Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BEI Pastikan IHSG Ambruk Bukan karena Batas Harga Saham Rp50 Dihapus
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • IHSG melemah 94,03 poin ke 6.147,86 pada 28 September 2026, namun BEI menegaskan penghapusan batas harga Rp50 bukan penyebab utama karena bobot saham tersebut kecil.

  • Setelah batas minimum dihapus, saham dapat diperdagangkan mulai Rp1; hingga siang, 69 saham berada di bawah Rp50 dalam proses menemukan harga wajarnya.

  • Analis menilai sentimen eksternal, koreksi IHSG sebelumnya, arus dana asing keluar, pelemahan rupiah, dan kenaikan minyak lebih memengaruhi pasar; kebijakan baru menambah volatilitas jangka pendek.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 94,03 hari ini, Senin (28/9/2026) ke level 6.147,86 seiringan dengan penerapan penghapusan batas harga saham Rp50.

Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia BEI, Jeffrey Hendrik, pelemahan IHSG tak serta-merta disebabkan kebijakan tersebut. Sebab, bobot pergerakan saham dengan harga di bawah Rp50 terhadap IHSG tidak besar.

“Bobot dari saham-saham yang sudah lama di harga Rp50 itu bobotnya terhadap IHSG juga tidak besar. Jadi tidak semata-mata karena faktor penurunan di bawah harga Rp50 yang memberikan pressure kepada IHSG,” kata Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta.

1. Ada 69 saham yang diperdagangkan di bawah Rp50

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Usai penghapusan batas harga itu, maka saham emiten Indonesia bisa diperdagangkan mulai Rp1.

Jeffrey mengatakan, hingga siang tadi, ada 69 saham yang diperdagangkan di bawah Rp50.

“Ada 20-an tetapi digabung dengan yang tadi (yang keluar) dari papan pemantuan khusus yang bertransaksi di bawah Rp50 tadi siang ada 69 saham,” tutur Jeffrey.

2. Ada proses pembentukan harga sehingga terjadi volatilitas jangka pendek

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Jeffrey mengatakan, penghapusan batas harga Rp50 akan menciptakan proses pembentukan harga atau price discovery yang baru.

Sehingga, harga saham yang selama ini bertahan di Rp50, namun nilai sebenarnya di bawah batas tersebut, akan mengalami penurunan, dan menyebabkan volatilitas jangka pendek.

“Saham-saham yang ada di harga Rp50 itu ada yang sudah bertahun-tahun di harga Rp50 tanpa ada transaksi. Artinya memang kesepakatan dari pelaku, dari investor yang mungkin memang fair value-nya tidak di Rp50, dan saat ini sedang mencari fair value-nya. Ya tentu membutuhkan waktu ya karena ada proses auto-rejection di situ ya, sampai nanti menemukan titik fair value-nya,” ucap Jeffrey.

3. Faktor eksternal lebih mempengaruhi

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai, pelemahan IHSG hari ini tak semata-mata disebabkan penghapusan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1.

“Memang, implementasi aturan baru tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas jangka pendek karena saham-saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 kini memiliki ruang penurunan maupun kenaikan yang lebih luas,” kata Aji kepada IDN Times.

Aji mengatakan, pelemahan IHSG juga dipengaruhi faktor eksternal dan sentimen yang sudah terbentuk sebelum kebijakan penghapusan batas harga saham itu berlaku.

“Pekan lalu IHSG telah terkoreksi 3,09 persen disertai net foreign outflow sekitar Rp3,5 triliun di pasar reguler,” tutur Aji.

Dia mengatakan, pelemahan rupiah dan lonjakan harga minyak dunia menekan bursa Asia, yang turut berpengaruh ke pasar modal tanah air.

“Dengan demikian, saya melihat penghapusan batas minimum Rp50 lebih tepat disebut sebagai faktor tambahan yang memperbesar volatilitas, bukan penyebab tunggal pelemahan IHSG,” tutur Aji.

Menurut dia, dalam jangka pendek, volatilitas kemungkinan masih relatif tinggi sampai pelaku pasar mulai menemukan keseimbangan harga baru.

Curated For You

Editorial Team

Related Article