Riset mengenai gempa bumi, gunung api, dan tanah longsor menghasilkan banyak informasi yang penting bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Masalahnya, hasil penelitian tersebut tidak selalu mudah dipahami karena bahasa ilmiah yang digunakan sering terasa kaku dan memiliki jarak dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Persoalan tersebut coba dijawab melalui penelitian bertajuk "Exposed: Physical and Social Exposure to Seismic and Volcanic Threats in Bandung, Indonesia", yang dipimpin oleh British Geological Survey (BGS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui International Science Partnerships Fund (ISPF) UK–Indonesia Research Collaboration. Proyek kolaborasi peneliti Indonesia dan Inggris ini mempelajari bahaya geologi di kawasan Bandung yang memang punya kondisi geologi yang unik. Penelitian ini tidak hanya berusaha memahami proses geologi yang mungkin terjadi, tetapi juga memetakan masyarakat dan infrastruktur yang berpotensi terdampak agar rencana ketahanan bisa disesuaikan dengan kondisi mereka.
Hasil penelitian kemudian diterjemahkan melalui sebuah pameran yang mempertemukan sains dengan pendekatan kuratorial dan seni. Pendekatan ini membawa gagasan untuk "memanusiakan sains", sehingga informasi mengenai risiko bencana tidak berhenti sebagai pengetahuan akademis, tetapi lebih mudah dibayangkan, dipahami, dan pada akhirnya bisa mendorong masyarakat mengambil tindakan.
