Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Mitos Gunung Krakatau yang Penuh Cerita Mistis, Apa Kata Sains?
ilustrasi erupsi (pexels.com/Irving Joaquin Gutierrez )

Gunung Krakatau bukan hanya dikenal karena letusannya yang dahsyat, tetapi juga karena berbagai cerita dan kepercayaan yang berkembang di sekitarnya. Nama Krakatau bahkan telah lama muncul dalam legenda masyarakat yang menceritakan asal-usul gunung dan kawasan Selat Sunda. Letusan besar Krakatau pada 1883 kemudian semakin memperkuat berbagai cerita tentang gunung tersebut.

Sebagian kisah mengaitkan letusan dengan murka atau hukuman Tuhan, sementara cerita lainnya membawa Krakatau ke dunia mistis dan kerajaan gaib. Meski begitu, tidak semua cerita yang beredar dapat dipandang sebagai fakta tentang Krakatau. Lantas, apa saja mitos tentang Gunung Krakatau yang menarik untuk dibahas? Yuk, simak di bawah ini!

1. Dalam legenda, Krakatau berasal dari guci Prabu Rakata

ilustrasi laut (pexels.com/Vladimir Konoplev)

Dalam legenda Sunda, asal-usul Gunung Krakatau dikaitkan dengan seorang raja bernama Prabu Rakata. Cerita tersebut mengisahkan Prabu Rakata yang memiliki dua putra, yakni Raden Sundana dan Raden Tapobrana, yang kemudian berselisih hingga terjadi peperangan. Melihat kedua putranya bertikai, Prabu Rakata mengambil guci pusaka yang dibawanya saat bertapa, lalu menuangkan air laut dari guci tersebut sebagai batas antara wilayah Sundana dan Tapobrana.

Dalam cerita itu, batas yang dialiri air laut kemudian berubah menjadi Selat Sunda, sementara guci pusaka yang ditinggalkan di tempat pertarungan menjelma menjadi Gunung Rakata atau Krakatau. Kisah tersebut dikenal sebagai "Sasakala Selat Sunda" dan merupakan cerita rakyat yang dibukukan oleh Eko Saptini pada 2021. Namun, cerita tentang guci pusaka dan Prabu Rakata tentu bukan penjelasan mengenai proses terbentuknya Krakatau secara geologi.

Menurut Badan Geologi Indonesia, kawasan Krakatau sebenarnya merupakan kompleks gunung api yang terbentuk melalui rangkaian aktivitas vulkanik dalam waktu yang sangat panjang. Sebelum letusan besar 1883, kawasan tersebut telah terdiri dari beberapa kerucut gunung api, termasuk Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Letusan dahsyat pada 1883 kemudian menghancurkan sebagian kompleks tersebut dan membentuk kaldera. Lalu, aktivitas vulkanik selanjutnya melahirkan Gunung Anak Krakatau yang mulai muncul ke permukaan pada 1927.

2. Letusan Krakatau 1883 dianggap sebagai murka Tuhan

ilustrasi erupsi gunung (unsplash.com/Jeferson Argueta)

Letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 tidak hanya meninggalkan kehancuran, tetapi juga melahirkan berbagai penafsiran di tengah masyarakat. Pada masa itu, bencana tersebut dikaitkan dengan berbagai kepercayaan dan pandangan religius. Mengutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejumlah pujangga menggambarkan letusan Krakatau sebagai bentuk kemurkaan atau hukuman Tuhan akibat perilaku manusia.

Pandangan tersebut salah satunya tercermin dalam "Syair Lampung Karam", karya sastra yang menceritakan pengalaman masyarakat saat menghadapi bencana Krakatau. Berdasarkan kajian yang terbit dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 16 No. 1 (2014), letusan Krakatau turut memengaruhi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Banten setelah bencana. Namun, penafsiran mengenai murka atau hukuman Tuhan merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat pada masa itu, bukan penjelasan ilmiah mengenai penyebab letusan.

Badan Geologi Indonesia menjelaskan bahwa letusan Krakatau merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang berkaitan dengan proses geologi di kawasan Selat Sunda. Letusan besar tersebut kemudian menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan membentuk kaldera di kawasan Krakatau. Jadi, meski kisah tentang murka Tuhan menjadi bagian dari sejarah dan budaya yang mengikuti letusan Krakatau, penyebab erupsinya dapat dijelaskan melalui proses vulkanik serta geologi.

3. Krakatau dikaitkan dengan kerajaan gaib

ilustrasi erupsi gunung (unsplash.com/Ben Turnbull)

Krakatau juga tidak lepas dari berbagai cerita tentang dunia gaib yang berkembang dalam kepercayaan masyarakat. Dalam kajian "Bencana Krakatau 1883 dalam Tinjauan Budaya Lokal Banten" yang dimuat dalam Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat pada 2021, bencana Krakatau dikaitkan dengan berbagai kepercayaan dan penafsiran budaya masyarakat Banten. Salah satu kepercayaan yang berkembang menghubungkan bencana tersebut dengan pelanggaran adat dan perilaku manusia.

Menurut BNPB, sejumlah masyarakat dan tokoh pada masa itu juga memaknai letusan Krakatau sebagai bentuk hukuman atau peringatan dari kekuatan yang lebih tinggi. Berbagai cerita tersebut kemudian menjadi bagian dari ingatan budaya yang terus melekat pada Krakatau hingga kini. Meski demikian, kisah tentang dunia gaib di sekitar Krakatau merupakan bagian dari folklor dan kepercayaan masyarakat, sedangkan aktivitas gunung api sendiri dapat dijelaskan melalui proses geologi dan vulkanik.

Berbagai mitos tentang Krakatau menunjukkan bagaimana masyarakat dari masa ke masa berusaha memahami gunung api melalui cerita, kepercayaan, dan pengalaman mereka. Di balik kisah Prabu Rakata, murka Tuhan, hingga dunia gaib, Krakatau tetap menyimpan sejarah panjang letusan dan aktivitas vulkanik yang nyata. Menurutmu, dari ketiga mitos tersebut, mana yang paling menarik untuk dibahas lebih jauh?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article