Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Seni Jadi Cara Efektif Ajarkan Mitigasi Bencana, Lebih Mudah Dipahami
Pameran gabungan science dan seni bertajuk Setanah, Tak Diam (IDN Times/Fatkhur Rozi)
  • Penelitian bahaya geologi di Bandung diterjemahkan ke dalam pameran dengan pendekatan sains, kuratorial, dan seni.
  • Pendekatan ini digunakan agar informasi risiko bencana lebih mudah dibayangkan dan dipahami masyarakat.
  • Komunitas lokal dilibatkan untuk menghubungkan pengalaman mereka dengan data serta temuan ilmiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Penelitian bahaya geologi Bandung diterjemahkan melalui pameran yang mempertemukan sains, pendekatan kuratorial, dan seni.
  • Who?
    British Geological Survey, Institut Teknologi Bandung, peneliti Indonesia dan Inggris, BRIN, British Council, praktisi, kurator, seniman, serta masyarakat lokal terlibat.
  • Where?
    Kawasan Bandung, Indonesia.
  • When?
    per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Bahasa ilmiah tentang risiko gempa bumi, gunung api, dan tanah longsor dinilai kaku serta tidak selalu mudah dipahami masyarakat.
  • How?
    Penelitian memetakan bahaya, masyarakat, dan infrastruktur, lalu hasilnya disampaikan lewat pameran serta melibatkan pengalaman komunitas lokal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Orang-orang yang meneliti gempa, gunung api, dan tanah longsor di Bandung membuat pameran seni. Mereka dari Indonesia dan Inggris. Pameran itu membantu banyak orang memahami bahasa sains yang sulit. Warga juga ikut bercerita tentang tempat tinggalnya. Cerita warga dan data ilmiah dipakai bersama untuk mengenal risiko bencana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pendekatan pameran membuka ruang bagi pengetahuan ilmiah untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Keterlibatan peneliti, praktisi, kurator, seniman, dan komunitas lokal membuat pemahaman risiko dapat dikaitkan dengan pengalaman hidup warga. Pertemuan data dan pengalaman tersebut juga memberi konteks yang relevan bagi kesiapsiagaan bencana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Riset mengenai gempa bumi, gunung api, dan tanah longsor menghasilkan banyak informasi yang penting bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Masalahnya, hasil penelitian tersebut tidak selalu mudah dipahami karena bahasa ilmiah yang digunakan sering terasa kaku dan memiliki jarak dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Persoalan tersebut coba dijawab melalui penelitian bertajuk "Exposed: Physical and Social Exposure to Seismic and Volcanic Threats in Bandung, Indonesia", yang dipimpin oleh British Geological Survey (BGS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui International Science Partnerships Fund (ISPF) UK–Indonesia Research Collaboration. Proyek kolaborasi peneliti Indonesia dan Inggris ini mempelajari bahaya geologi di kawasan Bandung yang memang punya kondisi geologi yang unik. Penelitian ini tidak hanya berusaha memahami proses geologi yang mungkin terjadi, tetapi juga memetakan masyarakat dan infrastruktur yang berpotensi terdampak agar rencana ketahanan bisa disesuaikan dengan kondisi mereka.

Hasil penelitian kemudian diterjemahkan melalui sebuah pameran yang mempertemukan sains dengan pendekatan kuratorial dan seni. Pendekatan ini membawa gagasan untuk "memanusiakan sains", sehingga informasi mengenai risiko bencana tidak berhenti sebagai pengetahuan akademis, tetapi lebih mudah dibayangkan, dipahami, dan pada akhirnya bisa mendorong masyarakat mengambil tindakan.

1. Menjembatani bahasa ilmiah dengan masyarakat

Pameran gabungan science dan seni bertajuk Setanah, Tak Diam (IDN Times/Fatkhur Rozi)

Dr. Rahma Hanifa dari BRIN menjelaskan bahwa informasi mengenai Sesar Lembang sebenarnya sudah cukup sering terdengar di Bandung, meski tingkat pemahaman masyarakat masih berbeda. Situasi serupa juga terjadi pada informasi mengenai Tangkuban Perahu, sementara banyak penelitian yang sudah dilakukan belum tentu dapat menjangkau masyarakat melalui bahasa yang mudah dipahami.

Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan tim peneliti mencoba mencari pendekatan berbeda dalam menyampaikan hasil penelitian. Alih-alih hanya menyajikan data ilmiah, mereka ingin membantu masyarakat membayangkan skenario yang mungkin terjadi apabila aktivitas geologi berdampak terhadap Bandung, termasuk siapa yang berpotensi terdampak.

"Kadang bahasa ilmiah, meskipun kami melakukan banyak penelitian, pesan kami terkadang sedikit kaku. Karena itu ketika kami bekerja sama dengan British Geological Survey dan ITB, kami juga turut mengemasnya dengan fokus memanusiakan sains, supaya bisa lebih tergambar seperti apa skenario yang mungkin terjadi," jelas Dr. Rahma.

2. Sains tidak harus berada di laboratorium

Pameran gabungan science dan seni bertajuk Setanah, Tak Diam (IDN Times/Fatkhur Rozi)

Pendekatan tersebut membuat pameran menjadi bagian penting dalam menerjemahkan penelitian kepada masyarakat umum. Pengetahuan dari ilmuwan, engineer, desainer, hingga praktisi dibawa ke ruang yang memungkinkan masyarakat merasakan dan memahami informasi tersebut secara lebih dekat, bukan sekadar membaca hasil penelitian yang penuh istilah teknis.

Country Director British Council Summer Xia menilai pendekatan lintas disiplin seperti ini menjadi bagian penting dari proyek tersebut. Kolaborasi tidak hanya mempertemukan peneliti Indonesia dan Inggris, tetapi juga melibatkan praktisi, kurator, seniman, serta masyarakat lokal agar perspektif yang digunakan tidak terbatas pada lingkungan akademis.

"Sains tidak hanya menjadi ranah akademisi dan peneliti ataupun terbatas di dalam laboratorium. Sains sesungguhnya dapat hadir di galeri seni dan dipahami oleh siapa saja, sehingga setiap orang dapat mengambil tindakan serta memanfaatkan penelitian ilmiah tersebut untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri maupun komunitasnya," Ujar Summer.

3. Masyarakat ikut menjadi bagian dari proses penelitian

Pameran gabungan science dan seni bertajuk Setanah, Tak Diam (IDN Times/Fatkhur Rozi)

Upaya membuat sains lebih mudah dipahami juga tidak menempatkan masyarakat sebagai penerima informasi semata. Komunitas lokal dilibatkan sejak awal untuk berbagi pengalaman hidup serta pengetahuan mengenai lingkungan tempat mereka tinggal, sehingga hasil penelitian dapat memiliki konteks yang lebih relevan.

Keterlibatan tersebut penting karena masyarakat telah hidup berdampingan dengan kondisi geologi Bandung selama bertahun-tahun. Pengalaman mereka kemudian dipertemukan dengan data dan temuan ilmiah untuk menghasilkan pemahaman risiko yang tidak hanya berasal dari perspektif peneliti.

Summer menilai model seperti ini juga menciptakan rasa kepemilikan bersama terhadap hasil penelitian. Pengetahuan mengenai mitigasi bencana pada akhirnya tidak hanya menjadi milik ilmuwan atau institusi penelitian, tetapi bisa digunakan masyarakat dan diharapkan turut menjadi pertimbangan pemerintah dalam pengambilan kebijakan serta keputusan mengenai kesiapsiagaan bencana.

Curated For You

Editorial Team

Related Article