Blackout Jadi Peringatan Penguatan Transmisi Listrik di Sumatra

- Blackout di Sumatra jadi peringatan penting bagi sektor kelistrikan nasional untuk mempercepat penguatan jaringan transmisi agar pasokan listrik lebih andal dan stabil.
- Pembangunan proyek transmisi seperti SUTET 500 kV masih terkendala pembebasan lahan, perizinan lintas wilayah, serta koordinasi dengan masyarakat sekitar jalur transmisi.
- Agus Pambagio menilai blackout harus dijadikan momentum percepatan pembangunan transmisi dan penguatan sistem interkoneksi listrik di Sumatra melalui kolaborasi lintas daerah.
Jakarta, IDN Times - Blackout yang sempat terjadi di Sumatra dinilai menjadi peringatan serius bagi sektor kelistrikan nasional. Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio menilai, penguatan jaringan transmisi harus dipercepat agar pasokan listrik di wilayah Sumatra lebih andal dan tahan terhadap gangguan.
Menurut Agus, selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada pembangunan pembangkit listrik. Padahal, transmisi memegang peran penting dalam menjaga distribusi listrik tetap stabil di sistem interkoneksi Sumatra.
“Pembangkit sering menjadi perhatian utama, padahal transmisi memegang peran vital karena menjadi jalur utama penyaluran listrik dalam sistem interkoneksi,” ujar Agus melalui keterangan resminya, Kamis (28/5/2026).
1. Proyek transmisi besar masih terkendala pembebasan lahan

Agus menjelaskan, pembangunan jaringan transmisi di Sumatra sebenarnya sudah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru, termasuk proyek Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kilovolt (kV).
Namun, proyek strategis tersebut masih menghadapi banyak tantangan nonteknis, terutama soal pembebasan lahan dan perizinan lintas wilayah.
“Pembangunan transmisi tidak hanya persoalan teknis. Ada proses pembebasan lahan, penyesuaian tata ruang, perizinan lintas wilayah, hingga komunikasi dengan masyarakat di sekitar jalur transmisi yang semuanya membutuhkan waktu dan koordinasi,” katanya.
Agus menilai, semakin luas jaringan interkoneksi Sumatra, maka kebutuhan terhadap jalur transmisi utama yang kuat juga semakin mendesak.
2. Risiko gangguan listrik dinilai bakal meningkat

Agus mengingatkan, keterlambatan pembangunan transmisi dapat meningkatkan risiko gangguan sistem kelistrikan, terutama di tengah pertumbuhan kebutuhan listrik dan aktivitas ekonomi di Sumatra.
Menurut dia, aspek sosial dalam proyek infrastruktur strategis juga harus diselesaikan secara hati-hati agar tidak memicu konflik agraria maupun persoalan berkepanjangan.
Oleh karena itu, dukungan masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar pembangunan infrastruktur kelistrikan berjalan lebih optimal.
“Karena jalurnya melewati banyak wilayah, pembangunan transmisi memang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaksana proyek, dan masyarakat,” ujar Agus.
3. Blackout harus jadi momentum percepatan

Agus menilai blackout di Sumatra seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat pembangunan jaringan transmisi dan memperkuat sistem interkoneksi listrik di wilayah tersebut.
Dia juga mendorong penguatan koordinasi dan percepatan perizinan lintas daerah agar proyek strategis tidak terus tertunda.
“Blackout di Sumatra harus menjadi momentum bersama untuk mempercepat penguatan jaringan transmisi,” tutur Agus.
“Tanpa percepatan pembangunan transmisi, risiko gangguan sistem akan terus meningkat seiring pertumbuhan kebutuhan listrik dan aktivitas ekonomi di Sumatra,” lanjutnya.
















