Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Daftar Produk RI Berpotensi Diuntungkan di Tengah Konflik Timur Tengah

Daftar Produk RI Berpotensi Diuntungkan di Tengah Konflik Timur Tengah
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
Intinya Sih

  • Konflik Timur Tengah mengganggu rantai pasokan global, namun membuka peluang bagi Indonesia sebagai eksportir komoditas strategis seperti CPO, batu bara, dan produk pangan olahan.
  • Ekspor CPO Indonesia naik signifikan hingga 26,4 persen pada awal 2026, didorong peningkatan permintaan dari negara Asia Selatan meski biaya logistik dan produksi ikut melonjak.
  • Batu bara dan produk pangan olahan berpotensi meningkat permintaannya, sementara kerja sama ekonomi RI–UEA melalui IUAE-CEPA memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok alternatif di sektor halal dan manufaktur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Konflik di Timur Tengah yang kian memanas telah menimbulkan gangguan pada rantai pasokan global, di mana sektor energi, logistik, dan berbagai komoditas terkena imbas secara bersamaan. Namun, di tengah situasi tersebut, beberapa produk Indonesia berpotensi diuntungkan.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, dalam situasi seperti ini, Indonesia berada di posisi yang cukup unik. Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik, namun Indonesia merupakan eksportir komoditas strategis yang dibutuhkan ketika pasokan dari kawasan Timur Tengah terganggu.

Menurutnya, ada beberapa produk Indonesia yang berpotensi diuntungkan dari konflik yang terjadi di Timur Tengah.

"Tapi saya perlu tekankan satu hal, semua ini adalah peluang, bukan jaminan. Indonesia memang bisa menikmati keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga dan permintaan, tetapi tanpa kesiapan industri dan perbaikan logistik, manfaatnya bisa tidak maksimal," kata dia kepada IDN Times, Rabu (8/4/2026).

"Di saat yang sama, kita juga menghadapi risiko kenaikan beban fiskal karena subsidi energi dan meningkatnya biaya produksi dalam negeri," imbuhnya.

Berikut beberapa produk yang berpotensi diuntungkan di tengah konflik Timur Tengah:

1. Minyak sawit mentah (CPO)

ilustrasi minyak sawit
ilustrasi minyak sawit (pixabay.com/neufal54)

Menurut Yusuf, yang paling cepat terlihat adalah minyak sawit atau crude palm oil (CPO). Dia menjelaskan, ketika pasokan minyak nabati global terganggu, baik dari kawasan Timur Tengah maupun yang belum sepenuhnya pulih dari Laut Hitam, negara-negara importir besar seperti India, Pakistan, dan Bangladesh berpotensi meningkatkan permintaan ke Indonesia.

"Pola ini sudah berulang dalam beberapa tahun terakhir, jadi bisa dibilang Indonesia berperan sebagai penyangga pasokan global dalam kondisi krisis," ujarnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai ekspor CPO dan turunannya sepanjang Januari-Februari 2026 tercatat mencapai 4,69 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut meningkat 26,4 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya senilai 3,71 miliar dolar AS.

Adapun volume ekspor CPO juga meningkat dari 3,33 juta ton pada Januari-Februari 2025 menjadi 4,54 juta ton pada periode yang sama 2026. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga referensi (HR) minyak kelapa sawit mentah periode April 2026 sebesar 989,63 dolar AS per metrik ton (MT), naik 5,41 persen dibanding Maret di harga 938,87 per MT.

Namun demikian, kondisi ini juga memberikan tantangan bagi pengusaha CPO. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono mengatakan, meski harga CPO mengalami kenaikan imbas perang di Timur Tengah, namun dibarengi biaya lain yang meningkat.

"Biaya angkutan dan asuransi naik sampai 50 persen, pupuk juga naik. Jadi walaupun harga naik, tetapi biaya juga naik," kata Eddy saat dihubungi IDN Times, Selasa (7/4).

2. Batu bara termal

ilustrasi industtri batu bara
ilustrasi industri batu bara (pexels.com/Braeson Holland)

Selain CPO, Yusuf menilai, batu bara termal juga berpotensi menjadi produk Indonesia yang diuntungkan dalam situasi saat ini. Batu bara thermal digunakan untuk menghasilkan panas di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

"Memang ini terdengar kontradiktif di tengah isu transisi energi, tetapi dalam jangka pendek banyak negara tetap akan mencari sumber energi yang paling cepat dan murah. Ketika harga gas naik akibat ketidakpastian geopolitik, batu bara kembali dilirik sebagai substitusi," tuturnya.

Dia menjelaskan, Indonesia punya keunggulan karena merupakan salah satu eksportir terbesar di dunia, sehingga berpotensi menikmati kenaikan permintaan dan harga. Adapun negara tujuan ekspor terbesar Indonesia selama ini, yakni India dan China.

Deputy Executive Director Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Gita Mahyarani mengatakan, dampak konflik di Timur Tengah menyebabkan harga batu bara naik. Selain itu, permintaan batu bara sebagai energi alternatif juga naik, meski tidak signifikan.

Saat ini, menurut dia, pasar hanya melakukan penyesuaian bertahap, meski permintaan dari Filipina, Korea Selatan, dan Thailand menunjukkan sedikit peningkatan. Mengenai performa ekspor nasional, APBI mencatat realisasi sepanjang Januari hingga Maret 2026 belum mencapai ekspektasi, justru cenderung mengalami penurunan.

"Artinya, meskipun secara global ada peluang dari sisi harga dan potensi peningkatan permintaan, kondisi tersebut belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan oleh Indonesia," ujar Gita kepada IDN Times.

Selain itu, lonjakan harga minyak dunia berdampak pada membengkaknya biaya operasional. Komponen biaya seperti bahan bakar diesel, logistik, dan pengapalan mengalami kenaikan yang langsung menekan margin keuntungan.

3. Produk pangan dan rempah-rempah

Berbagai jenis varian kopi arabika Gayo di Galeri Kopi Indonesia, Kota Takengon, Aceh (IDN Times/Saifullah)
Berbagai jenis varian kopi arabika Gayo di Galeri Kopi Indonesia, Kota Takengon, Aceh (IDN Times/Saifullah)

Potensi lainnya datang dari produk pangan olahan dan rempah-rempah yang sering luput dari perhatian. Menurut Yusuf, negara-negara Teluk sangat bergantung pada impor pangan, dan ketika jalur distribusi dari Eropa atau Amerika menjadi lebih mahal atau terganggu, mereka akan mencari alternatif pemasok yang lebih stabil.

"Indonesia sebenarnya punya kapasitas di sektor ini, mulai dari mi instan, kopi, kakao, sampai bumbu olahan," ucapnya.

Data BPS mencatat kinerja ekspor Indonesia ke Iran mencapai 18,5 juta dolar AS pada Januari 2026. Sektor bahan pangan menjadi kontribusi signifikan terhadap ekspor Indonesia ke negara tersebut.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan, komoditas buah-buahan penyumbang terbesar ekspor Indonesia ke Iran, dengan nilai mencapai 9,1 juta dolar AS.

4. Kerja sama Indonesia-PEA tetap kuat

ilustrasi kota Dubai (unsplash.com/Aldo Loya)
ilustrasi kota Dubai (unsplash.com/Aldo Loya)

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (UEA), Judha Nugraha mengatakan, di tengah eskalasi kawasan, kerja sama ekonomi Indonesia–PEA tetap kuat dan stabil, didukung implementasi Indonesia–United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA).

Nilai perdagangan bilateral RI-PEA mencapai 6,4 miliar dolar AS sepanjang 2021–2025 atau tumbuh 9,81 persen, yang terus menunjukkan tren positif.

"Dari sisi komoditas, ekspor Indonesia ke PEA didominasi, antara lain perhiasan/permata, lemak dan minyak nabati, serta mesin dan kendaraan, sementara impor dari PEA mencakup aluminium, produk petrokimia (plastik), serta bahan industri lainnya," ujar Juda kepada IDN Times.

Menurut Juda, terbuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran sebagai alternatif pemasok, khususnya di sektor pangan, manufaktur, dan produk halal.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More