ilustrasi laut (pexels.com/Vladimir Konoplev)
Dalam legenda Sunda, asal-usul Gunung Krakatau dikaitkan dengan seorang raja bernama Prabu Rakata. Cerita tersebut mengisahkan Prabu Rakata yang memiliki dua putra, yakni Raden Sundana dan Raden Tapobrana, yang kemudian berselisih hingga terjadi peperangan. Melihat kedua putranya bertikai, Prabu Rakata mengambil guci pusaka yang dibawanya saat bertapa, lalu menuangkan air laut dari guci tersebut sebagai batas antara wilayah Sundana dan Tapobrana.
Dalam cerita itu, batas yang dialiri air laut kemudian berubah menjadi Selat Sunda, sementara guci pusaka yang ditinggalkan di tempat pertarungan menjelma menjadi Gunung Rakata atau Krakatau. Kisah tersebut dikenal sebagai "Sasakala Selat Sunda" dan merupakan cerita rakyat yang dibukukan oleh Eko Saptini pada 2021. Namun, cerita tentang guci pusaka dan Prabu Rakata tentu bukan penjelasan mengenai proses terbentuknya Krakatau secara geologi.
Menurut Badan Geologi Indonesia, kawasan Krakatau sebenarnya merupakan kompleks gunung api yang terbentuk melalui rangkaian aktivitas vulkanik dalam waktu yang sangat panjang. Sebelum letusan besar 1883, kawasan tersebut telah terdiri dari beberapa kerucut gunung api, termasuk Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Letusan dahsyat pada 1883 kemudian menghancurkan sebagian kompleks tersebut dan membentuk kaldera. Lalu, aktivitas vulkanik selanjutnya melahirkan Gunung Anak Krakatau yang mulai muncul ke permukaan pada 1927.