Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Gempa Bumi Kadang Disertai Petir? Terjadi di Indonesia!
ilustrasi kilatan petir (pixabay.com/Andreas)
  • Gempa magnitudo 7,7 di Mbay, Nagekeo, NTT, pada 15 Agustus 2026 menewaskan 75 orang, melukai 953 orang, dan memicu lebih dari 4.000 gempa susulan.
  • Kilatan gempa adalah fenomena cahaya langka yang bukan terkait badai; biasanya muncul sebelum atau saat gempa dari tanah, berupa kilat, bola cahaya, atau semburat putih-biru.
  • Penyebab pastinya belum diketahui; penelitian mengaitkannya dengan pelepasan gas bermuatan listrik saat kerak pecah, tanah longsor, serta kemungkinan pengaruh jenis batuan di area gempa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kita semua pasti pernah merasakan gempa bumi. Dikutip BMKG, apalagi letak Indonesia berada di jalur pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik, serta berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang punya banyak gunung berapi aktif. Jadi, sudah dipastikan bahwa warga Indonesia pernah merasakan tanah bergetar, jendela berderak, barang-barang jatuh dari rak, atau bahkan tsunami.

Duka silih berganti menyelimuti Bumi Pertiwi, khususnya Indonesia pada tahun 2026 ini. Tak kalah mengejutkannya dengan hebohnya berita kebakaran hutan di Kalimantan pada Agustus ini, gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), juga mengundang kepiluan. Pasalnya, menurut data BNPB per 20 Agustus 2026, korban meninggal dunia akibat gempa bumi tersebut berjumlah 75 orang, 953 orang luka-luka, dan puluhan ribu warga harus mengungsi akibat kerusakan tempat tinggalnya, serta gempa susulan. Yap, gempa susulan di NTT mencapai 4.000 lebih, seperti yang dilansir IDN Times.

Namun, kamu pasti terkejut jika tahu kalau gempa bumi juga bisa menyebabkan kilatan petir. Disebut kilatan petir gempa bumi, atau luminesensi, ini adalah fenomena yang kurang umum tetapi tetap terdokumentasi dengan baik. Nah, apa sih penyebab terjadinya kilatan petir menjelang gempa bumi?

1. Sebenarnya, apa fenomena petir yang terjadi menjelang gempa bumi?

ilustrasi kilatan petir (pixabay.com/Ron van den Berg)

Fenomena kilatan petir menjelang gempa bumi ini pernah ditulis oleh sejarawan sejak zaman Mesir dan Romawi Kuno. Nah, salah satu periode yang sangat penting, adalah selama serangkaian gempa bumi dari tahun 1965—1967 di Matsushiro, Jepang. Ketika itu, terjadi banyak sambaran petir sehingga menerangi lereng gunung setempat. Ini juga merupakan pertama kalinya petir terjadi saat gempa bumi dan didokumentasikan dalam foto, yang dipotret oleh seorang fotografer amatir yang tinggal di daerah tersebut.

Secara teknis, ini sebenarnya bukan petir, karena tidak terkait dengan badai petir, lebih tepatnya petir gempa bumi. National Geographic mencatat bahwa fenomena ini juga punya banyak jenisnya. Terkadang, kilatan cahaya ini bisa terlihat seperti kilat biasa, meskipun biasanya berasal dari tanah, bukan dari langit, atau bisa juga terjadi sebagai kilatan bola, yaitu terlihat seperti bola-bola cahaya yang melayang.

Dalam kasus lain, kilatan cahaya ini bisa lebih menyerupai kilatan berwarna putih hingga biru—yang mirip dengan Cahaya Utara atau aurora. Nah, ketika kilatan cahaya ini terjadi, tapi hampir tidak pernah terjadi setelah gempa bumi. Sebaliknya, kilatan cahaya ini biasanya terjadi sebelum atau selama peristiwa gempa itu sendiri.

2. Bagaimana petir bisa menyambar menjelang gempa bumi?

ilustrasi rumah hancur akibat gempa bumi (pixabay.com/Angelo Giordano)

Sampai saat ini, penyebab pasti terjadinya petir sebelum atau saat gempa bumi masih belum diketahui, tetapi ada beberapa teori yang muncul. Profesor Emeritus Yuji Enomoto dari Universitas Shinshu adalah salah satu peneliti terkemuka dalam bidang ini. Dalam makalahnya yang berjudul "Laboratory Investigation of Earthquake Lightning Due to Landslide" (2020), yang diterbitkan di Earth, Planets, and Space, menghubungkan bahwa kilatan petir tersebut terjadi akibat gempa bumi dengan tanah longsor. Nah, dikutip Eureka Alert, dari 55 penampakan kilatan petir saat gempa bumi yang didokumentasikan sejak tahun 869 M di Arsip Sejarah Jepang, setidaknya lima di antaranya terkait dengan tanah longsor.

Namun, tampaknya serangkaian gempa pada tahun 1960-an itulah yang membantu para peneliti untuk mempersempit penyebab utamanya. Dalam makalah lain yang diterbitkan Profesor Enomoto, berjudul "Causal Mechanisms of Seismo-EM Phenomena During the 1965–1967 Matsushiro Earthquake Swarm" (2017) di Scientific Reports, ia mencatat bahwa karena ada sejumlah kejadian selama periode waktu tersebut, para ilmuwan mengumpulkan cukup banyak data untuk dianalisis. Seperti yang dikatakan Profesor Enomoto, "Saya dapat menjelaskan secara kuantitatif fluktuasi geomagnetik yang diamati dalam serangkaian gempa Matsushiro yang terjadi di Jepang tengah pada tahun 1965—1967."

Apa yang ditemukan tim melalui serangkaian eksperimen adalah bahwa dalam keadaan tertentu, penumpukan gas—khususnya metana dan karbon dioksida—di bawah kerak bumi yang akhirnya menyebabkan pecahnya kerak bumi, yang mengakibatkan gempa bumi. Pada saat yang sama, gas-gas yang sama tersebut menjadi bermuatan listrik saat dikeluarkan hingga menciptakan kilatan petir. Dan terjadilah, kilatan petir saat gempa bumi.

3. Jenis batuan dasar di suatu daerah memengaruhi terjadinya petir menjelang gempa bumi

ilustrasi kilatan petir (pixabay.com/Andreas)

Penelitian Profesor Enomoto dan timnya, serta temuan ilmuwan lain selama bertahun-tahun, juga tampaknya menunjukkan bahwa jenis batuan di sekitar area gempa dapat memengaruhi terjadinya kilatan petir gempa atau tidak. Meskipun Profesor Enomoto dan tim di Universitas Shinshu bereksperimen menggunakan granit, Eureka Alert melaporkan bahwa mereka juga meneliti sampel jenis batuan yang umum di daerah pegunungan di Jepang, seperti batu kapur. Ilmuwan lain juga telah mempelajari kuarsa atau basal, sebagaimana yang dijelaskan National Geographic.

Teori awalnya adalah bahwa batuan tertentu merupakan konduktor listrik yang lebih baik, atau mungkin melepaskan muatan listrik di bawah tekanan gempa. Namun, belum jelas jenis batuan mana yang lebih mungkin memengaruhi kemunculan petir saat gempa. Adapun, banyak penampakan kilatan tersebut di daerah yang justru tidak memiliki granit.

Sementara itu, penelitian masih terus berlanjut terkait fenomena langka ini. Rupanya, kilatan petir menjelang gempa pernah terjadi di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Beberapa warga melihat penampakan kilatan petir hijau pada malam hari ketika terjadi gempa 7 magnitudo pada 5 Agustus 2018 silam. Yap, kilatan petir menjelang gempa adalah fenomena langka yang sangat menarik di planet biru pucat yang kita sebut Bumi ini. Namun, semoga bencana ini tak lagi merenggut korban jiwa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article