Kita semua pasti pernah merasakan gempa bumi. Dikutip BMKG, apalagi letak Indonesia berada di jalur pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik, serta berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang punya banyak gunung berapi aktif. Jadi, sudah dipastikan bahwa warga Indonesia pernah merasakan tanah bergetar, jendela berderak, barang-barang jatuh dari rak, atau bahkan tsunami.
Duka silih berganti menyelimuti Bumi Pertiwi, khususnya Indonesia pada tahun 2026 ini. Tak kalah mengejutkannya dengan hebohnya berita kebakaran hutan di Kalimantan pada Agustus ini, gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), juga mengundang kepiluan. Pasalnya, menurut data BNPB per 20 Agustus 2026, korban meninggal dunia akibat gempa bumi tersebut berjumlah 75 orang, 953 orang luka-luka, dan puluhan ribu warga harus mengungsi akibat kerusakan tempat tinggalnya, serta gempa susulan. Yap, gempa susulan di NTT mencapai 4.000 lebih, seperti yang dilansir IDN Times.
Namun, kamu pasti terkejut jika tahu kalau gempa bumi juga bisa menyebabkan kilatan petir. Disebut kilatan petir gempa bumi, atau luminesensi, ini adalah fenomena yang kurang umum tetapi tetap terdokumentasi dengan baik. Nah, apa sih penyebab terjadinya kilatan petir menjelang gempa bumi?
