Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Pulau yang Terlahir dari Letusan Gunung Api, Pernah Ada?
ilustrasi pulau hunga tonga hunga ha’apai (wikimedia.org/James B. Garvin)
  • Letusan gunung api bawah laut dapat menumpuk lava dan abu hingga membentuk pulau baru, asalkan materialnya cukup kuat menghadapi ombak serta erosi.

  • Anak Krakatau, Surtsey, Nishinoshima, dan Hunga Tonga-Hunga Ha'apai menunjukkan aktivitas vulkanik mampu menciptakan, memperluas, atau mengubah bentuk daratan dalam era modern.

  • Tidak semua pulau vulkanik bertahan lama: Ferdinandea tenggelam beberapa bulan setelah muncul pada 1831, sementara Surtsey menjadi lokasi penting penelitian kolonisasi kehidupan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membayangkan sebuah pulau baru muncul dari tengah lautan, mungkin terdengar seperti adegan dalam film fantasi. Namun, fenomena tersebut benar-benar terjadi di Bumi. Ketika gunung api bawah laut meletus, lava, abu vulkanik, dan berbagai material lainnya dapat menumpuk hingga akhirnya menembus permukaan laut. Jika endapan tersebut cukup kuat untuk bertahan dari terpaan ombak dan erosi, terbentuklah sebuah pulau baru.

Meski tidak semua pulau vulkanik mampu bertahan lama, beberapa di antaranya berhasil berkembang menjadi daratan yang stabil bahkan menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup. Penasaran terdapat pulau apa saja? Berikut lima pulau yang lahir akibat letusan gunung api!

1. Anak Krakatau

ilustrasi pulau akibat anak krakatau (wikimedia.org/Pierre Markuse)

Dilansir laman UNESCO, Anak Krakatau merupakan salah satu contoh paling terkenal dari pulau vulkanik yang lahir di era modern. Pulau ini muncul di Selat Sunda setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 menghancurkan sebagian besar pulau induknya.

Selama beberapa dekade berikutnya, aktivitas gunung api bawah laut terus mengeluarkan lava dan material vulkanik hingga akhirnya pada 1927 muncul daratan baru di permukaan laut. Pulau tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Sejak saat itu, letusan yang terjadi secara berkala terus menambah tubuh gunung sekaligus mengubah bentuk pulaunya. Meski sempat mengalami longsoran besar pada 2018 yang menyebabkan sebagian tubuhnya runtuh ke laut, aktivitas vulkaniknya masih terus membangun daratan baru hingga sekarang.

2. Surtsey

ilustrasi pulau surtsey (wikimedia.org/CanonS2)

Dilansir laman NASA Science, pada November 1963, nelayan di lepas pantai selatan Islandia menyaksikan kepulan asap besar muncul dari laut. Fenomena tersebut menandai awal kelahiran Pulau Surtsey akibat letusan gunung api bawah laut.

Selama hampir empat tahun, lava dan abu vulkanik terus menumpuk hingga membentuk pulau baru dengan luas beberapa kilometer persegi. Berbeda dari pulau lain, Surtsey sengaja ditutup untuk umum agar para ilmuwan dapat mengamati bagaimana kehidupan mulai berkembang di daratan yang benar-benar baru.

Seiring berjalannya waktu, lumut, tumbuhan, burung laut, hingga berbagai organisme lain mulai menghuni pulau ini secara alami. Hingga kini, Surtsey menjadi salah satu lokasi penelitian ekologi paling penting di dunia untuk mempelajari proses kolonisasi kehidupan.

3. Nishinoshima

ilustrasi pulau Nishinoshima (wikimedia.org/Yuvalr)

Dilansir laman Smithsonian, Pulau Nishinoshima di Kepulauan Ogasawara, Jepang, sebenarnya telah ada sejak lama. Namun, pada 2013 terjadi letusan gunung berapi bawah laut di dekatnya yang memunculkan pulau baru berukuran kecil.

Aliran lava yang terus keluar akhirnya menyambungkan pulau baru tersebut dengan Nishinoshima lama. Letusan yang berulang dalam beberapa tahun berikutnya, membuat luas pulau meningkat berkali-kali lipat dibandingkan sebelum erupsi. Fenomena ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik tidak hanya dapat melahirkan pulau baru, tetapi juga mengubah ukuran dan bentuk pulau yang sudah ada secara signifikan.

4. Hunga Tonga-Hunga Ha'apai

ilustrasi pulau hunga tonga hunga ha’apai (wikimedia.org/James B. Garvin)

Dilansir laman Smithsonian, pada akhir 2014, letusan gunung api bawah laut di Kerajaan Tonga menghasilkan sebuah pulau baru yang menghubungkan dua pulau kecil, yaitu Hunga Tonga dan Hunga Ha'apai.

Awalnya, para ilmuwan memperkirakan pulau tersebut hanya akan bertahan dalam hitungan bulan karena mudah tererosi ombak. Namun, material vulkanik yang cukup padat membuatnya mampu bertahan selama beberapa tahun.

Pulau ini kemudian menjadi objek penelitian penting karena memperlihatkan bagaimana hujan, angin, dan gelombang laut mulai membentuk bentang alam baru. Meski sebagian besar pulau berubah drastis setelah letusan besar pada 2022, proses pembentukannya tetap menjadi salah satu contoh terbaik lahirnya pulau akibat aktivitas vulkanik di zaman modern.

5. Ferdinandea

ilustrasi pulau ferdinandea (wikimedia.org/Camillo De Vito)

Tidak semua pulau hasil letusan gunung api mampu bertahan lama. Salah satu contohnya adalah Pulau Ferdinandea di Laut Mediterania, dekat Sisilia, Italia. Dilansir laman BBC, pulau ini muncul secara tiba-tiba pada 1831 setelah letusan gunung api bawah laut. Kemunculannya bahkan sempat memicu perebutan klaim wilayah oleh beberapa negara Eropa karena lokasinya yang strategis.

Namun, tubuh pulau yang sebagian besar tersusun atas abu vulkanik yang rapuh tidak mampu menahan gempuran ombak. Hanya beberapa bulan setelah muncul, Ferdinandea kembali tenggelam di bawah permukaan laut. Hingga kini, puncak gunung apinya masih berada beberapa meter di bawah laut dan berpotensi kembali muncul apabila terjadi aktivitas vulkanik yang cukup besar.

Kemunculan pulau vulkanik ini membuktikan bahwa permukaan Bumi terus berubah hingga saat ini. Dari Anak Krakatau yang lahir di Selat Sunda, Surtsey yang menjadi laboratorium alami, hingga Ferdinandea yang hanya "singgah" selama beberapa bulan, semuanya menunjukkan bahwa aktivitas gunung api mampu menciptakan daratan baru dalam waktu yang relatif singkat. Selama aktivitas vulkanik masih terus berlangsung, bukan tidak mungkin Bumi akan kembali "melahirkan" pulau-pulau baru. Kira-kira, di mana kemunculan berikutnya akan terjadi, ya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article