Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Tanah Kering Bisa Sulit Menyerap Air Hujan?
ilustrasi tanah kering (unsplash.com/Mike Erskine)
  • Kekeringan berkepanjangan dapat mengeraskan dan memadatkan permukaan tanah, merusak pori-pori, serta membuat air hujan lebih sulit meresap hingga memicu genangan.

  • Sebagian tanah sangat kering dapat bersifat hidrofobik dan memiliki udara terperangkap di pori-pori, sehingga pembasahan awal serta masuknya air berlangsung lebih lambat.

  • Saat hujan deras melampaui kapasitas infiltrasi, limpasan meningkatkan risiko banjir dan erosi; vegetasi, bahan organik, mulsa, serta pengurangan pemadatan membantu penyerapan air.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tanah yang kering setelah lama tidak diguyur hujan mungkin terlihat siap menyerap air sebanyak mungkin. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Ketika hujan deras turun setelah musim kemarau panjang, air justru bisa menggenang atau mengalir di permukaan tanah. Kondisi ini bahkan dapat meningkatkan risiko erosi dan banjir.

Lantas, kenapa tanah kering bisa sulit menyerap air hujan? Rupanya, kekeringan berkepanjangan dapat mengubah struktur dan sifat tanah sehingga air lebih sulit meresap. Ada beberapa proses yang menjelaskan fenomena ini, mulai dari terbentuknya lapisan tanah yang keras hingga perubahan sifat permukaan partikel tanah.

1. Permukaan tanah menjadi keras setelah kekeringan

Tanah yang sehat memiliki banyak pori-pori kecil yang memungkinkan air masuk dan bergerak menuju lapisan lebih dalam. Pori-pori ini terbentuk melalui aktivitas akar tanaman, cacing tanah, mikroorganisme, serta proses penguraian bahan organik. Keberadaannya penting untuk membantu tanah menyerap dan menyimpan air.

Namun, kekeringan berkepanjangan dapat merusak sebagian struktur tersebut. Permukaan tanah bisa mengeras dan membentuk lapisan padat, terutama jika terus terpapar sinar matahari atau mengalami tekanan akibat aktivitas manusia dan kendaraan.

Lapisan yang mengeras ini membuat air hujan lebih sulit menembus permukaan tanah. Akibatnya, laju infiltrasi atau proses masuknya air ke dalam tanah menjadi lebih lambat. Ketika hujan turun cukup deras, air yang tidak sempat meresap akan menggenang atau mengalir ke tempat yang lebih rendah.

2. Tanah yang sangat kering bisa menolak air

Salah satu penyebab tanah kering sulit menyerap air adalah sifat hidrofobik atau kemampuan permukaan tanah untuk menolak air. Fenomena ini dapat terjadi ketika partikel tanah dilapisi senyawa organik tertentu yang bersifat menolak air. Senyawa tersebut dapat berasal dari akar tanaman, mikroorganisme, maupun bahan organik yang mengalami penguraian. Dalam kondisi tertentu, terutama setelah periode kering yang panjang, lapisan senyawa ini membuat permukaan partikel tanah menjadi sulit dibasahi.

Akibatnya, tetesan air hujan tidak langsung meresap, tetapi dapat membentuk butiran kecil di permukaan tanah. Kondisi ini dikenal sebagai soil water repellency dan dapat ditemukan pada beberapa jenis tanah, termasuk tanah berpasir.

Meski demikian, tidak semua tanah kering memiliki sifat hidrofobik. Kemunculannya dipengaruhi oleh jenis tanah, kandungan bahan organik, dan kondisi lingkungan.

3. Udara yang terperangkap menghambat masuknya air

ilustrasi jalan yang terendam banjir (unsplash.com/Wes Warren)

Pori-pori tanah tidak selalu terisi air. Ketika tanah mengalami kekeringan, sebagian besar ruang di antara partikel tanah akan terisi udara.

Saat hujan tiba, air mulai memasuki pori-pori tersebut dan mendorong udara keluar. Jika udara tidak dapat keluar dengan cukup cepat, proses masuknya air bisa terhambat. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi laju penyerapan air pada tanah yang sangat kering.

Tanah yang sedikit lembap biasanya memiliki jalur air yang sudah terbentuk sehingga proses pembasahan berikutnya dapat berlangsung lebih mudah. Sebaliknya, tanah yang sangat kering, terutama jika bersifat menolak air, mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mulai menyerap air secara merata. Itulah sebabnya, hujan pertama setelah kemarau panjang belum tentu langsung membasahi tanah hingga lapisan yang lebih dalam.

4. Hujan deras turun lebih cepat daripada kemampuan tanah menyerap air

Setiap jenis tanah memiliki kapasitas infiltrasi, yaitu batas kecepatan air yang dapat masuk ke dalam tanah. Ketika intensitas hujan melebihi kapasitas tersebut, kelebihan air akan mengalir di permukaan.

Sebagai contoh, hujan deras yang berlangsung selama 30 menit belum tentu lebih efektif membasahi tanah dibandingkan hujan sedang yang turun selama beberapa jam. Pada hujan yang sangat deras, air datang terlalu cepat sehingga sebagian tidak sempat meresap.

Air yang mengalir di permukaan ini disebut surface runoff atau limpasan permukaan. Selain meningkatkan risiko genangan dan banjir, aliran tersebut dapat membawa partikel tanah, unsur hara, dan berbagai polutan menuju sungai atau saluran air. Inilah salah satu alasan hujan deras setelah kemarau panjang justru dapat memicu banjir, meskipun tanah sebelumnya sangat kering.

5. Jenis tanah memengaruhi kemampuan menyerap air hujan

Tidak semua tanah memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air yang sama. Perbedaan ukuran partikel dan susunan pori-pori membuat setiap jenis tanah memberikan respons berbeda terhadap hujan.

Sebagai contoh, tanah berpasir umumnya memiliki pori-pori berukuran besar sehingga air relatif cepat meresap. Namun, tanah ini juga cenderung sulit mempertahankan kelembapan karena air mudah bergerak ke lapisan yang lebih dalam.

Sebaliknya, tanah liat memiliki partikel sangat halus dan mampu menyimpan banyak air. Meski begitu, pergerakan air di dalamnya sering kali lebih lambat, terutama jika struktur tanah padat. Kondisi ini dapat menyebabkan genangan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Sementara itu, tanah lempung dengan komposisi pasir, debu, dan liat yang seimbang umumnya memiliki kemampuan cukup baik dalam menyerap sekaligus menyimpan air, terutama jika struktur dan kandungan bahan organiknya terjaga.

Menariknya, retakan pada tanah liat yang mengering juga dapat menjadi jalur masuk air hujan. Akan tetapi, sebagian air bisa langsung mengalir melalui retakan menuju lapisan dalam tanpa membasahi seluruh tanah di sekitar akar tanaman.

6. Berkurangnya vegetasi memperparah limpasan air

ilustrasi banjir (unsplash.com/Chris Gallagher)

Kekeringan panjang tidak hanya memengaruhi kondisi tanah, tetapi juga tumbuhan yang hidup di atasnya. Ketika vegetasi berkurang, permukaan tanah kehilangan salah satu pelindung alaminya. 

Daun dan batang tanaman membantu mengurangi kekuatan benturan air hujan sebelum mencapai tanah. Sementara itu, akar tanaman berperan dalam menjaga struktur tanah dan membentuk jalur yang memungkinkan air meresap. Tanpa perlindungan vegetasi, tetesan hujan dapat langsung menghantam permukaan tanah dan memecah gumpalan partikel tanah yang disebut agregat. Partikel yang terlepas kemudian dapat menyumbat pori-pori di permukaan sehingga air semakin sulit masuk.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko erosi, terutama pada lahan miring. Air hujan yang seharusnya membantu memulihkan kelembapan tanah justru mengalir sambil membawa lapisan tanah paling atas yang kaya bahan organik.

7. Bagaimana cara membantu tanah menyerap air dengan lebih baik?

Kemampuan tanah menyerap air sebenarnya dapat diperbaiki dengan menjaga struktur dan kandungan bahan organiknya. Salah satu caranya adalah menambahkan kompos yang dapat mendukung pembentukan agregat tanah serta meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air. Menjaga permukaan tanah tetap tertutup tanaman atau mulsa juga membantu mengurangi penguapan, mencegah pembentukan kerak, dan melindungi tanah dari benturan langsung air hujan.

Selain itu, pemadatan tanah akibat aktivitas kendaraan atau penggunaan alat berat perlu dikurangi. Tanah yang terlalu padat memiliki lebih sedikit ruang untuk pergerakan air. Pada lahan pertanian atau kebun yang sangat kering, penyiraman secara perlahan dan bertahap juga dapat membantu membasahi tanah tanpa menghasilkan terlalu banyak limpasan.

Jadi, tanah kering tidak selalu mudah menyerap air hujan. Sebaliknya, kekeringan berkepanjangan dapat membuat permukaannya mengeras, mengubah sifat pembasahannya, dan mengganggu jalur masuk air. Karena itu, hujan dengan intensitas sedang dan berlangsung cukup lama sering kali lebih efektif memulihkan kelembapan tanah dibandingkan hujan deras dalam waktu singkat.

Referensi

Crops and Soil. Diakses pada Oktober 2026. The Important Role of Soil Texture on Water
Good Housekeeping. Diakses pada Oktober 2026. 4 Ways You Can Help Your Bone-dry Soil Absorb the Rain, Rather Than Letting It Flood Your Garden
Stop Suszy. Diakses pada Oktober 2026. Deceptive Rains: Why don’t Summer Storms End the Soil Drought Problem?
Water Whys. Diakses pada Oktober 2026. Rain on Dry Soil
Wired. Diakses pada Oktober 2026. How Long Droughts Make Flooding Worse

Curated For You

Editorial Team

Related Article