Ketika teleskop memungkinkan astronom menemukan planet-planet baru, tradisi penamaan berdasarkan mitologi tetap dipertahankan.
Uranus, yang ditemukan pada tahun 1781, dinamai dari Ouranos, dewa langit dalam mitologi Yunani sekaligus ayah Kronos.
Neptunus (Neptune) ditemukan pada tahun 1846 dan mengambil nama dewa laut Romawi karena warna kebiruannya mengingatkan pada lautan.
Pluto, yang ditemukan pada 1930 (kini diklasifikasikan sebagai planet katai), dinamai dari dewa dunia bawah Romawi. Nama tersebut diusulkan oleh seorang siswi berusia 11 tahun bernama Venetia Burney, dan akhirnya diterima oleh para astronom.
Tradisi ini masih berlanjut hingga sekarang. Banyak satelit alami, asteroid, dan benda langit lainnya juga dinamai berdasarkan tokoh dalam berbagai mitologi dunia di bawah pedoman International Astronomical Union (IAU).
Kesimpulannya, planet-planet dinamai berdasarkan dewa-dewa dalam mitologi Yunani karena para astronom kuno menghubungkan sifat dan pergerakan setiap planet dengan karakter para dewa. Tradisi ini berawal dari peradaban Babilonia, kemudian dikembangkan oleh bangsa Yunani, diadopsi oleh Romawi, dan akhirnya diwariskan ke dunia modern melalui bahasa Latin.
Meski ilmu astronomi telah berkembang sangat jauh, jejak sejarah tersebut tetap hidup dalam nama-nama planet yang kita gunakan setiap hari, menjadi pengingat bahwa sains dan budaya telah berjalan berdampingan sejak ribuan tahun lalu.
Referensi
BBC Science Focus. Diakses pada Agustus 2026. Why are Celestial Objects Named after Greek and Roman Deities?
Mystery In History. Diakses pada Agustus 2026. Planets and The Greek Mythology: Gods, Realms, and Celestial Connections
National Space Centre. Diakses pada Agustus 2026. How did the Planets get their Names?
World Atlas. Diakses pada Agustus 2026. Where Do The Planets Get Their Names?