ilustrasi gunung meletus (pexels.com/Carlos)
Para ilmuwan juga menemukan bahwa perubahan iklim dapat memengaruhi cara letusan gunung berapi mengubah suhu Bumi. Dalam kondisi atmosfer yang lebih hangat, awan aerosol dari letusan besar diperkirakan dapat menyebar lebih tinggi dan bertahan lebih lama di stratosfer. Hal ini berpotensi membuat efek pendinginannya menjadi lebih kuat dan berlangsung lebih lama.
Sebaliknya, letusan berukuran kecil hingga sedang kemungkinan memberikan dampak pendinginan yang lebih lemah karena perubahan sirkulasi udara dan proses kimia di atmosfer. Artinya, meskipun mekanisme dasar pengaruh gunung berapi terhadap suhu Bumi tetap sama, besar kecilnya dampak yang ditimbulkan dapat berubah mengikuti kondisi iklim global.
Kesimpulannya, gunung berapi dapat mengubah suhu Bumi melalui dua mekanisme yang saling berlawanan. Dalam jangka pendek, sulfur dioksida yang membentuk aerosol di stratosfer memantulkan sinar Matahari sehingga menyebabkan pendinginan global sementara. Sementara itu, karbon dioksida yang dilepaskan gunung berapi memang berkontribusi terhadap pemanasan, tetapi jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan emisi dari aktivitas manusia.
Oleh karena itu, setelah letusan gunung berapi besar, dampak yang paling sering terjadi adalah penurunan suhu Bumi selama sekitar satu hingga tiga tahun. Setelah aerosol mengendap dan menghilang dari atmosfer, suhu Bumi akan kembali mengikuti tren iklim yang dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, terutama aktivitas manusia.
Referensi
BBC Bitesize. Diakses pada Agustus 2026. Climate Change - Eduqas
National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada Agustus 2026. What do Volcanoes Have to do with Climate Change?
University of Cambridge. Diakses pada Agustus 2026. Climate Change Will Transform Cooling Effects of Volcanic Eruptions
USGS. Diakses pada Agustus 2026. Volcanos and Climate Change