ilustrasi Instagram (pexels.com/www.kaboompics.com)
Tom Sulston dari Digital Rights Watch menyoroti motif finansial di balik keputusan pencabutan E2EE. Meta berpotensi menggunakan isi percakapan privat untuk menentukan target iklan komersial. Raksasa teknologi itu bisa mengeksploitasi data obrolan pengguna untuk melatih program chatbot.
Sebagai pakar hak digital, Tom Sulston melihat dorongan komersial sebagai alasan utama dari perubahan kebijakan E2EE Instagram. Meta menghadapi tekanan komersial besar untuk segera memanfaatkan data komunikasi secara leluasa. Pengelola media sosial pasti mengeksekusi langkah eksploitasi itu pada masa mendatang.
Kebijakan terbaru Meta memisahkan ranah media sosial dari aplikasi bertukar pesan. Padahal, aktivis menuntut perluasan fitur E2EE. Oleh karena itu, pengembang seharusnya meningkatkan kualitas produk tanpa perlu mengorbankan keamanan masyarakat dunia maya.
Keputusan Instagram hapus enkripsi pesan sangatlah mengancam hak privasi pengguna sebagai buntut dari rencana eksploitasi komersial. Meta akan membaca semua isi pesan personal setelah sistem keamanan digital itu dihapus. Otoritas keselamatan digital menuntut raksasa teknologi menjaga keamanan ruang komunikasi masyarakat dari berbagai ancaman kejahatan.