Referensi
"15 Space Missions Pushing Humanity Forward In 2025". M2. Diases November 2025.
"Space Calendar 2025: Rocket Launches, Skywatching Events, Missions & More!". SPACE. Diakses November 2025.
7 Misi Luar Angkasa 2025, Ada dari NASA hingga SpaceX

- Misi luar angkasa 2025 menghasilkan berbagai hal yang berguna bagi masa mendatang.
- NASA akan meluncurkan misi Artemis III ke Bulan pada Desember 2025, menjelajahi kutub selatan dan mencari cadangan es air.
- SpaceX akan menguji pesawat luar angkasa Starship yang dirancang untuk eksplorasi ke Bulan, Mars, dan planet lain dengan biaya lebih efisien.
Tahun 2025 menjadi saksi kemajuan besar dalam dunia eksplorasi antariksa. Berbagai negara dan lembaga penelitian berlomba menghadirkan teknologi terbaru untuk menjawab rasa ingin tahu manusia mengenai alam semesta.
Perkembangan teknologi yang pesat juga membuka peluang baru untuk memahami asal-usul sekaligus masa depan kehidupan di luar Bumi. Mulai dari ekspedisi ke planet jauh hingga penelitian soal keberlangsungan hidup manusia di luar angkasa, sejumlah proyek ambisius telah dijalankan. Masing-masing membawa tujuan besar yang berkontribusi pada kemajuan sains dan teknologi global.
Ada apa saja? Simak deretan misi luar angkasa 2025 yang digadang-gadang membawa perubahan besar bagi dunia!
Table of Content
1. Artemis III (NASA)
NASA menorehkan sejarah baru lewat misi Artemis III yang dijadwalkan meluncur pada Desember 2025. Ini akan menjadi pertama kalinya manusia kembali ke permukaan Bulan sejak misi Apollo 17 tahun 1972. Kali ini, fokusnya menjelajahi kutub selatan Bulan, wilayah yang diyakini menyimpan cadangan es air.
Jika benar, temuan ini bisa menjadi sumber air minum, oksigen, bahkan bahan bakar roket di masa depan. Astronot akan meluncur menggunakan roket Space Launch System (SLS) dan berpindah ke pesawat SpaceX Human Landing System (HLS) untuk mendarat di Bulan.
Selama sekitar 1 minggu di permukaan Bulan, kru akan melakukan eksperimen ilmiah, menguji teknologi seperti in-situ resource utilization (ISRU), serta mengumpulkan sampel tanah Bulan. Misi ini membuka jalan bagi pembangunan basis di Bulan dan nantinya sebagai titik lompatan menuju Mars. Menariknya, perisai panas pesawat Orion dapat menahan suhu hingga 2.760 derajat Celsius. Lebih panas dari lava gunung berapi, lho!
2. SpaceX Starship
Tahun 2025 menjadi waktu penting bagi SpaceX dengan serangkaian uji terbang orbital Starship. Pesawat luar angkasa raksasa ini dirancang sepenuhnya dapat digunakan kembali sehingga menjadikannya kunci untuk menekan biaya eksplorasi ke Bulan, Mars, dan lebih jauh lagi. Starship memiliki dua tahap, yaitu Super Heavy Booster dan Starship Spacecraft dengan tinggi mencapai 120 meter, menjadikannya roket terbesar yang pernah dibuat manusia.
Salah satu fitur penting yang diuji adalah pengisian bahan bakar orbit yang memungkinkan misi jarak jauh tanpa membawa bahan bakar penuh dari Bumi. Selain itu, SpaceX juga menguji pelindung panas keramik yang mampu menahan suhu ekstrem saat masuk kembali ke atmosfer.
3. Luna-27 (Roscosmos)
Rusia melalui Roscosmos juga bersiap kembali ke Bulan lewat misi Luna-27 yang direncanakan meluncur September 2025. Fokus utama misi ini adalah mengeksplorasi kutub selatan Bulan, wilayah yang sama menariknya bagi banyak negara karena potensi kandungan air es. Lander Luna-27 akan dilengkapi dengan bor canggih yang mampu mengambil sampel tanah hingga kedalaman dua meter, guna mempelajari kandungan dan komposisi permukaan Bulan.
Luna-27 menjadi momen penting bagi kebangkitan program luar angkasa Rusia. Misi ini juga merupakan kolaborasi dengan European Space Agency (ESA) yang menyumbangkan instrumen PROSPECT untuk menganalisis sampel dan sistem Pilot-D buat pendaratan presisi tinggi. Hasil dari Luna-27 akan membantu ilmuwan memahami potensi sumber daya Bulan yang kelak dapat mendukung keberlangsungan manusia di sana atau bahkan menjadi bahan bakar perjalanan ke planet lain.
4. Blue Origin’s New Glenn

Setelah bertahun-tahun pengembangan, Blue Origin akhirnya meluncurkan roket New Glenn pada Oktober 2025. Roket ini dinamai dari astronaut legendaris John Glenn dan dirancang untuk bersaing langsung dengan SpaceX Falcon Heavy. Dengan tinggi 98 meter dan kemampuan membawa 45 ton ke orbit rendah Bumi (LEO), New Glenn akan menjadi salah satu roket terkuat di dunia. Roket ini juga diharapkan menjadi andalan peluncuran satelit mega-konstelasi Kuiper milik Amazon.
Keunggulan utama New Glenn adalah tahap pertamanya yang dapat digunakan kembali dan ditenagai tujuh mesin BE-4 berbahan bakar metana cair. Setelah mengirimkan muatan, tahap pertama ini akan kembali dan mendarat di kapal drone laut, mirip dengan sistem milik SpaceX.
5. Hera (ESA)
Setelah keberhasilan misi NASA DART yang menabrak asteroid Dimorphos pada 2022, European Space Agency (ESA) meluncurkan Hera pada Oktober 2025 untuk meneliti dampak tabrakan tersebut. Hera mempelajari struktur internal asteroid, ukuran kawah hasil tabrakan, dan komposisi permukaannya. Misi ini merupakan bagian penting dari upaya global untuk mengembangkan sistem pertahanan planet dari ancaman asteroid.
Hera juga akan membawa dua satelit kecil bernama Juventas dan Milani. Juventas akan menggunakan radar untuk melihat bagian dalam asteroid, sedangkan Milani menganalisis material di permukaannya. Dengan data yang dikumpulkan, ilmuwan dapat memahami bagaimana asteroid bereaksi terhadap benturan.
6. Ekspansi Stasiun Luar Angkasa Tiangong (China)
China terus memperkuat posisinya sebagai kekuatan luar angkasa dengan rencana ekspansi Stasiun Tiangong pada April 2025. Sejak modul pertamanya diluncurkan pada 2021, Tiangong berkembang menjadi pusat riset canggih di orbit rendah Bumi (LEO). Tahun depan, dua modul tambahan, yaitu Wentian dan Mengtian, akan memperluas kapasitas riset di bidang biologi, material, hingga kedokteran luar angkasa.
Keunggulan utama Tiangong adalah lengan robotiknya yang sangat presisi, mampu memindahkan modul dengan akurasi milimeter. Selain itu, China membuka peluang kerja sama internasional di mana astronot dari berbagai negara ikut tinggal dan meneliti di sana. Dengan sumber energi mencapai 20 kilowatt dari panel surya, Tiangong siap menjadi pusat penelitian luar angkasa global yang menyaingi Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
7. SPHEREx (NASA)
SPHEREx adalah teleskop luar angkasa milik NASA yang akan diluncurkan pada April 2025. Misi ini bertujuan memetakan seluruh langit dalam cahaya inframerah untuk memahami asal-usul galaksi, evolusi alam semesta, hingga misteri energi gelap. Dengan 96 saluran spektral, teleskop ini akan mengamati lebih dari 300 juta galaksi dan 100 juta bintang, memberikan peta paling detail yang pernah dibuat dalam sejarah.
Selain itu, SPHEREx juga akan mencari molekul organik dan air di galaksi Bima Sakti, unsur penting bagi terbentuknya kehidupan. Menariknya, dalam 2 tahun misinya, SPHEREx menghasilkan lebih banyak data dibandingkan banyak teleskop sebelumnya digabungkan.
Itulah beberapa misi luar angkasa 2025 yang menandai era baru dalam sejarah eksplorasi manusia. Dari teknologi revolusioner hingga ambisi menjelajah planet jauh, semuanya menunjukkan satu hal, manusia tak lagi sekadar bermimpi menembus bintang, tapi mulai benar-benar melangkah ke arahnya.
FAQ seputar misi luar angkasa 2025
| Negara mana saja yang terlibat dalam misi luar angkasa 2025? | Beberapa negara yang aktif di antaranya Amerika Serikat, Tiongkok, India, Jepang, dan Uni Eropa. |
| Apa tujuan utama misi luar angkasa 2025? | Tujuannya meliputi eksplorasi planet, pencarian kehidupan luar Bumi, serta pengembangan teknologi antariksa baru. |
| Apakah ada misi ke Mars di tahun 2025? | Ya, beberapa lembaga seperti NASA dan CNSA merencanakan proyek terkait penelitian dan pengujian teknologi untuk misi Mars di masa depan. |
| Kenapa misi luar angkasa penting bagi manusia? | Karena setiap misi memberi wawasan baru tentang asal-usul alam semesta dan membuka peluang besar bagi masa depan sains serta teknologi manusia. |



















