Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Planet Dinamai dari Dewa-Dewa dalam Mitologi Yunani?
ilustrasi planet-planet di Tata Surya (pixabay.com/Hphotostudio)
  • Tradisi penamaan planet bermula di Babilonia pada milenium kedua SM, ketika benda langit yang bergerak di antara bintang dikaitkan dengan dewa dan makna religius.
  • Yunani mengadopsi gagasan Babilonia lalu memasangkan planet dengan dewa berdasarkan ciri seperti gerak, kecerahan, warna, dan ukuran; sistem teratur tercatat sekitar abad ke-4 SM.
  • Romawi mengganti nama dewa Yunani dengan versi Latin yang kemudian menyebar luas; tradisi mitologis juga diterapkan pada Uranus, Neptunus, Pluto, serta benda langit lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa planet-planet di tata surya memiliki nama seperti Mars, Jupiter, atau Venus? Nama-nama tersebut ternyata bukan dipilih secara acak. Di baliknya tersimpan sejarah panjang yang melibatkan peradaban kuno, pengamatan langit, hingga kisah para dewa dalam mitologi Yunani dan Romawi.

Menariknya, tradisi ini sudah berlangsung selama ribuan tahun dan masih digunakan hingga sekarang. Bahkan, ketika astronom menemukan planet baru, pola penamaan berdasarkan tokoh mitologi tetap dipertahankan. Mari, kita bahas lebih lanjut kenapa planet dinamai dari dewa-dewa dalam mitrologi Yunani!

1. Tradisi yang berawal dari Mesopotamia

Banyak orang mengira penamaan planet berasal dari Yunani. Padahal, tradisi ini sebenarnya dimulai jauh lebih awal, yakni di Mesopotamia (Babilonia) sekitar milenium kedua sebelum Masehi.

Bangsa Babilonia merupakan salah satu peradaban pertama yang rajin mengamati langit. Mereka menyadari bahwa ada beberapa benda langit yang tampak "mengembara" di antara bintang-bintang tetap. Karena gerakannya berbeda, benda-benda ini disebut sebagai wandering stars atau "bintang pengembara", yang kini kita kenal sebagai planet.

Masyarakat Babilonia kemudian menghubungkan setiap planet dengan dewa-dewa dalam kepercayaan mereka. Bagi mereka, pergerakan planet bukan sekadar fenomena astronomi, tetapi juga memiliki makna religius dan dipercaya memengaruhi kehidupan di Bumi.

2. Bangsa Yunani menghubungkan planet dengan karakter para dewa

Ketika ilmu astronomi berkembang di Yunani kuno, para filsuf dan astronom mengadopsi gagasan dari Babilonia. Namun, mereka mengganti nama dewa-dewa Babilonia dengan tokoh dalam mitologi Yunani yang memiliki sifat serupa.

Pemilihannya pun tidak sembarangan. Setiap planet dipasangkan dengan dewa yang dianggap paling sesuai berdasarkan warna, tingkat kecerahan, atau cara planet tersebut bergerak di langit. Berikut beberapa contohnya:

  • Merkurius (Mercury) bergerak paling cepat di langit sehingga dikaitkan dengan Hermes, dewa pembawa pesan yang terkenal sangat gesit.

  • Venus merupakan planet paling terang sehingga dihubungkan dengan Aphrodite, dewi cinta dan kecantikan.

  • Mars tampak berwarna kemerahan, mengingatkan pada darah dan peperangan. Karena itu, planet ini dikaitkan dengan Ares, dewa perang.

  • Jupiter merupakan planet terbesar di tata surya sehingga dianggap cocok mewakili Zeus, raja para dewa.

  • Saturnus (Saturn) bergerak paling lambat jika diamati dari Bumi. Planet ini kemudian diasosiasikan dengan Kronos (Cronus), Titan tua sekaligus ayah Zeus.

Dengan cara ini, masyarakat Yunani dapat lebih mudah mengingat karakter setiap planet melalui kisah-kisah mitologi yang sudah akrab dalam kehidupan mereka.

3. Kapan penamaan ini mulai digunakan

ilustrasi Tata Surya (pixabay.com/BlenderTimer)

Para sejarawan memperkirakan penggunaan nama dewa secara konsisten mulai muncul sekitar abad ke-4 SM, terutama di kalangan filsuf yang berada di sekitar Akademi Plato di Athena. Salah satu tokoh yang diduga berperan besar adalah Philip of Opus, murid Plato. Dalam karya berjudul Epinomis, ia menyebut lima planet yang dikenal saat itu menggunakan nama para dewa dalam satu sistem yang teratur. Hal ini menunjukkan bahwa penamaan planet bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari upaya menggabungkan astronomi, filsafat, agama, dan gagasan awal tentang astrologi menjadi satu kesatuan.

4. Mengapa sekarang nama planet berasal dari Romawi

Kalau awalnya berasal dari Yunani, mengapa nama yang kita gunakan sekarang justru terdengar seperti nama dewa Romawi? Jawabannya karena bangsa Romawi mengadopsi hampir seluruh sistem astronomi Yunani, tetapi mengganti nama para dewanya dengan versi Romawi. Ketika bahasa Latin menjadi bahasa utama ilmu pengetahuan di Eropa selama berabad-abad, nama-nama inilah yang akhirnya menyebar ke berbagai negara dan tetap digunakan hingga sekarang.

Perubahan tersebut meliputi:

  • Hermes menjadi Mercurius (Mercury).

  • Aphrodite menjadi Venus.

  • Ares menjadi Mars.

  • Zeus menjadi Jupiter (Iuppiter).

  • Kronos menjadi Saturnus (Saturn).

Itulah sebabnya nama resmi planet yang kita kenal saat ini lebih dekat dengan mitologi Romawi daripada Yunani, meskipun konsep awalnya berasal dari para astronom Yunani.

5. Bagaimana dengan Uranus, Neptunus, dan Pluto

Ketika teleskop memungkinkan astronom menemukan planet-planet baru, tradisi penamaan berdasarkan mitologi tetap dipertahankan.

  • Uranus, yang ditemukan pada tahun 1781, dinamai dari Ouranos, dewa langit dalam mitologi Yunani sekaligus ayah Kronos.

  • Neptunus (Neptune) ditemukan pada tahun 1846 dan mengambil nama dewa laut Romawi karena warna kebiruannya mengingatkan pada lautan.

  • Pluto, yang ditemukan pada 1930 (kini diklasifikasikan sebagai planet katai), dinamai dari dewa dunia bawah Romawi. Nama tersebut diusulkan oleh seorang siswi berusia 11 tahun bernama Venetia Burney, dan akhirnya diterima oleh para astronom.

Tradisi ini masih berlanjut hingga sekarang. Banyak satelit alami, asteroid, dan benda langit lainnya juga dinamai berdasarkan tokoh dalam berbagai mitologi dunia di bawah pedoman International Astronomical Union (IAU).

Kesimpulannya, planet-planet dinamai berdasarkan dewa-dewa dalam mitologi Yunani karena para astronom kuno menghubungkan sifat dan pergerakan setiap planet dengan karakter para dewa. Tradisi ini berawal dari peradaban Babilonia, kemudian dikembangkan oleh bangsa Yunani, diadopsi oleh Romawi, dan akhirnya diwariskan ke dunia modern melalui bahasa Latin.

Meski ilmu astronomi telah berkembang sangat jauh, jejak sejarah tersebut tetap hidup dalam nama-nama planet yang kita gunakan setiap hari, menjadi pengingat bahwa sains dan budaya telah berjalan berdampingan sejak ribuan tahun lalu.

Referensi

BBC Science Focus. Diakses pada Agustus 2026. Why are Celestial Objects Named after Greek and Roman Deities?
Mystery In History. Diakses pada Agustus 2026. Planets and The Greek Mythology: Gods, Realms, and Celestial Connections
National Space Centre. Diakses pada Agustus 2026. How did the Planets get their Names? 
World Atlas. Diakses pada Agustus 2026. Where Do The Planets Get Their Names?

Curated For You

Editorial Team

Related Article