Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Gempa Kecil Bisa Terjadi Berkali-kali setelah Gempa Besar?
ilustrasi lempeng Bumi yang terus bergerak (unplash.com/NASA)
  • Gempa susulan terjadi ketika kerak Bumi menyesuaikan perubahan tekanan setelah gempa utama; tekanan yang berpindah ke patahan atau batuan sekitar dapat memicu pergeseran baru.
  • Magnitudo gempa susulan umumnya lebih kecil, tetapi tetap berisiko memperparah kerusakan bangunan yang telah melemah dan dapat memicu longsor di lereng tidak stabil.
  • Durasi susulan bergantung pada kekuatan gempa utama dan kondisi geologi; frekuensinya biasanya tinggi pada awal kejadian lalu menurun seiring waktu, dari hari hingga bertahun-tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasakan gempa yang cukup kuat, lalu beberapa menit atau jam kemudian tanah kembali berguncang? Bahkan, getaran tersebut bisa muncul berkali-kali hingga beberapa hari setelah gempa utama terjadi.

Kondisi ini sebenarnya cukup umum dalam sebuah rangkaian gempa. Gempa-gempa yang muncul setelah gempa utama tersebut dikenal sebagai gempa susulan atau aftershock.

Kendati biasanya memiliki kekuatan yang lebih kecil, gempa susulan tetap perlu diwaspadai. Pasalnya, bangunan yang sudah mengalami kerusakan akibat gempa utama bisa menjadi jauh lebih rentan ketika kembali diguncang. Lantas, mengapa gempa kecil bisa terjadi berkali-kali setelah gempa besar? Ini dia jawabannya!

1. Apa itu gempa susulan

Gempa susulan adalah gempa yang terjadi setelah gempa utama atau mainshock, biasanya di wilayah yang sama atau di sekitar sumber gempa sebelumnya. Ketika gempa besar terjadi, sebagian bidang patahan di dalam kerak Bumi mengalami pergeseran secara tiba-tiba. Peristiwa ini melepaskan energi yang selama ini tersimpan sebagai tekanan di dalam batuan.

Namun, pelepasan tekanan tersebut tidak serta-merta membuat seluruh wilayah di sekitar patahan menjadi stabil. Justru sebaliknya, perubahan tekanan akibat pergeseran tersebut dapat membuat bagian kerak Bumi di sekitarnya mengalami perubahan beban. Beberapa bagian menjadi lebih rileks, sementara bagian lainnya justru menerima tekanan tambahan. Bagian yang mengalami tekanan baru inilah yang kemudian bisa kembali mengalami pergeseran dan menghasilkan gempa susulan.

Jadi, gempa susulan bukan sekadar "gema" dari gempa sebelumnya. Gempa ini merupakan bagian dari proses penyesuaian kerak Bumi terhadap perubahan tekanan yang terjadi setelah gempa utama.

2. Mengapa gempa susulan dapat terjadi berkali-kali

Alasan utamanya adalah karena perpindahan atau redistribusi tekanan di dalam kerak Bumi. Saat patahan bergerak dalam gempa besar, tekanan pada area yang mengalami pergeseran memang berkurang. Namun, tekanan tersebut tidak menghilang begitu saja. Sebagian dapat berpindah ke batuan dan patahan di sekitarnya.

Akibatnya, beberapa bagian yang sebelumnya masih stabil bisa menjadi lebih dekat dengan kondisi gagal atau bergeser. Ketika akhirnya bagian tersebut tidak mampu lagi menahan tekanan, terjadilah gempa susulan.

Prosesnya pun tidak selalu berlangsung sekaligus. Kerak Bumi membutuhkan waktu untuk mencapai kondisi yang lebih stabil setelah perubahan besar akibat gempa utama. Karena itu, gempa susulan dapat muncul berkali-kali dan jaraknya tidak selalu teratur.

3. Apakah gempa susulan selalu lebih kecil

ilustrasi lempeng Bumi (pixabay.com/WikiImages)

Secara umum, gempa susulan memiliki magnitudo lebih kecil daripada gempa utama. Namun, "lebih kecil" bukan berarti selalu aman.

Ada aturan empiris yang dikenal sebagai Hukum Bath, yang menunjukkan bahwa gempa susulan terbesar biasanya memiliki magnitudo sekitar 1,2 tingkat lebih rendah daripada gempa utama. Sebagai gambaran, gempa utama bermagnitudo 7 dapat diikuti gempa susulan sekitar magnitudo 5,8.

Gempa sebesar itu tetap dapat menimbulkan kerusakan, terutama jika bangunan sudah mengalami keretakan atau melemahnya struktur akibat gempa sebelumnya. Itulah sebabnya masyarakat dianjurkan tidak langsung kembali ke bangunan yang rusak hanya karena gempa utama sudah berhenti.

4. Berapa lama gempa susulan bisa terjadi

Tidak ada durasi yang sama untuk semua rangkaian gempa. Lamanya gempa susulan sangat dipengaruhi oleh kekuatan gempa utama dan kondisi geologi di wilayah tersebut.

Gempa dengan magnitudo lebih kecil biasanya menghasilkan rangkaian gempa susulan yang berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Sementara itu, gempa berkekuatan 6 hingga 7 dapat diikuti gempa susulan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Untuk gempa bermagnitudo 7 atau lebih, aktivitas gempa susulan bahkan dapat terus terdeteksi selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Meski begitu, jumlah gempa susulan biasanya semakin lama semakin berkurang.

Pada awalnya, gempa susulan dapat terjadi cukup sering. Setelah beberapa hari, frekuensinya mulai menurun. Beberapa minggu atau bulan kemudian, gempa susulan mungkin hanya muncul sesekali.

Pola penurunan ini dikenal melalui Hukum Omori, yang secara sederhana menggambarkan bahwa frekuensi gempa susulan menurun seiring bertambahnya waktu sejak gempa utama. Jadi, bukan berarti wilayah tersebut akan terus mengalami gempa dengan frekuensi yang sama selama berbulan-bulan.

5. Mengapa gempa susulan perlu diwaspadai

Gempa susulan memang biasanya lebih lemah daripada gempa utama, tetapi tetap bisa berbahaya. Salah satu alasannya adalah kondisi bangunan setelah gempa besar. Struktur yang sebelumnya tampak masih berdiri mungkin sebenarnya sudah mengalami kerusakan pada bagian tertentu. Ketika gempa susulan kembali mengguncang wilayah tersebut, struktur yang sudah melemah bisa mengalami kerusakan lebih parah atau bahkan runtuh.

Selain itu, gempa susulan juga dapat memicu bahaya lain, seperti longsor pada wilayah yang memiliki lereng tidak stabil. Karena itu, setelah terjadi gempa besar, masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi dari lembaga resmi seperti BMKG dan tidak menganggap remeh getaran berikutnya.

Intinya, gempa susulan terjadi karena kerak Bumi masih menyesuaikan diri setelah gempa besar. Meski umumnya lebih kecil, gempa susulan tetap perlu diwaspadai karena dapat memperparah kerusakan bangunan yang sudah melemah.

Referensi

EarthquakeTracker. Diakses pada Agustus 2026. Earthquake Aftershocks: What They Are and How Long They Last
Gelogia. Diakses pada Agustus 2026. Foreshocks vs Mainshock vs Aftershocks: How Earthquake Sequences Work
Science Insights. Diakses pada Agustus 2026. What Are Aftershocks and Why Do They Happen?
Science Insights. Diakses pada Agustus 2026. When Do Aftershocks Occur: Hours, Months, or Years?
SeismoWatch. Diakses pada Agustus 2026. Aftershocks, Foreshocks and Mainshocks

Curated For You

Editorial Team

Related Article