Benarkah Kunjungan Luar Negeri Prabowo Bawa Investasi Rp2.430 T?

- Teddy Indra Wijaya menyebut kunjungan luar negeri Presiden Prabowo menghasilkan investasi Rp2.430 triliun selama 1,5 tahun masa jabatan berdasarkan data BKPM.
- Data BKPM menunjukkan angka Rp2.430 triliun merupakan gabungan realisasi investasi 2025 dan awal 2026, terdiri dari PMA dan PMDN dengan porsi domestik lebih dominan pada 2025.
- Lima negara penyumbang investasi terbesar di Indonesia adalah Singapura, Hong Kong, China, Malaysia, dan Jepang pada 2025; sementara kuartal I-2026 didominasi Singapura hingga Jepang.
Jakarta, IDN Times - Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya menyampaikan kunjungan-kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri yang jumlahnya banyak sekali telah membawa investasi hingga ribuan triliun rupiah untuk Indonesia.
Selama 1,5 tahun menjabat sebagai presiden, Prabowo sudah 50 kali kunjungan ke luar negeri dengan kunjungan terakhir ke Prancis pada momen perayaan Idul Adha 2026.
"Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini. Yang ketiga, total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp2.430 triliun, itu data dari BKPM," ujar Teddy dalam video klarifikasinya menanggapi pernyataan Dino Patti Djalal perihal frekuensi kunjungan Prabowo ke luar negeri, dikutip Selasa (2/6/2026).
Lantas, apakah angka Rp2.430 triliun itu murni investasi asing? Mari kita bongkar datanya.
1. Gabungan realisasi investasi selama 2025 dan awal 2026

Mengutip data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), angka Rp2.430 triliun yang disebut Teddy merupakan kombinasi antara realisasi investasi selama 2025 dan awal 2026.
Pada 2025, BKPM melaporkan realisasi investasi di Indonesia sebesar Rp1.931,2 triliun atau naik 12,7 persen year on year (yoy) dibandingkan periode sebelumnya. Kemudian pada kuartal I-2026, angka realisasi investasi di Indonesia tercatat sebesar Rp498,8 triliun.
Jika dijumlah, keduanya akan menghasilkan realisasi investasi sebesar Rp2.430 triliun seperti yang dikatakan Teddy.
2. Gabungan dari PMA dan PMDN

Angka realisasi investasi tersebut nyatanya tidak hanya murni penanaman modal asing alias PMA, melainkan juga ada Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Pada 2025, realisasi PMA justru lebih kecil dibandingkan PMDN. Dari total Rp1.931,2 triliun investasi yang masuk, 46,6 persennya adalah PMA atau sebesar Rp900,9 triliun dan sisanya 53,4 persen adalah PMDN sebesar Rp1.030,3 triliun.
Sementara pada kuartal I-2026, realisasi PMA sedikit lebih besar dibandingkan PMDN. Dari total Rp498,8 triliun yang masuk ke Indonesia, porsi PMA sebesar 50,1 persen atau sebesar Rp250 triliun, sedangkan PMDN sebesar 49,9 persen atau sebesar Rp248,8 triliun.
Dengan demikian, klaim Teddy bahwa diplomasi atau kunjungan Prabowo ke luar negeri membawa investasi asing sebesar Rp2.430 triliun tidaklah cermat mengingat data BKPM menunjukkan, PMDN justru lebih banyak mendominasi investasi di Indonesia.
3. Sebanyak 5 negara dengan investasi terbesar

Masih berdasarkan data BKPM, lima besar negara dengan investasi terbesar di Indonesia pada 2025 adalah Singapura (17,4 miliar dolar AS), Hong Kong (10,6 miliar dolar AS), China (7,5 miliar dolar AS), Malaysia (4,5 miliar dolar AS), dan Jepang (3,1 miliar dolar AS).
Kemudian selama kuartal I-2026, 5 negara dengan investasi terbesar di Indonesia adalah Singapura (4,6 miliar dolar AS), Hong Kong (2,7 miliar dolar AS), China (2,2 miliar dolar AS), Amerika Serikat (1,3 miliar dolar AS), dan Jepang (1 miliar dolar AS).
Sebagai informasi, Prabowo tercatat dua kali mengunjungi Singapura selama menjabat sebagai Presiden RI. Pertama, pada Juni 2025 dalam rangka Leaders' Retreat dan kedua memenuhi undangan Parade Hari Nasional Singapura pada Agustus 2025.

















