Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Longsoran Salju Sering Terjadi di Broad Peak?
ilustrasi Gunung Broad Peak (pixabay.com/balouriarajesh)
  • Longsoran di Broad Peak sering dipicu lereng 30–45 derajat yang menampung salju tebal di atas lapisan lama rapuh, sehingga mudah runtuh saat mendapat beban tambahan.
  • Angin kencang, badai, dan perubahan suhu cepat membentuk wind slab serta melemahkan ikatan salju; pola cuaca Karakoram yang tidak menentu membuat stabilitas lapisan sulit diprediksi.
  • Ketinggian 8.051 meter mengurangi oksigen, memperlambat respons pendaki, dan menyulitkan evakuasi; medan Karakoram yang curam, bergletser, serta bersalju tebal mempertahankan risiko alami.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Broad Peak merupakan gunung tertinggi ke-12 di dunia dengan ketinggian sekitar 8.051 meter di atas permukaan laut. Gunung yang berada di Pegunungan Karakoram, Pakistan, ini dikenal sebagai salah satu puncak paling menantang bagi para pendaki. Selain berada di zona kematian (death zone), Broad Peak juga memiliki reputasi sebagai gunung yang sangat rawan longsoran salju atau avalanche.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kecelakaan fatal di Broad Peak kembali mengingatkan dunia bahwa ancaman terbesar di gunung ini bukan hanya kurangnya oksigen, tetapi juga longsoran salju yang bisa terjadi tanpa banyak peringatan. Lalu, sebenarnya kenapa longsoran salju di Broad Peak begitu sering terjadi? Berikut penjelasannya.

1. Kemiringan lerengnya berada pada sudut yang paling berbahaya

Tidak semua lereng bersalju mudah mengalami avalanche. Longsoran salju paling sering terjadi pada lereng dengan kemiringan sekitar 30 hingga 45 derajat. Menariknya, sebagian besar jalur pendakian Broad Peak justru berada di kisaran sudut tersebut.

Misalnya, rute dari Camp 2 menuju Camp 3, melewati lereng luas yang dipenuhi salju tebal. Di area ini, salju yang tertiup angin akan terus menumpuk hingga membentuk lapisan besar yang tampak kokoh di permukaan. Padahal, lapisan tersebut sering kali hanya bertumpu pada salju lama yang lebih rapuh.

Kondisi seperti ini membuat lereng mampu menyimpan tekanan dalam waktu lama. Ketika beban bertambah, misalnya akibat salju baru atau pijakan pendaki, lapisan tersebut bisa runtuh sekaligus dan memicu longsoran besar.

2. Angin kencang membuat lapisan salju menjadi tidak stabil

Pegunungan Karakoram dikenal memiliki cuaca yang sangat ekstrem. Salju lebat, badai, dan angin berkecepatan tinggi bisa datang hanya dalam hitungan jam.

Angin bukan hanya membuat suhu terasa lebih dingin, tetapi juga memindahkan salju dari satu tempat ke tempat lain. Salju yang terbawa angin akan mengendap di lereng tertentu hingga membentuk lapisan padat yang disebut wind slab.

Masalahnya, lapisan padat ini sering berada di atas salju lama yang lebih lemah. Perpaduan tersebut menciptakan struktur yang tidak stabil, seperti meletakkan papan keras di atas tumpukan pasir. Saat lapisan atas menerima beban tambahan, baik karena salju baru, perubahan suhu, maupun langkah para pendaki, seluruh lapisan bisa langsung pecah dan meluncur menuruni lereng sebagai avalanche.

3. Perubahan cuaca yang sangat cepat meningkatkan risikonya

ilustrasi Gunung Broad Peak (pixabay.com/Farbsynthese)

Cuaca di Broad Peak terkenal sulit diprediksi. Dalam waktu singkat, langit yang cerah bisa berubah menjadi badai salju disertai angin kencang.

Selain itu, perubahan suhu yang terjadi dalam beberapa hari juga berpengaruh terhadap kestabilan salju. Curah salju tinggi yang kemudian diikuti kenaikan suhu membuat salju menjadi lebih berat dan ikatan antarlapisannya melemah.

Para peneliti juga mencatat bahwa wilayah pegunungan tinggi di Asia, termasuk Karakoram, mulai mengalami pola cuaca yang semakin tidak menentu. Variasi suhu dan curah salju yang berubah-ubah membuat perilaku lapisan salju menjadi semakin sulit diprediksi. Meskipun belum dapat dipastikan bahwa setiap longsoran di Broad Peak disebabkan oleh perubahan iklim, banyak ilmuwan menilai perubahan pola cuaca ikut memperbesar risiko terjadinya avalanche di kawasan tersebut.

4. Ketinggian ekstrem membuat pendaki lebih sulit menghindari bahaya

Di atas ketinggian 8.000 meter terdapat wilayah yang dikenal sebagai death zone. Pada ketinggian ini, kadar oksigen hanya sekitar sepertiga dibandingkan permukaan laut.

Akibatnya, tubuh dan otak tidak dapat bekerja seoptimal biasanya. Pendaki menjadi lebih cepat lelah, sulit berkonsentrasi, dan waktu reaksinya melambat.

Padahal, tanda-tanda awal avalanche sering kali sangat halus, seperti munculnya retakan kecil di permukaan salju atau suara lapisan salju yang mulai bergeser. Dalam kondisi tubuh yang sudah kelelahan dan kekurangan oksigen, tanda-tanda tersebut bisa saja tidak disadari.

Kalaupun longsoran sudah terjadi, peluang penyelamatan juga jauh lebih kecil. Suhu yang sangat dingin, medan yang curam, dan minimnya oksigen membuat proses evakuasi menjadi jauh lebih sulit dibandingkan di gunung dengan ketinggian lebih rendah.

5. Karakter Pegunungan Karakoram memang penuh bahaya alami

Broad Peak berada di kawasan Karakoram, satu pegunungan yang juga menjadi rumah bagi K2 dan sejumlah gunung setinggi lebih dari 8.000 meter lainnya. Wilayah ini memiliki kombinasi medan yang sangat curam, gletser besar, salju tebal, serta badai yang datang berulang sepanjang musim pendakian. Semua faktor tersebut dikenal sebagai objective hazards, yaitu bahaya alami yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia.

Artinya, sebaik apa pun persiapan pendaki, risiko longsoran salju tetap akan selalu ada. Bahkan, ketika cuaca terlihat cukup baik, kondisi lapisan salju di bawah permukaan belum tentu benar-benar stabil.

Jadi, avalanche di Broad Peak terjadi karena kombinasi dari beberapa faktor. Bagi para pendaki, memahami kondisi salju, membaca perubahan cuaca, dan memilih waktu pendakian yang tepat sama pentingnya dengan kemampuan mendaki itu sendiri. Dengan begitu, risiko menghadapi longsoran salju dapat ditekan meskipun tidak pernah benar-benar bisa dihilangkan.

Referensi

Bold Himalaya. Diakses pada Agustus 2026. Broad Peak Avalanche: Nirmal Purja & the Team
Khabarhub. Diakses pada Agustus 2026. Beyond Broad Peak: Climate Change and New Avalanche Threat
Mount Glory Treks and Expedition. Diakses pada Agustus 2026. Broad Peak Avalanche: What Happened on Pakistan's 8,051-Meter Peak?
Nepal Gateway. Diakses pada Agustus 2026. Broad Peak Avalanche 2026: The Full Story of The Disaster That Killed Nirmal Purja and Nine Others
Times Now News. Diakses pada Agustus 2026. How Unpredictable Are Avalanches? Indian Mountaineer's Big Message For Climbers After Nirmal Purja's Death | Exclusive

Curated For You

Editorial Team

Related Article