Ada anggapan bahwa ketika Matahari kehabisan bahan bakar, ia akan meledak. Padahal, dalam kasus Matahari, yang terjadi justru sebaliknya.
Ketika fusi nuklir berkurang, tekanan ke arah luar juga ikut berkurang. Akibatnya, gravitasi menjadi lebih dominan dan inti bintang justru mengalami keruntuhan.
Pada bintang yang sangat masif, keruntuhan ini dapat berakhir dengan ledakan supernova. Namun, karena Matahari tidak cukup masif, keruntuhannya akan berhenti ketika terbentuk katai putih.
Sederhananya, Matahari seperti mesin yang memiliki sistem pengatur alami. Reaksi di dalamnya terus berlangsung, tetapi tidak cukup cepat untuk berubah menjadi ledakan. Sementara itu, massanya juga tidak cukup besar untuk memicu keruntuhan inti yang berujung pada supernova.
Itulah sebabnya Matahari bisa terus bersinar dengan stabil selama miliaran tahun. Dan ketika akhirnya memasuki tahap akhir kehidupannya, Matahari tidak akan meledak seperti bom raksasa, melainkan perlahan berubah menjadi raksasa merah, melepaskan lapisan luarnya, lalu meninggalkan inti padat yang dikenal sebagai katai putih.
Pada akhirnya, Matahari tidak meledak seperti bintang-bintang raksasa karena ia tidak memiliki massa dan kondisi yang diperlukan untuk menghasilkan ledakan supernova. Ia akan terus bersinar dalam keseimbangan selama miliaran tahun sebelum perlahan berubah menjadi raksasa merah dan akhirnya meninggalkan katai putih sebagai sisa kehidupannya.
Referensi
Space. Diakses pada Juli 2026. When Will The Sun Die?
Technology.org. Diakses pada Juli 2026. Why Doesn't The Sun Explode Despite Being Mostly Hydrogen?The Astronomy Cafe. Diakses pada Juli 2026. Why Doesn't The Sun Blow Up?
Universe Today. Diakses pada Juli 2026. Will The Sun Explode?