Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Studi: Materi Gelap Mungkin Tak Sengaja Terdeteksi Sejak 2019

Studi: Materi Gelap Mungkin Tak Sengaja Terdeteksi Sejak 2019
Ilustrasi dark matter (flickr.com/Maxwell Hamilton)
Intinya Sih
  • Studi internasional menemukan kemungkinan bahwa sinyal gelombang gravitasi sejak 2019 sudah menyimpan jejak materi gelap, membuka peluang baru dalam pencarian komponen misterius alam semesta.
  • Satu peristiwa tabrakan black hole pada Juli 2019 menunjukkan pola unik yang konsisten dengan keberadaan awan dark matter, meski belum cukup kuat untuk diklaim sebagai bukti pasti.
  • Para ilmuwan menegaskan penelitian lanjutan masih dibutuhkan karena bentuk dan sifat asli materi gelap belum diketahui, serta berbagai teori alternatif masih terus diperdebatkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Selama puluhan tahun, dark matter atau materi gelap menjadi salah satu misteri terbesar dalam kosmologi. Materi tak terlihat ini diyakini menyusun sebagian besar massa alam semesta, tetapi hingga kini belum pernah terdeteksi secara langsung. Kini, para ilmuwan menduga bahwa petunjuk keberadaannya mungkin sebenarnya sudah tertangkap sejak 2019 tanpa sengaja.

Menurut studi terbaru, jejak tersebut kemungkinan tersembunyi di dalam data gelombang gravitasi, yaitu riak pada ruang-waktu yang dihasilkan oleh tabrakan objek ekstrem seperti lubang hitam. Tim fisikawan dari Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa mengusulkan bahwa jika dua Black hole bertabrakan di dalam awan materi gelap, maka gelombang gravitasi yang dihasilkan dapat membawa “sidik jari” lingkungan tersebut.

Saat model ini diterapkan pada puluhan sinyal gelombang gravitasi yang telah terdeteksi, para peneliti menemukan satu peristiwa yang tampaknya cocok dengan prediksi mereka. Meski belum menjadi bukti pasti, temuan ini membuka kemungkinan baru untuk menyelidiki materi gelap melalui pengamatan gelombang gravitasi.

1. Gelombang gravitasi bisa menyimpan petunjuk

Para peneliti di balik studi ini mulai bertanya-tanya apakah sinyal gravitational waves sebenarnya menyimpan informasi lain selain jejak tabrakan kosmik. Secara khusus, mereka ingin mengetahui apakah gelombang gravitasi dapat membantu memecahkan misteri dark matter, materi misterius yang diyakini memenuhi alam semesta tetapi hampir tidak berinteraksi dengan materi biasa selain melalui gravitasi.

Untuk mengujinya, tim peneliti membuat model tentang bagaimana awan materi gelap dapat memengaruhi sinyal gelombang gravitasi saat merambat menuju Bumi. Mereka kemudian membandingkan hasilnya dengan tabrakan black hole yang terjadi di ruang hampa tanpa keberadaan materi gelap dalam jumlah besar.

Model tersebut lalu diterapkan pada 28 sinyal yang terdeteksi oleh jaringan observatorium LVK, yang terdiri dari LIGO di Amerika Serikat, Virgo di Italia, dan KAGRA di Jepang. Hasilnya, 27 sinyal tampak berasal dari tabrakan biasa di ruang hampa, sementara satu sinyal menunjukkan pola yang berbeda dan menarik perhatian para ilmuwan.

2. Sinyal tahun 2019

ilustrasi dark matter (unsplash.com/Thor Alvis)
ilustrasi dark matter (unsplash.com/Thor Alvis)

Dari seluruh data yang dianalisis, satu peristiwa yang terdeteksi pada Juli 2019 yang dikenal sebagai GW190728 menunjukkan pola yang konsisten dengan tabrakan dua black hole di dalam awan dark matter yang padat. Jika benar, ini bisa menjadi salah satu petunjuk paling menjanjikan tentang keberadaan materi gelap yang pernah ditemukan.

Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa hasil ini masih jauh dari konfirmasi. Fisikawan Josu Aurrekoetxea dari Massachusetts Institute of Technology mengatakan bahwa tingkat signifikansi statistiknya belum cukup kuat untuk mengklaim deteksi materi gelap. Karena itu, diperlukan analisis lanjutan dan verifikasi dari kelompok ilmuwan independen sebelum kesimpulan besar bisa dibuat.

3. Misteri materi gelap

Hingga kini, para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti bentuk asli dark matter. Materi misterius ini bahkan mungkin tidak membentuk awan seperti yang diasumsikan dalam penelitian tersebut. Ada berbagai kemungkinan yang masih diperdebatkan, mulai dari partikel hipotetis seperti WIMP dan MACHO, materi gelap yang dapat saling berinteraksi, hingga teori bahwa ia mungkin berupa lubang hitam primordial berukuran kecil.

Bahkan, sebagian ilmuwan juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa materi gelap sebenarnya tidak ada sama sekali, dan justru pemahaman manusia tentang gravitasi yang perlu direvisi. Karena itu, meski hasil studi terbaru ini menarik perhatian, para peneliti menegaskan bahwa masih diperlukan banyak penelitian tambahan untuk benar-benar mengungkap misteri terbesar alam semesta tersebut.

Meski belum menjadi bukti pasti, temuan ini menunjukkan bahwa gelombang gravitasi mungkin dapat membuka cara baru untuk mencari Dark matter. Jika penelitian lanjutan berhasil mengonfirmasi hasil tersebut, ilmuwan bisa semakin dekat untuk memahami salah satu komponen paling misterius di alam semesta.

Referensi

Roy, Soumen, Rodrigo Vicente, Josu C. Aurrekoetxea, Katy Clough, and Pedro G. Ferreira. “Scalar Fields Around Black Hole Binaries in LIGO-Virgo-KAGRA.” Physical Review Letters 136, no. 19 (March 19, 2026).

"A new way to spot signs of dark matter". MIT News Office. Diakses pada Mei 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More