Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Kawasan Gunung Berapi Terus Mengeluarkan Uap Panas?
ilustrasi fumarol (commons.wikimedia.org/Budiprast)
  • Fumarol terbentuk ketika panas magma memanaskan air tanah menjadi uap, lalu tekanan mendorongnya bersama gas keluar melalui retakan batuan.
  • Kepulan fumarol didominasi uap air, namun juga mengandung karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan sulfur dioksida; pendinginan gas dapat membentuk endapan belerang kuning.
  • Ketebalan uap, suhu, dan jenis gas fumarol dipantau untuk membaca kondisi vulkanik, tetapi peningkatan aktivitasnya tidak selalu menandakan letusan segera terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aktivitas gunung berapi tidak selalu ditandai oleh letusan yang mengeluarkan lava atau abu vulkanik. Pada banyak gunung api, panas dari dalam bumi masih dapat terlihat melalui berbagai gejala yang muncul di permukaan meski erupsi tidak sedang terjadi.

Salah satunya adalah kepulan uap yang terus keluar dari celah batuan di sekitar kawah atau lereng gunung atau dikenal sebagai fumarol. Lalu, bagaimana uap panas tersebut bisa terus muncul dan apa yang membuat fenomena ini berbeda dari gejala vulkanik lainnya?

1. Panas dari dalam bumi mendorong gas keluar ke permukaan

ilustrasi fumarol (commons.wikimedia.org/Cyrus Read, USGS)

Di bawah gunung berapi masih terdapat magma, yaitu batuan cair yang suhunya dapat mencapai lebih dari 700 derajat Celsius. Meskipun magma tidak selalu naik hingga menjadi lava, panas yang dihasilkannya tetap merambat ke lapisan batuan di sekitarnya. Panas tersebut memanaskan air tanah yang berada di bawah permukaan hingga berubah menjadi uap. Uap panas kemudian bercampur dengan berbagai gas yang berasal dari magma dan mulai bergerak ke atas karena tekanan di bawah tanah lebih besar daripada tekanan udara di permukaan.

Perjalanan gas menuju permukaan tidak terjadi dengan menembus batuan yang padat. Gas memanfaatkan retakan atau celah alami yang sudah ada di dalam batuan sehingga lebih mudah keluar. Celah inilah yang disebut sebagai fumarol. Selama sumber panas di bawah permukaan masih ada, uap dan gas dapat terus keluar melalui jalur yang sama. Pada beberapa gunung berapi, aktivitas ini berlangsung hampir setiap hari dan menjadi salah satu tanda bahwa sistem vulkaniknya masih menyimpan energi panas.

2. Kandungan gas fumarol tidak hanya berupa uap air

ilustrasi fumarol (commons.wikimedia.org/Falk2)

Kepulan putih yang terlihat dari kejauhan sering disangka seluruhnya adalah asap. Padahal, sebagian besar yang tampak sebenarnya merupakan uap air yang mengalami pendinginan ketika bersentuhan dengan udara yang lebih dingin. Selain uap air, fumarol juga mengeluarkan berbagai gas lain, seperti karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan sulfur dioksida. Hidrogen sulfida adalah gas yang mengandung belerang dan memiliki bau menyengat menyerupai telur busuk, sedangkan sulfur dioksida merupakan gas yang sering menghasilkan aroma khas belerang di kawasan gunung berapi.

Komposisi gas yang keluar dapat berubah mengikuti kondisi di bawah permukaan bumi. Jika suhu meningkat atau terjadi pergerakan magma, jumlah gas tertentu bisa bertambah dibandingkan biasanya. Pada area di sekitar fumarol juga sering terlihat endapan berwarna kuning cerah. Endapan tersebut merupakan belerang yang terbentuk ketika gas yang keluar mengalami pendinginan dan mengendap di sekitar celah. Warna kuning ini menjadi salah satu pemandangan yang cukup umum di kawasan kawah gunung berapi aktif.

3. Perubahan aktivitas fumarol dapat menunjukkan kondisi gunung berapi

ilustrasi fumarol (commons.wikimedia.org/メルビル )

Fumarol tidak selalu mengeluarkan gas dengan jumlah dan suhu yang sama setiap waktu. Ada kalanya kepulan uap terlihat lebih tebal, lebih tipis, atau bahkan muncul dari retakan baru di sekitar kawah. Perubahan seperti ini terjadi karena kondisi di bawah permukaan bumi juga terus berubah. Pergerakan magma, naiknya suhu batuan, maupun perubahan tekanan gas dapat memengaruhi aktivitas fumarol. Oleh sebab itu, kawasan di sekitar fumarol menjadi salah satu lokasi yang rutin diamati ketika gunung berapi masih berstatus aktif.

Pengamatan terhadap fumarol tidak hanya melihat banyaknya uap yang keluar, tetapi juga suhu dan jenis gas yang dilepaskan. Perubahan pada ketiga hal tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi sistem vulkanik di bawah permukaan. Namun, peningkatan aktivitas fumarol tidak selalu berarti letusan akan segera terjadi karena setiap gunung berapi memiliki karakter yang berbeda. Sebaliknya, gunung yang tampak tenang juga masih bisa memiliki fumarol yang aktif selama sumber panasnya belum hilang. Itulah sebabnya aktivitas di sekitar kawah tetap memerlukan perhatian meskipun tidak terlihat adanya semburan lava atau letusan besar.

Keberadaan fumarol menunjukkan bahwa gunung berapi tetap mengalami proses alami meski sedang berada dalam masa tenang. Uap panas dan gas yang keluar melalui celah batuan menjadi bagian dari cara bumi melepaskan energi dari bawah permukaan. Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa aktivitas vulkanik tidak selalu muncul dalam bentuk letusan besar, tetapi juga melalui gejala-gejala yang berlangsung secara perlahan dan terus-menerus.

Referensi:

"EarthWord: Fumarole" USGS. Diakses pada Juli 2026

"Fumaroles." National Park Service of United States. Diakses pada Juli 2026

"Fumarole." Oregon State University. Diakses pada Juli 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article