Kenaikan harga plastik berdampak pada pedagang. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Plastik jadi barang yang naik harganya akibat perang. Kehadiran plastik sangat penting bagi masyarakar, terutama ketika berbelanja di pasar. Kenaikan harganya pun membuat pedagang meradang lantaran harus melakukan penyesuaian dalam bisnisnya.
Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengatakan, kenaikan harga plastik sejatinya telah terjadi sejak pekan kedua bulan puasa.
"Setiap pekannya sejak pekan kedua puasa itu bervariasi, ada yang 500 perak, ada yang 700 perak dan melihat situasi hari ini memang hampir seluruh jenis plastik yang PE dan PP ini mengalami lonjakan mencapai 50 persen, bahkan ada yang 100 persen," kata Reynaldi kepada IDN Times, Senin (6/4/2026).
Reynaldi mengatakan, kenaikan harga plastik kresek terjadi dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak. Lalu, plastik jenis lainnya naik dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per pak. Kenaikan terjadi lantaran industri plastik Indonesia masih sangat bergantung dengan bahan baku yang impor dari negara lain.
Oleh karena itu, Reynaldi mendesak pemerintah agar tidak membiarkan kondisi tersebut terjadi secara berkepanjangan. Caranya adalah dengan mulai mengganti pasokan bahan baku dari luar Timur Tengah.
"Perlu mengganti pasokan di luar dari Timur Tengah, pasokan-pasokan importasinya karena kita masih ketergantungan impor bahan baku plastik. Tentu ini akan berpengaruh sekali dan bahkan bisa multiplier effect-nya luar biasa tidak hanya terjadi di komunitas pangan saja, kosmetik, otomotif ini juga akan berpengaruh," kata dia.
Pelaku usaha pun tidak ketinggalan mengeluhkan naiknya harga plastik yang berimbas pada kemasan produk. PT Mega Global Food Industry (Kokola Group), produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) biskuit dan wafer asal Indonesia mengakui bahan kemasan yang digunakan pihaknya mengalami rata-rata kenaikan 40 hingga 45 persen.
Direktur Mega Global Food Industry, Richard Cahyadi menyatakan, hal tersebut memaksa pihaknya untuk memiliki pembiayaan kuat karena banyak supplier bahan plastik meminta pembayaran di depan.
"Supply chain-nya sangat limited gitu. Dari ujung supply bahan kemasan plastiknya itu semua minta, karena uncertain ya jadi kita bayar di depan, kita bayar cash. Nah kita harus punya kekuatan funding financial yang kuat untuk kemasan itu," ujar Richard di pabrik Kokola Group, Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026).
Guna mengimbangi kenaikan harga bahan plastik untuk kemasan, Kokola Group pun ikut menaikkan harga produk-produk yang dijualnya. Richard menyampaikan, kenaikan harga itu mulai berlaku per 15 April 2026.
"Jadi kenaikannya dari 5 sampai 10 persen. Kita gak bisa adjust di atas itu," kata dia.
Sebagai gantinya, Richard melakukan efisiensi di sisi produksinya. Contohnya adalah penggunaan kemasan alternatif dengan model baru.
"Yang kemarin yang ada satu keping dikemas langsung satu kemasan sekarang jadi dua keping satu kemasan. Itu akan cari alternatif seperti itu," kata dia.