Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Birth Tourism, Praktik Kewarganegaraan yang Bikin Trump Gerah

Mengenal Birth Tourism, Praktik Kewarganegaraan yang Bikin Trump Gerah
ilustrasi bayi baru lahir (unsplash.com/Visualss)
Intinya Sih
  • Trump menandatangani perintah eksekutif untuk melarang birth tourism, yakni perjalanan ke AS dengan visa sementara demi melahirkan agar anak otomatis mendapat kewarganegaraan.
  • Birth tourism memanfaatkan prinsip jus soli dalam Amandemen Ke-14 AS, yang memberi kewarganegaraan kepada bayi lahir di wilayah AS meski orang tuanya bukan warga atau penduduk tetap.
  • Aturan baru mengarahkan petugas konsuler menolak visa bila tujuan utama pemohon adalah melahirkan; kebijakan ini tidak mengubah hak kewarganegaraan berdasarkan kelahiran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang praktik birth tourism, yakni perjalanan ke Amerika Serikat menggunakan visa sementara dengan tujuan utama melahirkan agar anak yang lahir otomatis memperoleh kewarganegaraan AS.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintahan Trump untuk memperketat aturan imigrasi dan membatasi pemberian kewarganegaraan berdasarkan tempat kelahiran (birthright citizenship).

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan birth tourism dan mengapa praktik ini menjadi kontroversi di Amerika Serikat?

1. Apa itu Birth Tourism?

Mengenal Birth Tourism, Praktik Kewarganegaraan yang Bikin Trump Gerah
ilustrasi bayi baru lahir yang sedang dalam pengawasan medis. (freepik.com/freepik)

Birth tourism adalah praktik seseorang, umumnya warga negara asing, bepergian ke negara lain, dalam hal ini Amerika Serikat, untuk melahirkan. Tujuan utamanya agar bayi yang lahir memperoleh kewarganegaraan negara tersebut berdasarkan prinsip jus soli atau kewarganegaraan berdasarkan tempat lahir.

Di Amerika Serikat, hak tersebut dijamin dalam Amandemen ke-14 Konstitusi yang menyatakan, setiap orang yang lahir di wilayah AS dan berada di bawah yurisdiksinya adalah warga negara Amerika Serikat. Status kewarganegaraan itu melekat pada bayi, meskipun kedua orang tuanya bukan warga negara atau penduduk tetap Amerika Serikat.

2. Mengapa praktik ini diperdebatkan?

Gambar close-up paspor, uang dolar, dan telepon pintar.
Gambar close-up paspor AS, uang dolar, dan telepon pintar. (pexels.com/Dve Garcia)

Pendukung birth tourism berpendapat, praktik tersebut tidak melanggar hukum selama pemohon visa memenuhi persyaratan dan tidak memberikan informasi palsu kepada otoritas imigrasi.

Namun, para penentangnya menilai praktik ini memanfaatkan celah hukum untuk memperoleh keuntungan imigrasi di masa depan. Mereka berpendapat kewarganegaraan berdasarkan kelahiran seharusnya tidak dimanfaatkan sebagai tujuan utama perjalanan ke Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump menjadi salah satu tokoh yang paling vokal mengkritik praktik tersebut. Menurutnya, birth tourismtelah berkembang menjadi sebuah industri yang memanfaatkan sistem kewarganegaraan Amerika Serikat.

3. Bagaimana aturan baru Trump?

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berkunjung di Florida pada 8 September 2020.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berkunjung di Florida pada 8 September 2020. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Melalui perintah eksekutif terbaru, Trump menginstruksikan petugas konsuler Amerika Serikat untuk menolak permohonan visa apabila tujuan utama pemohon datang ke AS adalah melahirkan agar anak memperoleh kewarganegaraan Amerika.

Kebijakan ini tidak mengubah ketentuan Amandemen ke-14 mengenai kewarganegaraan berdasarkan kelahiran, tetapi berfokus pada pembatasan masuknya warga negara asing yang diduga melakukan birth tourism.

Langkah tersebut melengkapi upaya pemerintahan Trump untuk memperketat kebijakan imigrasi, meski sebelumnya Mahkamah Agung AS telah membatalkan perintah eksekutif yang berupaya mengakhiri birthright citizenship secara langsung.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More