Saat berjalan-jalan di alam, kita mungkin pernah menyaksikan puluhan kupu-kupu berkumpul di atas genangan lumpur. Pemandangan itu memang terlihat janggal karena kupu-kupu selama ini identik dengan bunga-bunga berwarna cerah. Namun, ada alasan biologis yang membuat mereka rela berkerumun dan mengisap cairan dari tanah basah. Mulai dari kebutuhan mineral, strategi reproduksi, hingga komunikasi antarsesama, semuanya tersimpan dalam perilaku ini. Nah, biar makin paham, simak penjelasan berikut!
Kenapa Kupu-Kupu Sering Berkerumun di Genangan? Ini Penjelasannya

1. Lumpur menyimpan mineral yang dibutuhkan kupu-kupu
Genangan lumpur dapat menjadi sumber mineral terlarut, terutama natrium. Unsur tersebut sulit ditemukan dari nektar bunga yang umumnya kaya gula, tetapi rendah mineral tertentu. Penelitian yang terbit di jurnal Oecologia mengungkap bahwa kupu-kupu tropis tertarik pada sumber natrium serta protein yang tersedia dalam material lembap.
Studi itu dilakukan pada komunitas kupu-kupu di Kalimantan dan menemukan ratusan individu mendatangi sumber puddling. Temuan menariknya, kebutuhan tiap kelompok kupu-kupu tidak selalu sama. Beberapa spesies dari famili Papilionidae dan Pieridae cenderung menerima larutan natrium, sementara kelompok lain lebih tertarik pada sumber protein.
Meski Istilah mud-puddling mengarah pada tanah atau lumpur basah, sumber cairan yang didatangi kupu-kupu lumayan beragam. Mereka bisa mengisap cairan dari tanah lembap, tepi sungai, pasir basah, sampai bahan organik yang mengalami pembusukan. Faktor musim atau jenis kelamin pun turut memengaruhi frekuensi kedatangan kupu-kupu ke sumber-sumber tersebut.
2. Kupu-kupu jantan paling rajin datang ke lumpur
Perilaku mengerumuni lumpur tidak terdistribusi secara merata di antara kedua jenis kelamin, sebab aktivitas ini didominasi oleh kupu-kupu jantan. Mereka tidak mengonsumsi mineral itu hanya untuk kepentingan sesaat, melainkan demi investasi reproduksi jangka panjang. Menurut laporan Entomology Today, para jantan menyimpan sodium serta berbagai mineral yang diperoleh dari lumpur ke dalam paket sperma (spermatofora) yang kemudian di transfer ke pasangannya.
Spermatofora ini berfungsi jauh melampaui sekadar pengantar sel sperma. Kandungan nutrisinya sangat membantu dalam proses pematangan sekaligus produksi telur. Dampaknya, telur-telur yang dihasilkan punya peluang menetas lebih tinggi dan generasi kupu-kupu berikutnya tumbuh jadi individu yang lebih kuat.
3. Mengikuti isyarat visual dari sesama kupu-kupu
Kerumunan besar yang terbentuk di genangan lumpur rupanya juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan pembelajaran visual antar-individu. Fenomena ini dalam ilmu perilaku hewan dikenal dengan istilah local enhancement, di mana kehadiran satu individu menarik individu lain agar datang ke lokasi yang sama. Sebuah studi yang mengamati kupu-kupu ekor layu (swallowtail) membuktikan jika kupu-kupu jantan lebih tertarik mampir ke genangan lumpur yang sudah dihuni kupu-kupu lain. Bahkan, keberadaan boneka atau model kupu-kupu palsu terbukti cukup efektif dalam memancing kedatangan mereka.
Kupu-kupu menggunakan isyarat visual yang tajam guna mengidentifikasi lokasi puddling yang berkualitas dan aman. Ketika seekor kupu-kupu melihat ada individu lain yang sedang asyik menghisap cairan di suatu tempat, mereka menganggap lokasi itu pasti kaya sumber daya serta bebas dari ancaman predator. Uniknya, preferensi visual ini berbeda antar spesies, misalnya, kupu-kupu Papilio glaucus cuma tertarik pada boneka spesiesnya sendiri, sedangkan Battus philenor mengindikasikan toleransi yang lebih luas terhadap kehadiran spesies lain di lokasi yang sama.
Aktivitas mengerumuni lumpur adalah cerminan strategi bertahan hidup dan reproduksi yang kompleks bagi kupu-kupu. Dari sumber nutrisi tersembunyi hingga komunikasi visual antarsesama, setiap aspek menunjukkan betapa terencananya naluri alami mereka. Jadi, lain kali melihat kerumunan kupu-kupu di lumpur, jangan buru-buru menganggapnya aneh, ya!
Referensi :
Beck, J., Mühlenberg, E., & Fiedler, K. (1999). Mud-puddling behavior in tropical butterflies: in search of proteins or minerals?. Oecologia, 119(1), 140-148.
Otis, G. W., Locke, B., McKenzie, N. G., Cheung, D., MacLeod, E., Careless, P., & Kwoon, A. (2006). Local Enhancement in Mud-Puddling Swallowtail Butterflies (Battus philenor and Papilio glaucus) Otis et al. Journal of Insect Behavior, 19(6), 685-698.
PIVNICK, K. A., & McNEIL, J. N. (1987). Puddling in butterflies: sodium affects reproductive success in Thymelicus lineola. Physiological Entomology, 12(4), 461-472.
Menon, A. G., & Bhaskar, H. (2022). Puddling: butterflies sourcing moisture and nutrients from wet soil and dung.
Curated For You
- 5 Spesies Kupu-kupu Raja dari Genus Apatura, Punya Warna Ungu29 Jul 2026, 14:49 WIB
- Siklus Hidup Kupu-kupu, Perubahan dari Telur hingga Dewasa26 Jul 2026, 15:04 WIB
- 4 Fakta Unik Kupu-Kupu Gajah, Serangga Raksasa yang Tak Punya Mulut20 Jul 2026, 20:29 WIB