Akses Jalan Aceh Mulai Terbuka, Bantuan Air Bersih Mulai Mengalir

- Layanan dasar yang layak dan aman jadi prioritas: Kementerian PU menegaskan dukungan yang diberikan tidak bersifat final dan akan terus dimonitor serta disiapkan penambahan sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Pemerintah pusat melalui Kementerian PU juga terus menjalin koordinasi intensif dengan pemerintah daerah setempat dan seluruh unsur terkait penanganan bencana lainnya.
- Dukungan peralatan yang dikerahkan: Dua Tim Tanggap Darurat telah dikerahkan ke wilayah yang paling membutuhkan. Rincian pengerahan logistik ini mencakup perlengkapan utama untuk memenuhi kebutuhan dasar air bersih dan sanitasi.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyampaikan akses jalan di wilayah terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Aceh telah terbuka secara bertahap, memungkinkan mobilisasi bantuan dari Banda Aceh.
Menyusul terbukanya jalur tersebut, Kementerian PU segera mengerahkan dua Tim Tanggap Darurat BPBPK Aceh ke Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen. Pengiriman tersebut difokuskan pada sarana air bersih, di mana seluruh unit Mobil Tangki Air (MTA) dan Hidran Umum (HU) dipastikan terisi penuh sebelum disalurkan untuk memenuhi kebutuhan pengungsi.
1. Layanan dasar yang layak dan aman jadi prioritas

Kementerian PU menegaskan, dukungan yang diberikan tidak bersifat final dan akan terus dimonitor serta disiapkan penambahan sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Pemerintah pusat melalui Kementerian PU juga terus menjalin koordinasi intensif dengan pemerintah daerah setempat dan seluruh unsur terkait penanganan bencana lainnya. Hal itu dilakukan untuk memastikan respons cepat dan tepat sasaran.
"Prinsip kami adalah memastikan masyarakat terdampak mendapatkan layanan dasar yang layak dan aman selama masa tanggap darurat," kata Menteri PU Dody Hanggodo.
Dia menambahkan, dukungan sarana dan prasarana akan terus disesuaikan dengan perkembangan situasi, termasuk potensi penambahan unit untuk layanan kebersihan, air bersih, dan sanitasi pengungsi.
2. Dukungan peralatan yang dikerahkan

Dua Tim Tanggap Darurat telah dikerahkan ke wilayah yang paling membutuhkan. Rincian pengerahan logistik ini mencakup perlengkapan utama untuk memenuhi kebutuhan dasar air bersih dan sanitasi.
Tim 1, yang beroperasi di Kabupaten Pidie Jaya, diperkuat oleh sepuluh personel. Tim membawa peralatan lengkap, termasuk dua unit truk operasional, 12 unit Hidran Umum (HU) lengkap dengan kaki HU, dan empat unit mobil tangki air untuk menjamin pasokan air bersih. Selain itu, layanan sanitasi didukung oleh tiga unit toilet portabel dan satu truk sedot tinja.
Sementara itu, Tim 2 fokus pada Kabupaten Pidie dengan delapan personel. Tim ini membawa satu unit truk operasional, enam unit HU dan kaki HU, dua unit mobil tangki air, serta dua unit toilet portabel. Seluruh unit dan personel tersebut disiapkan untuk memastikan pengungsi mendapatkan layanan dasar yang layak selama masa tanggap darurat bencana.
3. Aceh berstatus darurat bencana hidrometeorologi

Pemerintah Aceh resmi menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi 2025, menyusul banjir dan longsor besar yang melanda hampir seluruh wilayah dalam beberapa hari terakhir.
Pengumuman itu disampaikan dalam rapat paripurna pengesahan Rancangan Qanun Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2026 di Kantor DPRA, Kota Banda Aceh, Kamis (27/11).
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, mengatakan status darurat ditetapkan untuk 14 hari, berlaku sejak 28 November hingga 11 Desember 2025, guna mempercepat penanganan bencana yang dalam sepekan terakhir terus memburuk. Menurut Mualem, Pemerintah Aceh telah menyalurkan bantuan darurat ke sejumlah kabupaten/kota, namun ia mengakui kondisi di lapangan semakin kompleks.
“Dalam beberapa hari ini pemerintah telah menyalurkan bantuan darurat,” ujarnya.


















