3 Fakta Kelas Menengah RI dari Riset KIMCI Katadata 2026
- Jumlah kelas menengah Indonesia menurun sejak 2019 hingga 2024, namun tetap menyumbang 81,5% konsumsi rumah tangga yang menjadi penggerak utama ekonomi nasional.
- Banyak anggota kelas menengah kini memiliki lebih dari satu sumber pendapatan sebagai strategi adaptif menghadapi ketidakpastian ekonomi.
- Pola hidup kelas menengah bergeser dari fokus konsumsi ke strategi bertahan dengan memanfaatkan teknologi dan nilai jangka panjang dalam pengambilan keputusan.
Kelas menengah selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Namun, kondisi terbaru menunjukkan bahwa kelompok ini tengah menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks.
Melalui laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026, Katadata Insight Center mengungkap dinamika terbaru kelas menengah di Indonesia, mulai dari penurunan jumlah hingga perubahan cara bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpotensi memengaruhi arah ekonomi nasional ke depan. Berikut tiga fakta utama yang perlu kamu tahu.
Kelas menengah terus menurun, tapi tetap jadi tulang punggung ekonomi
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kelas menengah di Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan. Data menunjukkan bahwa proporsi kelas menengah terus menurun sejak 2019 hingga 2024.
Meski demikian, peran mereka dalam ekonomi masih sangat besar. Pada 2024, kelas menengah menyumbang 81,5% konsumsi rumah tangga yang menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia.
Artinya, meskipun jumlahnya menyusut, dampak kelas menengah terhadap ekonomi nasional masih sangat dominan.
Satu pekerjaan tak lagi cukup, strategi finansial makin adaptif
Riset KIMCI menemukan bahwa banyak kelas menengah kini tidak lagi mengandalkan satu sumber pendapatan. Pekerjaan tambahan bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi strategi untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah ketidakpastian.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara berpikir kelas menengah, dari yang sebelumnya stabil menjadi lebih adaptif dan fleksibel dalam mengelola risiko ekonomi.
Pola hidup berubah, dari konsumsi ke strategi bertahan
Perubahan juga terlihat dari cara kelas menengah dalam mengambil keputusan. Konsumsi kini tidak lagi hanya soal harga, tetapi juga nilai dan manfaat jangka panjang.
Di saat yang sama, teknologi mulai dimanfaatkan sebagai alat untuk bertahan dan berkembang, mulai dari meningkatkan produktivitas hingga mempelajari keterampilan baru.
Hal ini menunjukkan bahwa kelas menengah Indonesia sedang bertransformasi, dari sekadar konsumen menjadi kelompok yang lebih strategis dalam menghadapi masa depan.



















