Menilik Satu Dekade Gianni Infantino Sebagai Presiden FIFA

- Selama satu dekade kepemimpinan Gianni Infantino, FIFA menyalurkan lebih dari 5 miliar dolar AS lewat program pengembangan global dan memperluas kesempatan bagi negara-negara baru di ajang internasional.
- Piala Dunia Antarklub dan Piala Dunia Putri mengalami ekspansi besar, dengan peningkatan jumlah tim, penonton, serta investasi signifikan yang mendorong pertumbuhan sepak bola putri secara global.
- FIFA melakukan reformasi tata kelola, memanfaatkan teknologi seperti VAR dan offside semi-otomatis, serta memperkuat dampak sosial melalui program pendidikan dan perlindungan terhadap diskriminasi.
Jakarta, IDN Times - Sudah satu dekade lamanya Gianni Infantino memimpin FIFA. Selama itu juga, banyak hal yang dia lakukan, dalam rangka mengembalikan gengsi dan kepercayaan publik terhadap FIFA.
Dalam manifesto pencalonannya sebagai Presiden FIFA, Infantino menetapkan tujuan utama untuk "mengembalikan sepak bola ke pusat dari semua yang dilakukan FIFA".
Tujuan tersebut adalah menghadirkan aksi nyata bagi perkembangan sepak bola di seluruh dunia. Tak terasa, 10 tahun kemudian, berikut adalah sejumlah pencapaian konkret organisasi di bawah kepemimpinannya.
1. Pengembangan sepak bola lewat FIFA Forward
Program FIFA Forward telah menyalurkan lebih dari 5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk pengembangan sepak bola di seluruh 211 asosiasi anggota sejak 2016. Jumlah ini meningkat tujuh kali lipat.
FIFA memberikan dukungan untuk menutup biaya operasional seluruh asosiasi anggota, serta pendanaan bagi proyek-proyek sepak bola tertentu seperti pembangunan lapangan, pusat teknis, kompetisi, dan lain-lain.
FIFA juga meluncurkan Skema Pengembangan Bakat yang dipimpin oleh Arsene Wenger, yang bertujuan memberikan setiap talenta kesempatan berkembang. Program ini menargetkan berdirinya 75 FIFA Talent Academy hingga akhir 2027.
Hasilnya, empat negara yang akan menjalani debut pada Piala Dunia 2026, yakni Cape Verde, Curacao, Yordania, dan Uzbekistan, secara konsisten meningkatkan ekosistem sepak bola mereka berkat program Forward.
2. Perluasan kompetisi untuk sepak bola lebih global
Format baru 32 tim dalam Piala Dunia Antarklub 2025 meraih kesuksesan besar. Hampir 2,5 juta penonton hadir langsung di stadion, dan berdasarkan analisis Nielsen Sports, sekitar 2,7 miliar penggemar menyaksikan konten di berbagai platform.
Di lapangan, klub dari enam konfederasi berhasil meraih setidaknya satu poin, tim dari lima konfederasi memenangkan setidaknya satu pertandingan, dan tiga konfederasi terwakili di perempat final.
Sebagai edisi pertama dengan 48 tim, Piala Dunia 2026 memberikan lebih banyak negara kesempatan mewujudkan impian, sekaligus memicu perkembangan besar di tingkat lokal.
Piala Dunia yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat ini, diproyeksikan menjadi ajang olahraga terbesar di dunia, dengan permintaan tiket yang belum pernah terjadi sebelumnya.
FIFA juga memperluas cakupan dan frekuensi kompetisi usia muda. Piala Dunia U-17 putra dan putri kini digelar setiap tahun. Edisi pertama Piala Dunia U-17 dengan 48 tim berlangsung di Qatar tahun lalu menjadi perayaan sepak bola yang luar biasa.
3. Pertumbuhan pesat sepak bola putri
Selama satu dekade terakhir, FIFA secara fundamental mengubah tata kelola, skala, dan ambisi sepak bola putri, menjadikannya prioritas strategis organisasi.
Edisi pertama dengan 32 tim dalam Piala Dunia Putri 2023 di Australia dan Selandia Baru sukses besar dan membuktikan tepatnya keputusan perluasan format. Mulai 2031, kompetisi ini akan diperluas lagi menjadi 48 tim.
FIFA secara signifikan meningkatkan investasinya dalam Piala Dunia Putri, termasuk distribusi hadiah sebesar 152 juta dolar AS pada 2023. Standar layanan bagi pemain kini setara dengan Piala Dunia putra.
FIFA juga meluncurkan kompetisi baru, termasuk Piala Dunia Antarklub Putri, Piala Dunia Futsal Putri, dan Champions Cup Putri. Sejak September 2020, sebanyak 1.757 proyek pengembangan sepak bola putri telah dijalankan di 204 asosiasi anggota.
Di luar lapangan, FIFA juga menyetujui kerangka regulasi baru untuk melindungi pemain perempuan terkait kehamilan, adopsi, dan cuti keluarga.
4. Pemanfaatan teknologi
FIFA memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas permainan, terutama melalui implementasi dan pengembangan sistem video assistant referee (VAR). FIFA juga mendorong penggunaan teknologi offside semi-otomatis untuk mendukung kinerja VAR.
Lebih dari 200 kompetisi di lebih dari 70 negara di enam konfederasi telah menerapkan solusi VAR. FIFA juga mempromosikan Football Video Support, sistem tayangan ulang video yang lebih terjangkau dan mudah diakses.
5. Reformasi dan tata kelola yang baik
Skandal FIFA-gate pada 2015 menjadi titik balik bagi organisasi. FIFA berhasil melakukan transformasi mendasar, dari organisasi yang tercoreng menjadi badan pengatur olahraga global yang dihormati dan dipercaya.
Transformasi ini diakui oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat, yang memberikan kompensasi sebesar 201 juta dolar AS kepada FIFA Foundation atas kerugian akibat korupsi selama beberapa dekade.
Berkat tata kelola yang baik, FIFA mampu menyediakan 1,5 miliar dolar AS melalui COVID-19 Relief Plan untuk mendukung asosiasi anggota dan sepak bola global selama pandemi.
FIFA juga mereformasi sistem transfer pemain, termasuk melalui pembentukan FIFA Clearing House, yang telah menyalurkan lebih dari 500 juta dolar AS dalam bentuk kompensasi pelatihan serta lebih dari 300 juta dolar AS kepada 7.000 klub di seluruh dunia.
6. Dampak sosial dari FIFA
FIFA menciptakan berbagai program baru untuk memaksimalkan dampak sosial sepak bola secara global. Program tersebut mencakup Football for Schools, yang telah diikuti lebih dari 150 asosiasi anggota, serta FIFA Arenas yang menargetkan pembangunan setidaknya 1.000 mini-pitch baru di seluruh dunia.
Perjuangan melawan diskriminasi juga menjadi prioritas utama di bawah kepemimpinan Infantino, termasuk penerapan protokol anti-rasisme dalam pertandingan serta peluncuran FIFA Social Media Protection Service untuk memerangi pelecehan daring.


















