Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Danantara Beri Lampu Hijau, Rencana Impor KRL dari Jepang

3 min read
Danantara Beri Lampu Hijau, Rencana Impor KRL dari Jepang
instagram.com/@commuterline
  • Danantara mendukung penjajakan impor KRL dari Jepang jika diperlukan untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik dan mempercepat penguatan layanan kereta.
  • Penambahan armada KRL dinilai dapat mengurangi polusi dan konsumsi bahan bakar, sekaligus mendorong pusat pertumbuhan ekonomi baru.
  • Keputusan impor KRL bekas belum final; pemerintah akan membahas kebutuhan KAI, keterbatasan produksi INKA, serta perlindungan industri dalam negeri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memberikan lampu hijau terhadap rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengimpor kereta rel listrik (KRL) dari Jepang.

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan, pihaknya mendukung rencana tersebut selama impor KRL memang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik.

"Apa yang sedang dijajaki oleh KAI, kami mendukung selama itu yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pada dasarnya tentu kita mendukung apapun yang dibutuhkan dalam langkah percepatan transportasi kita," ujar Dony di Hotel Kempinski Jakarta, Rabu (8/10/2026).

  1. 1. Penguatan transportasi publik melalui penambahan armada

    Penumpang Commuterline Yogya-Solo. (Dok. Istimewa)
    Penumpang Commuterline Yogya-Solo. (Dok. Istimewa)

    Menurut Dony, penguatan transportasi publik, termasuk melalui penambahan armada KRL, dapat memberikan sejumlah dampak positif bagi perekonomian dan lingkungan. Di antaranya mengurangi polusi, menekan konsumsi bahan bakar, hingga mendorong munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

    "Karena memang kereta api menjadi salah satu transportasi publik yang diharapkan oleh pemerintah itu bisa menurunkan banyak hal," katanya.

  2. 2. Danantara akan bertemu dengan Direktur Utama KAI

    Sejumlah warga bersiap memasuki gerbong KRL Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (11/9/2024). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
    Sejumlah warga bersiap memasuki gerbong KRL Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (11/9/2024). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

    Dony menambahkan, Danantara akan membahas lebih lanjut kebutuhan KAI terkait penambahan armada tersebut. Ia dijadwalkan bertemu dengan Direktur Utama KAI (Bobby Rasyidi) pada pekan depan. Pertemuan tersebut akan membahas jumlah KRL yang dibutuhkan KAI untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

    "Tinggal nanti kita bisa dengan Dirut KAI berapa banyak yang dibutuhkan oleh KAI untuk memenuhi kebutuhan daripada masyarakat kita," jelas Dony.

  3. 3. Beluma ada keputusan final soal impor kereta

    Sejumlah warga bersiap memasuki gerbong KRL Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (11/9/2024). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
    Sejumlah warga bersiap memasuki gerbong KRL Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (11/9/2024). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

    Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, mengatakan, pemerintah belum menetapkan keputusan final mengenai rencana impor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang.

    Impor itu rencananya akan dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk memenuhi kebutuhan armada KRL Commuter Line yang dioperasikan KAI Commuter (KCI).

    Dudy mengatakan, rencana itu masih harus dibahas oleh Badan Pengaturan (BP) BUMN, Kementerian Perdagangan (Kemendag), dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

    “Kami juga perlu bicara dengan BUMN kebijakan yang tepat seperti apa, kami dari Kementerian Perhubungan itu menyiapkan hal yang terkait dengan teknis, berkaitan dengan pengadaan KRL-nya,” kata Dudy dikutip Minggu, (4/10/2026).

    Dudy mengatakan, impor KRL bekas belum dapat dipastikan karena mempertimbangkan perlindungan industri dalam negeri. Adapun impor barang bukan baru membutuhkan penanganan khusus.

    Di sisi lain, kapasitas produksi KRL di PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA masih terbatas. Sedangkan, jumlah pengguna KRL Commuter Line terus bertambah.

    “Secara bijak harus kita ingin kita harus juga melindungi industri dalam negeri kita. Tapi kita juga harus memenuhi kebutuhan, ini kita harus duduk, harus ada jalan tengahnya dan kami tidak mungkin kemudian harus memaksakan apakah ini impor atau ini harus dipenuhi oleh industri dalam negeri dengan segala keterbatasannya,” ujar Dudy.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More