Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jepang Bidik Sleep Tourism, Strategi Bisnis Hotel Atasi Sudah Tidur
ilustrasi hotel di Jepang (unsplash.com/James Pere)
  • Hotel-hotel di Jepang mengembangkan sleep tourism untuk memenuhi kebutuhan tidur berkualitas, menggabungkan relaksasi personal, riset, dan teknologi pemantauan selama masa menginap.
  • Hotel 1899 Tokyo menawarkan konsultasi pola tidur, racikan teh relaksasi, bantal khusus, dan garam mandi; sementara Hotel Chinzanso memakai pengukuran gelombang otak yang dievaluasi dokter.
  • Malibu Hotel menyediakan perlengkapan tidur yang dikustomisasi. Uji coba di Healthianwood mencatat penurunan waktu terjaga dan waktu tertidur, serta peningkatan efisiensi tidur peserta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berbagai pengelola hotel di Jepang kini mulai gencar menawarkan tren sleep tourism atau wisata tidur bagi para pelancong. Langkah inovatif ini dihadirkan guna menjawab tingginya permintaan masyarakat yang menginginkan kualitas tidur lebih optimal di tengah kesibukan harian.

Fenomena kesehatan yang marak diterapkan di berbagai kota besar ini menggabungkan pendekatan medis modern, teknologi pemantauan tidur, serta layanan relaksasi personal. Melalui konsep riset dan teknologi pendukung, sektor perhotelan Jepang berupaya menciptakan pengalaman menginap yang benar-benar memulihkan kebugaran tubuh para tamu.

1. Inovasi racikan teh dan konsultasi tidur khusus pelanggan

ilustrasi tidur (pixabay.com/Marxcine)

Dilansir Kyodo News, Hotel 1899 Tokyo yang berlokasi di distrik bisnis Shimbashi menghadirkan program khusus bernama Totono-ne. Paket menginap ini mengandalkan khasiat relaksasi dari teh khusus untuk membantu memulihkan kualitas tidur pengunjung. Sebelum menikmati fasilitas, para tamu akan diminta mengisi lembar kuesioner singkat sebagai proses diagnosis pola tidur mereka.

Berdasarkan hasil analisis kuesioner tersebut, pihak pengelola menyajikan cangkir teh dengan racikan unik seperti paduan chamomile dan Mimasaka bancha. Kamar menginap juga dilengkapi bantal berkinerja tinggi serta garam mandi guna menciptakan suasana istirahat yang tenang.

Konsultan senior JTB Tourism Research & Consulting, Kanae Usui, menilai tren ini didorong oleh banyaknya masyarakat yang tidak puas dengan kualitas tidur mereka. Menurutnya, fasilitas wisata tidur ini memberi kesempatan bagi para pelancong untuk sejenak menjauhkan diri dari paparan gawai elektronik.

Langkah ini diambil oleh manajemen hotel sebagai upaya untuk mengoptimalkan waktu istirahat setiap pengunjung secara maksimal. Pihak hotel menyadari bahwa porsi tidur memegang peranan sangat krusial selama seseorang menjalani masa penginapan.

Yuiko Ogawa selaku perwakilan dari Hotel 1899 Tokyo menegaskan tujuan utama program tersebut. “Kami ingin memanfaatkan waktu tidur secara maksimal, mengingat tidur merupakan porsi terbesar dari masa menginap para tamu,” ujar Yuiko Ogawa.

2. Penggunaan teknologi medis untuk analisis gelombang otak

Hotel Chinzanso Tokyo (Guilhem Vellut from Annecy, France, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Sementara itu, Hotel Chinzanso Tokyo di wilayah Bunkyo telah menghadirkan paket wisata tidur berbasis pemantauan gelombang otak sejak dua tahun lalu. Hotel mewah ini melengkapi paket menginapnya dengan alat pengukur gelombang otak yang dipakai tamu saat terlelap.

Data rekaman medis tersebut nantinya dievaluasi secara profesional oleh tim dokter dari klinik yang berada di dalam area hotel. Tamu akan menerima petunjuk dan saran kesehatan komprehensif untuk meningkatkan efisiensi istirahat harian mereka. Skema terpadu ini menjadi nilai tambah yang membedakan akomodasi tersebut dengan penginapan konvensional lainnya.

Pemanfaatan fasilitas kesehatan internal dinilai sangat efektif dalam memberikan edukasi tidur yang akurat kepada masyarakat modern. Manajemen hotel meyakini bahwa kebutuhan akan saran medis profesional semakin tinggi seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap kesehatan tubuh. Ayumi Yoshida dari Hotel Chinzanso Tokyo menyampaikan alasan di balik penerapan paket berteknologi ini. “Dengan meningkatnya minat pada tidur, kami ingin menyediakan paket yang memanfaatkan keberadaan klinik,” kata Ayumi Yoshida.

3. Penyediaan kasur khusus dan pembuktian riset kesehatan

ilustrasi kasur (pexels.com/Castorly Stock)

Penerapan wisata tidur juga merambah kawasan resor seperti Malibu Hotel di Riviera Zushi Marina, Prefektur Kanagawa. Sejak Februari lalu, penginapan ini merilis program Sleep Well Stay yang membatasi penerimaan tamu khusus satu grup per hari demi menjaga eksklusivitas. Tamu diberikan perlengkapan tidur kustomisasi, termasuk kasur yang disesuaikan dengan postur tubuh dan kebiasaan tidur masing-masing.

Dilansir Travel Voice, efektivitas tren wisata tidur ini telah dibuktikan melalui uji coba ilmiah yang dilakukan oleh NTT DX Partner di kompleks kesehatan dan kecantikan Healthianwood milik MAE, kawasan Tateyama, Prefektur Toyama. Riset pada fasilitas Healthianwood mencatat bahwa durasi terbangun setelah tidur berkurang signifikan dari 64,3 menit menjadi 49,8 menit. Efisiensi tidur rata-rata para peserta pun melonjak pesat dari 84,9 persen menjadi 88,2 persen selama masa menginap.

Dampak positif dari program relaksasi ini dilaporkan tetap bertahan meskipun para tamu telah menyelesaikan masa liburan mereka. Waktu yang dibutuhkan pengunjung untuk jatuh tertidur berkurang secara konsisten dari 16,2 menit menjadi 12,5 menit. Sebanyak sembilan dari sepuluh peserta dalam verifikasi tersebut mengakui bahwa pengalaman sleep tourism memberikan nilai manfaat yang sangat nyata bagi kesehatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article