BI Catat Kredit Nganggur di Bank Masih Tinggi, Tembus Rp2.439 Triliun

- Realisasi kredit perbankan capai 9,69 persen
- Pertumbuhan kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 21,06 persen, 4,52 persen, dan 6,58 persen yoy.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) melaporkan kredit perbankan yang belum dicairkan (undisbursed loan) masih cukup besar pada Desember 2025 yang mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon kredit tersedia. Angka tersebut mengalami penurunan tipis dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2.509,4 triliun atau 23,18 persen dari plafon kredit tersedia.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan, dari sisi permintaan kredit, pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan).
“Undisbursed loan masih tercatat cukup besar pada Desember 2025, yaitu mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari plafon kredit yang tersedia,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (21/1/2026).
1. Realisasi kredit perbankan capai 9,69 persen

Sepanjang 2025, BI mencatatkan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,69 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini berada dalam kisaran perkiraan BI, yakni antara 8-11 persen yoy.
Perry mengatakan, berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing tercatat tumbuh sebesar 21,06 persen yoy, 4,52 persen yoy, dan 6,58 persen yoy.
"Capaian tersebut sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta realisasi program prioritas pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga," kata dia.
2. Kapasitas pembiayaan bank tetap memadai tercermin dari AL/DPK

Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57 persen dan DPK yang tumbuh tinggi sebesar 13,83 persen (yoy) pada Desember 2025.
Selain itu, minat penyaluran kredit perbankan terus membaik. Hal ini tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.
"Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8-12 persen dan depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan KSSK untuk terus memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan tersebut," kata dia.
3. Hasil stress test BI, ketahanan perbankan cukup kuat

Sementara itu, ketahanan sistem keuangan terjaga baik didukung likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang rendah.
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada November 2025 tercatat tinggi sebesar 26,05 persen. Jumlah ini tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah sebesar 2,21 persen (bruto) dan 0,86 persen (neto) pada November 2025.
"Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga. Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK dalam memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan," ucap Perry.














