Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal 5 Reptil Terbesar di Afrika, Bobotnya Bisa Mencapai 1 Ton!

Mengenal 5 Reptil Terbesar di Afrika, Bobotnya Bisa Mencapai 1 Ton!
buaya nil (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)
Intinya Sih
  • Afrika menjadi rumah bagi lima reptil raksasa, yaitu buaya nil, penyu belimbing, penyu tempayan, penyu hijau, dan buaya moncong ramping afrika barat dengan ukuran mencapai 1 ton.
  • Buaya nil dinobatkan sebagai reptil terbesar di Afrika dengan panjang hingga 6,5 meter dan bobot maksimal 1 ton, menjadikannya predator puncak di berbagai habitat perairan.
  • Penyu belimbing jadi spesies penyu terbesar di dunia, sedangkan penyu hijau terancam punah akibat aktivitas manusia; keduanya menunjukkan pentingnya konservasi laut Afrika.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Afrika merupakan salah satu benua terbesar yang terkenal akan keanekaragaman hewaninya. Salah satu hewan yang kerap ditemukan di Afrika adalah reptil, entah itu kura-kura, buaya, ular, hingga penyu yang hidup di laut. Tak hanya reptil berbisa dan berukuran kecil, ternyata Afrika juga menjadi rumah bagi reptil raksasa, lho.

Beberapa reptil terbesar di Afrika adalah buaya nil, penyu tempayan, penyu hijau, penyu belimbing, dan buaya moncong ramping afrika barat. Mereka tak hanya besar, tapi juga ganas, memiliki penyebaran yang luas, dan menjadi simbol bagi benua tersebut. Cari tahu ukuran dan bobot maksimal semua reptil tersebut di bawah ini, yuk!

1. Buaya nil punya bobot maksimal hingga 1 ton

buaya nil
buaya nil (commons.wikimedia.org/Timothy A. Gonsalves)

Dilansir The Reptile Database, Crocodylus niloticus atau buaya nil merupakan satwa endemik benua Afrika. Penyebarannya cukup luas karena mencakup Angola, Benin, Gambia, Malawi, Nigeria, Tanzania, Rwanda, hingga Afrika Selatan. Habitat buaya nil tak jauh berbeda dari spesies lain, yaitu rawa, sungai, danau, waduk, area pesisir, hingga perairan payau.

Ia menyandang gelar sebagai reptil terbesar nomor satu di Afrika dengan panjang 6.5 meter dan bobot maksimal 1 ton. Di dunia, ia merupakan buaya terbesar kedua setelah Crodocodylus porosus atau buaya muara. Karena berukuran besar, buaya nil menjadi predator puncak yang bisa memangsa apapun, mulai dari serangga, ikan, kura-kura, hingga mamalia raksasa seperti zebra dan kerbau.

2. Penyu belimbing bisa menghasilkan ratusan telur

penyu belimbing
penyu belimbing (commons.wikimedia.org/Alastair Rae)

Di laut Afrika hidup satu spesies penyu raksasa bernama penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Ia merupakan spesies penyu terbesar di dunia (sekaligus di Afrika) dengan panjang 3 meter dan bobot maksimal 900 kilogram. Namanya sendiri terinspirasi dari tempurungnya yang lonjong dan kehadiran tonjolan memanjang yang mirip buah belimbing.

Di Afrika sendiri reptil ini bisa dijumpai di pesisir barat, timur, hingga selatan benua tersebut. Dilansir Animal Diversity Web, penyu belimbing adalah hewan pelagis yang kerap berenang dan beraktivitas di laut lepas. Secara umum, hewan ini secara penuh hidup di dalam air. Biasanya, ia hanya akan naik ke dararan saat hendak bertelur. Sekali bertelur, ia bisa menghasilkan 50-170 butir telur.

3. Buaya moncong ramping afrika barat punya moncong ramping

buaya moncong ramping afrika barat
buaya moncong ramping afrika barat (commons.wikimedia.org/David J. Stang)

Mecistops cataphractus atau buaya moncong ramping afrika barat merupakan spesies yang cukup unik. Pertama, ia punya moncong yang ramping dan sempit. Nah, moncong tersebut secara khusus dirancang untuk menangkap ikan dan hewan air. Ia juga punya kebiasaan yang tak biasa, yaitu berjemur di pohon atau batang kayu. Panjangnya sendiri sekitar 3 hingga 4.5 meter dengan bobot maksimal 600 kilogram.

Laman EDGE of Existence menjelaskan kalau penyebaran spesies ini mencakup Danau Tanganyika hingga Sungai Gambia. Menariknya, ada kemungkinkan kalau hewan ini akan dipisah menjadi dua spesies berbeda. Pasalnya, ada populasi yang hidup di dataran tinggi hingga ketinggian 600 mdpl serta memiliki banyak perbedaan dengan populasi di daerah lain.

4. Penyu tempayan bisa hidup hingga berusia 67 tahun

penyu tempayan
penyu tempayan (commons.wikimedia.org/Dionysisa303)

Penyu tempayan (Caretta caretta) merupakan spesies penyu dengan panjang maksimal 2.1 meter dan bobot 500 kilogram. Namun, panjang rata-ratanya hanya sekitar 90 centimeter dengan bobot yang tak lebih dari 200 kilogram. Dilansir Animalia, spesies ini juga bisa hidup hingga mencapai usia 67 tahun. Sayangnya, ia belum bisa bereproduksi sampai usia 17-33 tahun.

Penyebarannya di Afrika cukup merata, mulai dari wilayah utara, timur, hingga barat. Habitatnya mencakup area pesisir, terumbu karang, dan laut lepas. Suhu optimal untuk kehidupan hewan ini ada di angka 13.3–28 °C. Kemudian, suhu optimal untuk reproduksinya berkisar antara 27–28 °C. Walau penyebarannya luas, tapi populasi penyu tempayan terus merosot akibat kerusakan habitat dan aktivitas manusia.

5. Penyu hijau merupakan hewan terancam punah

penyu hijau
penyu hijau (commons.wikimedia.org/Kris Mikael Krister)

Dilansir iNaturalist, Chelonia mydas atau penyu hijau masuk ke kategori endangered (terancam). Penurunan populasinya disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari perburuan liar, kerusakan habitat, polusi, hingga pencemaran akibat aktivitas manusia. Untungnya, berbagai upaya konservasi secara internasional terus digayangkan untuk menjaga eksistensi penyu hijau.

Penyu hijau punya panjang maksimal 1.8 meter dan bobot 500 kilogram. Namun, di balik ukurannya ia tetaplah perenang yang andal, gesit, dan mampu bermanuver di perairan dengan baik. Penyebarannya tak hanya mencakup benua Afrika, tapi meluas hingga ke Amerika, Asia, hingga Australia. Selain itu, ia merupakan predator utama ubur-ubur dan berperan mengendalikan populasi hewan tersebut.

Itulah lima reptil terbesar di Afrika yang mencakup buaya hingga penyu. Ukuran besar yang mereka miliki sangat berguna dalam rangka melindungi diri, mencari makanan, dan menjangkau area yang lebih luas. Walau sama-sama besar, tiap spesies memiliki keunikan dan adaptasi yang berbeda. Nah, perbedaan tersebut merupakan strategi untuk bertahan hidup di berbagai tipe habitat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in Science

See More