panas, Bikin Gerah!
ilustrasi benda yang menyerap panas di perkotaan (unsplash.com/Yichen Hu)
Intinya Sih
  • Fenomena Urban Heat Island membuat suhu kota meningkat karena material seperti aspal, beton, dan atap gelap menyerap serta menyimpan panas berlebih dari matahari.
  • Penelitian menunjukkan aspal dapat mencapai suhu di atas 65°C, sementara beton dan industri semennya turut memperparah polusi karbon serta meningkatkan suhu lingkungan perkotaan.
  • Atap gelap, kendaraan bermotor, dan kaca gedung tinggi menambah panas melalui penyerapan, pantulan, dan emisi energi; solusi ramah lingkungan diperlukan untuk meredam efek pulau panas kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernah gak sih kamu merasa cuaca di perkotaan belakangan ini makin gerah dan bikin keringatan, padahal matahari lagi gak terlalu terik? Fenomena ini sudah umum terjadi di kota-kota besar maupun metropolitan. Wilayah urban cenderung menyimpan suhu lebih tinggi akibat efek Urban Heat Island (pulau panas perkotaan), di mana struktur kota menangkap dan menyimpan panas alih-alih memantulkannya kembali ke atmosfer.

Tanpa kita sadari, arsitektur kota modern justru dipenuhi oleh material dan benda sehari-hari yang menjadi “pelaku utama” di balik suhu ekstrem ini. Karakteristik permukaannya yang padat dan gelap membuat benda-benda ini sangat rakus menyerap radiasi matahari sepanjang hari. Penasaran apa saja benda di sekitar yang bikin kota makin terasa panas? Yuk, simak lima benda yang paling rakus serap panas berikut ini!

1. Aspal jalanan, si hitam yang menyimpan bara

ilustrasi aspal jalanan
ilustrasi aspal jalanan (unsplash.com/Ivan Karpov)

Saat terjadi gelombang panas, bahaya terbesar ternyata bukan hanya dari suhu udara yang menyengat, melainkan dari jalanan yang biasa orang-orang pijak. Aspal dan beton di area perkotaan bertindak layaknya “spons pemanas” raksasa karena menyerap hingga 95% energi matahari. Ketika suhu udara luar mencapai 38 derajat celcius, suhu permukaan aspal aslinya bisa melonjak ekstrem hingga di atas 65 derajat celcius bahkan lebih, yang mana sentuhan singkat saja bisa menyebabkan luka bakar serius. Penyerapan panas yang masif ini menjadi pemicu utama terciptanya fenomena Urban Heat Island atau pulau panas perkotaan.

2. Beton bangunan dan trotoar, kokoh tapi bikin gerah

ilustrasi beton
ilustrasi beton (unsplash.com/Oliver Ulerich)

Beton sebenarnya adalah salah satu penemuan paling hebat manusia karena harganya murah, sangat kuat, dan bisa dipakai untuk membangun apa saja dengan cepat. Mulai dari sekolah, rumah sakit, hingga gedung pencakar langit. Karena kepraktisannya ini, beton menjadi tulang punggung kota-kota modern di seluruh dunia. Bahkan, saat ini diperkirakan sekitar 70% populasi bumi tinggal di dalam bangunan yang setidaknya sebagian materialnya terbuat dari beton. Dilansir laman Time, beton membawa dampak buruk yang nyata bagi suhu lingkungan, terutama saat gelombang panas melanda. Jutaan kilometer jalanan, trotoar, dan dinding bangunan berbahan beton di perkotaan bertindak layaknya spons raksasa menyerap panas. Selain itu, industri pembuatan semen yaitu bahan utama beton menyumbang polusi karbon yang sangat besar bagi bumi.

 

3. Atap seng yang gelap, efek rumah kaca di atas kepala

ilustrasi atap seng yang gelap
ilustrasi atap seng yang gelap (unsplash.com/Toni Reed)

Penggunaan atap berwarna gelap pada rumah ternyata berdampak besar pada pembengkakan tagihan listrik, terutama saat musim panas. Berdasarkan studi dari University of New South Wales (UNSW), atap berwarna gelap menyerap dan memerangkap panas matahari. Alih-alih memantulkan, atap ini bikin lingkungan semakin panas. Ketika seluruh lingkungan dipenuhi oleh atap hitam dan aspal jalanan yang gelap tanpa ruang hijau yang cukup, suhu udara di seluruh wilayah tersebut akan meningkat drastis.

Akibatnya, efisiensi pendingin ruangan dan panel surya menurun, serta risiko kesehatan masyarakat akibat gelombang panas ekstrem menjadi jauh lebih tinggi. Meskipun solusi seperti mengecat atap menjadi putih atau menggunakan material terang terbukti dan membutuhkan biaya pasang yang sama, kebijakan pemerintah dan pengembang properti di Australia dinilai masih sangat lambat dalam merespons hal ini. Sebagian besar wilayah masih mengizinkan pembangunan rumah beratap gelap demi estetika atau tekanan industri, sementara hanya wilayah Australia Selatan yang mengambil langkah tegas dengan melarang penggunaan atap gelap di proyek perumahan baru.

4. Bodi kendaraan bermotor

ilustrasi bodi kendaraan bermotor
ilustrasi bodi kendaraan bermotor (unsplash.com/Kathy)

Para peneliti dari University of Manchester berhasil menciptakan model simulasi digital baru yang membuktikan bahwa panas langsung dari lalu lintas kendaraan seperti dari mesin, knalpot, hingga gesekan rem berkontribusi nyata dalam menaikkan suhu perkotaan. Selama ini, studi mengenai hawa panas kota lebih sering berfokus pada pengaruh bangunan, material aspal, dan minimnya lahan hijau. Model baru ini menjadi terobosan penting karena mampu memasukkan faktor panas kendaraan secara langsung untuk melihat interaksinya dengan lingkungan jalanan dan atmosfer sekitar. Berdasarkan uji coba di Kota Manchester (Inggris) dan Toulouse (Prancis), panas dari kendaraan ini terbukti menikkan suhu udara perkotaan sekitar 0,16 derajat celsius di musim panas hingga 0,35 derajat celsius di musim dingin. Meskipun angka peningkatan ini terlihat kecil, efeknya menjadi sangat berbahaya saat gelombang panas ekstrem melanda.

5. Kaca gedung pencakar langit efek refleksi yang menjebak

ilustrasi gedung bertingkat
ilustrasi gedung bertingkat (unsplash.com/JESHOOTS.COM)

Meskipun material kaca pada gedung  pencakar langit tidak menyimpan panas sekuat beton, penggunaan kaca yang masif justru memicu masalah baru di area perkotaan. Alih-alih menyerap energi matahari, permukaan kaca ini bertindak layaknya cermin raksasa yang memantulkan kembali panas matahari ke lingkungan sekitarnya. Akibatnya, hawa panas tidak langsung naik ke atmosfer, melainkan terlempar ke jalanan dan bangunan lain di tingkat kapak. Pantulan panas yang terus-menerus ini akhirnya terjebak di dalam lorong-lorong kota (urban canyons) yang terbentuk oleh barisan gedung tinggi. Panas tersebut terperangkap dan memantul di ruang sempit antar bangunan tanpa ada celah untuk mengalir keluar. Fenomena inilah  yang membuat koridor jalanan di bawahnya terasa jauh lebih gerah dan membakar bagi para pejalan kaki.

Menyadari keberadaan benda-benda yang haus penyerap panas di sekitar perkotaan adalah langkah awal yang krusial untuk mengubah wajah perkotaan menjadi lebih sejuk. Melalui pemeliharaan area hijau yang konsisten dan pemilihan material konstruksi yang lebih ramah lingkungan di masa depan, efek Urban Heat Island ini perlahan tapi pasti bisa diredam. Dengan memahami bahwa benda-benda mati di sekeliling berkontribusi besar terhadap suhu udara yang kian menyengat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa

Related Articles

See More