ilustrasi pembalut menstruasi (pexels.com/Sora Shimazaki)
Di Indonesia, sejumlah barang kebutuhan pokok mendapatkan fasilitas pembebasan PPN melalui Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2022.
Dalam Pasal 7, kelompok barang kebutuhan pokok tertentu yang mendapatkan fasilitas tersebut mencakup beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, garam, daging, telur, susu, buah-buahan, serta sayur-sayuran.
Namun, pembalut dan produk sanitasi menstruasi belum tercantum dalam kelompok barang yang mendapatkan pembebasan tersebut.
Secara hukum, inilah yang menjadi dasar mengapa pembalut masih dapat dikenakan PPN.
Akan tetapi, ada perbedaan antara pertanyaan mengenai apa yang berlaku dalam aturan dan apakah cakupan aturan tersebut sudah memenuhi kebutuhan masyarakat.
Coba pikirkan, menstruasi bukan aktivitas yang dilakukan berdasarkan keinginan seorang perempuan.
Bagi setiap perempuan, pembalut adalah kebutuhan primer untuk menjaga kebersihan menstruasi yang akan terus muncul secara berkala.
Agar lebih terasa dampaknya, mari gunakan simulasi sederhana.
Misalnya, harga satu kemasan pembalut sebelum PPN adalah Rp20.000. Jika pembelian tersebut terkena PPN efektif 11 persen, perhitungannya menjadi:
Jika seseorang membutuhkan dua kemasan setiap bulan, komponen PPN dalam simulasi tersebut mencapai Rp4.400 per bulan atau Rp52.800 selama setahun.
Angka ini hanya perumpamaan, bukan survei pengeluaran perempuan Indonesia. Harga, kebutuhan produk, dan perlakuan PPN pada transaksi nyata dapat berbeda.
Bagi sebagian orang, tambahan biaya tersebut mungkin tidak terasa besar. Namun, bagi keluarga yang harus mengatur pengeluaran dengan sangat ketat, setiap komponen biaya tetap memiliki arti.
Di sisi lain, perlu diingat bahwa penghapusan PPN tidak otomatis menjamin harga pembalut turun dengan besaran yang sama. Harga akhir juga dipengaruhi biaya produksi, distribusi, persaingan pasar, dan keputusan penjual.
Karena itu, pembahasan kebijakan pajak perlu mempertimbangkan bukan hanya besarnya penerimaan negara, tetapi juga apakah manfaat keringanan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.